A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Bercocok tanam secara vertikultur sedikit berbeda dengan bercocok tanam di kebun atau di ladang. Vertikultur diartikan sebagai teknik budidaya tanaman secara vertikal sehingga penanamannya dilakukan dengan menggunakan sistem bertingkat dan tidak membutuhkan lahan yang banyak.
Sistem vertikultur memiliki beberapa kelebihan dibandingkan sistem budidaya biasa. Kelebihan-kelebihan tersebut antara lain kualitas produk lebih baik dan lebih bersih; kuantitas produksi lebih tinggi dan kontinuitas produk terjaga; efisiensi lahan, pupuk, air, benih dan tenaga kerja; menjadi lahan bisnis, baik langsung ataupun tidak langsung; mempercantik halaman dan berfungsi sebagai paur-paru kota dan sebagainya (harmanto, 2000).
Saat ini kebutuhan akan lahan pertanian semakin sempit terutama di kota-kota besar. Sedangkan jumlah penduduk yang semakin meningkat dari tahun ke tahun membuat kebutuhkan akan pangan semakin meningkat. Terdorong oleh keadaan yang demikian, maka banyak orang melakukan budidaya tanaman dengan sistem vertikultur.
Praktikum ini dilakukan agar mahasiswa dapat meningkatkan ketrampilan dalam bidang pertanian terutama vertikultur. Diharapkan mahasiswa mampu menerapkan vertikultur sebagai hasil dari pembelajaran mata kuliah teknih hidroponik ini.
Dalam sistem vertikultur, jenis komoditas dan bentuk bangunan sangat penting untuk dipertimbangkan mengingat morfologi dan letak tanaman nantinya akan ditempatkan. Model bangunan tersebut harus sesuai dengan komoditas tanaman yang dibudidayakan karena penempatan tanaman yang salah pada bangunan vertikultur akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman tersebut. Oleh karena itu, model bangunan dan penempatan tanaman harus dibuat sedemikian rupa agar mendukung pertumbuhan tanaman yang dibudidayakan.
2. Tujuan
Mahasiswa mampu dan terampil dalam membudidayakan tanaman secara vertikultur.
B. TINJAUAN PUSTAKA
Kesuburan tanah dapat ditingkatkan melalui tindakan pemupukan. Untuk memperoleh hasil yang tinggi dan tetap memperhatikan kaidah konservasi dalam penggunaan pupuk perlu memperhatikan beberapa hal, yaitu pemberian pupuk dengan jenis dan jumlah yang benar, pemilihan sumber pupuk yang benar untuk memasok hara yang diperlukan dan pemberian pada saat dan cara yang tepat. Pemberian pupuk organik berarti menambah kandungan bahan organik sehingga pengaruhnya terhadap sifat fisik, kimia, dan hayati media juga meningkat. Sumber bahan organik yang saat ini cukup potensial dijadikan sebagai pupuk organik adalah limbah ternak (pupuk kandang) (Agustono et al., 2005).
Kata vertikultur diambil dari bahasa Inggris, verticulture yang merupakan penggabungan dua kata, vertical dan culture. Pengertiannya adalah suatu cara pertanian yang dilakukan dengan sistem bertingkat. Mengolah tanah dalam sistem ini tidak jauh berbeda dengan menanam pohon seperti di sebuah kebun atau sawah. Namun ada kelebihan yang diperoleh, yaitu dengan lahan yang minimal mampu menghasilkan hasil yang maksimal (Anonim, 2010).
Ketersediaan unsur hara yang cukup memungkinkan proses fotosintesa optimum dan asimilat yang dihasilkan dapat digunakan sebagai cadangan makanan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, karena cadangan makanan di dalam jaringan lebih banyak akan memungkinkan terbentuknya daun banyak pula (Pramono, 2002).
Salah satu hal yang perlu diperhatikan bahwa unsur mikro diperlukan dalam jumlah yang sedikit sesuai kebutuhannya. Oleh karena itu penggunaan pupuk perlu mempertimbangkan patokan-patokannya sehingga dapat digunakan oleh tanaman secara efisien. Salah satu sifat umum unsur mikro adalah penyerapannya harus sesuai dengan kebutuhan dan apabila berlebihan dapat merusak perkembangan tanaman (Sutapradja, 1996).
Kekurangan sistem vertikultur antara lain rawan terhadap serangan jamur, sehingga pemantauan kondisi pertanaman harus sering dilakukan. Populasi tanaman yang tinggi menyebabkan kelembaban udara tinggi, sehingga memungkinkan serangan penyakit mudah menyebar. Penyiraman harus dilakukan secara kontinyu meskipun hujan, terutama bila tanaman ditanam pada sistem bangunan beratap (Haryanto et al., 1995).
C. METODE PRAKTIKUM
1. Waktu Pelaksanaan Praktikum
Pada Praktikum hidroponik system DFT dilaksanakan pada tanggal 17 November 2010 di Rumah Kaca B Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Alat dan Bahan
1. Bangunan Vertikultur
2. Media Tanam
3. Nutrisi
4. Bibit Tanaman
3. Cara Kerja
(Untuk 3 kelompok perkelas).
1. Mempersiapkan bangunan vertikultur
2. Mengisi kolom dengan media
3. Mempersiapkan nutrisi
4. Menanam bibit
5. Memelihara
6. Pengamatan pertumbuhan.
D. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Pengamatan
Tabel 2.3 Vertikultur Tanaman Sawi
Tanggal Sampel Tinggi Banyak Daun
24/11. 10 1a 5 2
1b 5 2
2a 3,8 2
2b 5,7 2
3a 4,4 2
3b 7,6 2
4a 6 2
4b 4,8 2
5a 6,5 2
5b 5,1 2
6a 6 2
6b 5,7 2
7a 5,3 2
7b 4,9 2
8a 4,6 2
8b 5,9 2
9a 4,0 2
9b 6,1 2
10a 5,3 2
10b 0,6 2
Sumber : Laporan Sementara
Tabel 2.4 Vertikultur Tanaman Kangkung
Tanggal Sampel Tinggi
24/11. 10 1 0,5
2 8
3 10
4 6,5
5 3,2
6 6,6
7 1,4
8 1,3
9 3,4
10 2,4
11 9,6
12 0,6
13 6,8
14 6,2
15 6,8
Sumber : Laporan Sementara
Tabel 2.5 Vertikultur Tanaman Kangkung
Tanggal Sampel Tinggi Banyak Daun Muncul Tunas
1/12. 10 1 1,6 3 V
2 Mati 0 -
3 5,3 4 V
4 Mati 0 -
5 3,3 3 V
6 5,7 4 V
7 2 0 V
8 5 4 V
9 3,5 5 V
10 5,5 3 V
11 9,9 5 V
12 Mati 0 -
13 6,4 4 V
14 10,6 5 V
15 9,5 4 V
Sumber : Laporan Sementara
Tabel 2.6 Vertikultur Tanaman Sawi
Tanggal Sampel Tinggi Banyak Daun
1/12. 10 1a 6,8 4
1b Mati 4
2a 3,3 4
2b 4 4
3a 4,5 4
3b 2,5 3
4a - 3
4b 4,2 3
5a 3,7 4
5b 6 4
6a 5,9 4
6b 4,7 4
7a 3,4 3
7b 3,4 3
8a 3,8 4
8b 4,3 3
9a 4 5
9b Mati 5
10a 6,1 5
10b 5 4
Sumber : Laporan Sementara
Tabel 2.7 Vertikultur Tanaman Kangkung
Tanggal Sampel Tinggi Banyak Daun
8/12. 10 1 4,8 6
2 Mati 0
3 6,2 5
4 Mati 0
5 2 2
6 8 4
7 2 0
8 10,7 6
9 9,5 5
10 8,7 5
11 12,5 4
12 Mati 0
13 Mati -
14 20,5 5
15 17,8 7
Sumber : Laporan Sementara
Tabel 2.8 Vertikultur Tanaman Sawi
Tanggal Sampel Tinggi Banyak Daun
1/12. 10 1a 6 4
1b 3,3 5
2a 4 3
2b 3,5 3
3a 3,2 5
3b 2 4
4a 5 4
4b 5 4
5a 6,5 5
5b 3 4
6a 5,5 5
6b 2,5 4
7a 4 3
7b 4,1 4
8a 4 4
8b 4,2 3
9a 1,5 4
9b 4,7 4
10a 3,5 5
10b 4 4
Sumber : Laporan Sementara
2. Pembahasan
Vertikultur diambil dari istilah verticulture dalam bahasa Inggris. Istilah ini berasal dari dua kata, yaitu vertical dan culture. Di bidang pertanian, pengertian vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat. Suatu teknik atau cara budidaya tanaman semusim (khusunya sayuran) pada lahan terbatas yang diatur secara bersusun menggunakan bangunan/tempat khusus atau model wadah tertentu dengan menerapkan paket teknologi maju, serta komoditas yang diusahakan bernilai ekonomi tinggi. Dalam pelaksanaannya praktikum ini untuk pengairan dan pemberian nutrisi diberikan dalam bentuk pengairan tetes. Hal ini dimaksudkan untuk efisiensi waktu, dan untuk deras tidak aliran dapat diatur sehingga dapat diperhitungkan kapan waktu untuk mengisinya kembali.
Vertikultur merupakan salah satu cara budidaya yang efektif untuk dilaksanakan di daerah yang tidak memiliki lahan luas, seperti di perkotaan. Budidaya secara vertikultur tanaman ditanam pada wadah yang disusun secara bertingkat sehingga pada lahan yang sempit dapat memperoleh hasil yang cukup banyak. Budidaya secara vertikultur juga menghematan penggunaan pupuk dan air.
Pada hasil pengamatan vertkultur tanaman kangkung dan sawi. Pada pengamatan pertama pertumbuhan sangat baik. Tetapi pada pengamatan minggu ke-3 ada 3 sampel mati hal ini dikarenakan nutrisi yang beredar kandungan nutrisinya sudah semakin rendahh sehingga banyak tanaman yang akhirya mati. Pada minggu ke 3 sudah muncul tunas tetapi ada sebagian yang belum muncul pada tanaman kangkung. Pada tanaman sawi pertumbuhan juga baik dari hari kehari mengalami pertambahan tinggi dan jumlah daun.
E. Kesimpulan dan saran
1. Kesimpulan
a. Vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat. Suatu teknik atau cara budidaya tanaman semusim (khusunya sayuran) pada lahan terbatas yang diatur secara bersusun menggunakan bangunan/tempat khusus atau model wadah tertentu dengan menerapkan paket teknologi maju, serta komoditas yang diusahakan bernilai ekonomi tinggi
b. Vertikultur merupakan salah satu cara budidaya yang efektif untuk dilaksanakan di daerah yang tidak memiliki lahan luas, seperti di perkotaan.
c. Pada hasil pengamatan vertkultur tanaman kangkung dan sawi. Pada pengamatan pertama pertumbuhan sangat baik. Tetapi pada pengamatan minggu ke-3 ada 3 sampel mati hal ini dikarenakan nutrisi yang beredar kandungan nutrisinya sudah semakin rendahh sehingga banyak tanaman yang akhirya mati.
2. Saran
Sebaiknya mahasiswa di libatkan dalam membuat rancang bangun dan cara membuat aliran nutrisi. Jangan cuma menanam.
DAFTAR PUSTAKA
Agustono, Rohadi, dan Hendrawan. 2005. Pertumbuhan dan Hasil Cabai Merah (Capsicum annum) pada Beberapa Jenis Pupuk Organik dan Anorganik. J. Penelitian dan Informasi Pertanian “Agrin” 9 (1) April 2005.
Anonim. 20010. OPINI: Solusi Bertanam di Ruang Sempit dan Padat. http://www.studiolanskap.or.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=22. Diakses pada 2 Januari 2009
Haryanto, E., T. Suhartini, E. Rahayu, dan H. Sunarjono. 1995. Sawi dan Selada. Penebar Swadaya. Jakarta.
Pramono, H. 2002. Pemupukan Casting Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Varietas Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) di Tanah Regosol. Jurnal Panel Agronomika 2 (1): 51 – 62.
Sutapradja, H. 1996. Kaitan Antara Pemberian Cu dan dosis K, Mg, Serta Ca Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah. Jurnal Hortikultura 5 (5): 39–44.
saya seorang mahasiswa pertanian yang ingin mengembangkan pertanian dan mengubah dunia ,membahagiakan orang tua,,dan besuk mempunyai keluarga yang baik doakan ...Salam pertanaian Petani Jaya bangsa Berjaya
Selamat datang di blok pertanian semoga bermanfaat buat petani...
Salam Pertanian
Petani Sejahtera Bangsa Berjaya
Salam Pertanian
Petani Sejahtera Bangsa Berjaya
Senin, 03 Januari 2011
UJI BERBAGAI JENIS SUBSTRAT TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Ada dua macam sistem hidroponik. Pertama, hidroponik dengan mempergunakan media non tanah seperti; pasir, arang sekam, zeolit, rockwoll, gambut, sabut kelapa, dan lain sebagainya. Dan yang kedua adalah hidroponik dengan hanya mempergunakan air yang mengandung nutrien atau pupuk yang bersirkulasi sebagai media, akar tanaman terendam sebagian dalam air tersebut sedalam lebih kurang 3 mm (mirip film), sistem ini disebut dengan NFT ( Nutrien Film Technical).
Elemen dasar yang dibutuhkan tanaman sebenarnya bukanlah tanah, tapi cadangan makanan serta air yang terkandung dalam tanah yang terserap akar dan juga dukungan yang diberikan tanah dan pertumbuhan. Dengan mengetahui ini semua, di mana akar tanaman yang tumbuh di atas tanah menyerap air dan zat-zat vital dari dalam tanah, yang berarti tanpa tanah pun, suatu tanaman dapat tumbuh asalkan diberikan cukup air dan garam-garam zat makanan
Hidroponik sama artinya dengan menyediakan dan mengalirkan larutan mineral sebagai unsur makanan bagi tanaman, dalam mengalirkan unsur makanan tersebut harus diperhayikan kepekatan larutan dan derajat keasamannya. Hidroponik dapat menggunakan media-media tanam selain tanah seperti kerikil, pasir, sabut kelapa, zat silikat, pecahan batu karang atau batu bata, potongan kayu, dan busa. Semua ini dimungkinkan dengan adanya hubungan yang baik antara tanaman dengan tempat pertumbuhannya.
Dalam hidroponik, media tanam bukanlah sesuatu yang sangat penting. Dalam hidroponik, media tanam hanya digunakan sebagai media tumbuh tanaman dan tempat berkembangnya akar tanaman, bukan sebagai sumber nutrisi. Nutrisi dipenuhi dari luar, yaitu dengan menambahi pupuk dari luar. Walaupun demikian media tanam juga memegang peranan dalam budidaya hidroponik. Jika media yang digunakan tidak baik dan tidak cocok, maka tanaman tidak akan tumbuh dengan optimal, yang akhirnya akan mengganggu pertumbuhan dan hasil tanaman. Dengan demikian perlu adanya pengkajian mengenai media tanam yang paling baik untuk budidaya secara hidroponik.
2. Tujuan
Mahasiswa mengetahui dan memahami peran berbagai jenis substrat pada pertumbuhan tanaman dalam hidroponik system substrat.
B. TINJAUAN PUSTAKA
Dosis pengunaan unsur makro dan unsur mikro masih belum konsisten. Untuk itu penelitian lebih lanjut perlu dilakuan termasuk pemberian K, Mg, dan Ca. Salah satu hal yang perlu diperhatikan bahwa unsur mikro diperlukan dalam jumlah yang sedikit sesuai kebutuhannya. Oleh karena itu penggunaan pupuk perlu mempertimbangkan patokan-patokannya sehingga dapat digunakan oleh tanaman secara efisien. Salah satu sifat umum unsur mikro adalah penyerapannya harus sesuai dengan kebutuhan dan apabila berlebihan dapat merusak perkembangan tanaman (Sutapradja, 1996).
Pengembangan budidaya selada/sayuran secara hidroponik memiliki prospek yang cerah di Indonesia, meskipun pada kenyataannya petani kita masih jarang yang melakukannya. Kebutuhan dalam negeri menuntut untuk dipenuhi bahkan permintaan ekspor pun semakin meningkat. Sayuran ini, terutama selada daun banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Saat ini penggunaan pupuk organik cair dalam budidaya hidroponik juga semakin meningkat. Hal ini karena pupuk organik cair dapat dipakai sebagai pengganti larutan hara dengan harga yang lebih murah (Pujiasmanto, 2001).
Pemberian hara dapat dicapai melalui dua cara: sistem terbuka dan sistem tertutup. Sistem terbuka dapat digunakan dengan media pasir kuarsa dan jauh lebih sederhana. Pasir diairi dua atau tiga kali sehari hingga kelebihan air tepat mulai mengalir dari lubang-lubang pengatusan, dan pupuk majemuk ditambahkan setiap minggu. Sistem terbuka dapat juga dilaksanakan di daerah pasir kuarsa tanpa menggunakan palung atau wadah. Sistem tertutup pada dasarnya adalah sama, kecuali bahwa larutan hara dikumpulkan dalam suatu tempat dan diedarkan kembali. Ini mensyaratkan bahwa konsentrasi berbagai unsur hara tanaman ditambah pada interval yang teratur (biasanya setiap minggu) dan karenanya diperlukan analisis dari larutan yang mengalir keluar, yang umumnya di luar jangkauan petani rata-rata, namun untuk usaha besar-besaran, dianjurkan sistem tertutup (Williams et al., 1993).
Pengembangan budidaya selada/sayuran secara hidroponik memiliki prospek yang cerah di Indonesia, meskipun pada kenyataannya petani kita masih jarang yang melakukannya. Kebutuhan dalam negeri menuntut untuk dipenuhi bahkan permintaan ekspor pun semakin meningkat. Sayuran ini, terutama selada daun banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Saat ini penggunaan pupuk organik cair dalam budidaya hidroponik juga semakin meningkat. Hal ini karena pupuk organik cair dapat dipakai sebagai pengganti larutan hara dengan harga yang lebih murah (Pujiasmanto, 2001).
Pasir sering digunakan sebagai media tanam selain tanah karena sifatnya yang porous dan steril. Campuran media tanam yang menggunakan pasir, maka pasir harus diayak terlebih dahulu sehingga tidak mengandung batu kerikil. Kelebihannya murah dan mudah didapat, sedangkan kekuranganya kemampuan menahan air rendah dan berat (Haryanto et al., 2003).
Abu sekam mempunyai sifat sangat sulit melepas air sehingga daerah perakaran lembab. Dengan keadaan tersebut, untuk waktu yang lama akan menggangu penyerapan air dan unsur hara yang akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak optimal. Dengan demikian akan mengakibatkan berat tajuk yang dihasilkan rendah (Bahar dan Widyastuti, 1994).
C. METODE PRAKTIKUM
1. Waktu Pelaksanaan Praktikum
Pada Praktikum hidroponik system DFT dilaksanakan pada tanggal 17 November 2010 di Rumah Kaca B Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Alat dan Bahan
1. Jenis Substrat : arang sekam, pasir malang, pakis
2. Pot polybag diameter 15 cm.
3. Nutrisi yang di gunakan AB mix
4. Bibit tanaman cabai, tomat, timun
3. Cara Kerja
Tiap kelompok menggunakan 1 jenis substrat dan satu jemis komoditas.
1. Menyiapkan polybag untuk hidroponik
2. Mengisi polybag dengan substrat
3. Penanaman
4. Pemeliharaan tanaman
5. Pengamatan pertumbuhan tanaman.
D. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Pengamatan
Denah lokasi B
Tc Ts1 Tp2 Cs1 Cp1
Cs2 Ts2 Tp2 Cs2 Cp2
Sumber : Laporan Sementara
Ket :
Tc : Terong campur Tp2 : terong pakis 2
C2 : Cabai campur Cs1 : Cabai pakis 1
Ts1 : Terong pasir 1 Cs2 : Cabai pakis 2
Ts2 : Terong pasir 2 Cp1 : Cabai pasir 1
Tp1 : Terong pakis 1 Cp2 : Cabai pasir 2
Tabel 2.2 Hasil Pengamatan Uji Berbagai Substrat
Tanggal Sampel Tinggi (cm) Jumlah Daun Sulaman
29/10. 10 Cabai pasir 1
Cabai pasir 2 16 7
17,8 7
Cabai pakis 1
Cabai Pakis 2 15,7 6
15 7
Terong pasir 1
Terong pasir 2 7 1
3,8 4
Terong pakis 1
Terong pakis 2 4 6
4 4
Terong Campur 5 4
Cabai Campur 16,4 5
3/11. 10 Cabai pasir 1
Cabai pasir 2 16,5 7
10,5 8
Cabai pakis 1
Cabai Pakis 2 Mati - T = 18 D=4
Mati - T = 10,5 D = 3
Terong pasir 1
Terong pasir 2 Mati - T = 14,4 D = 4
5 2
Terong pakis 1
Terong pakis 2 5 2
Mati - T = 18 D = 4
Terong Campur 5,5 3
Cabai Campur Mati - T = 11 D = 3
10/11. 10 Cabai pasir 1
Cabai pasir 2 18 9
23,5 18
Timun pakis 1
Timun pakis 2 13 6
26 6
Terong pakis 1
Terong pakis 2 6 3
31,5 9
Timun pasir 1
Timun pasir 2 32,5 7
8 4
Terong Campur 7,5 4
Timun Campur 18,5 4
10/11. 10 Cabai pasir 1
Cabai pasir 2 32 9
31 19
Timun pakis 1
Timun pakis 2 52 11
44 9
Terong pakis 1
Terong pakis 2 12 4
91 13
Timun pasir 1
Timun pasir 2 89 12
Mati -
Terong Campur 11 3
Timun Campur 34 9
Sumber : Laporan Sementara
2. Pembahasan
Media tanam digunakan sebagai tempat tumbuh berdirinya tanaman. Kebanyakan media tanam yang dibutuhkan tanaman adalah media tanam yang ringan dan porous.. Dari masing-masing jenis media tanam mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Oleh karena itu perlu diketahui media tanam yang paling sesuai untuk pertumbuhan tanaman sehingga memberikan hasil yang optimal.
Sistem hidroponik substrat merupakan metode budidaya tanaman dimana akar tanaman tumbuh pada media porus selain tanah yang dialiri larutan nutrisi sehingga memungkinkan tanaman memperoleh air, nutrisi, dan oksigen secara cukup. Kelebihan hidroponik jenis ini :dapat menyerap dan menghantarkan air , tidak mempengaruhi pH air, tidak berubah warna ,tidak mudah lapuk
Kelembaban sangat dipengaruhi oleh suhu. Kelembaban di sini akan berpengaruh terhadap proses-proses yang berlangsung di dalam pertumbuhan tanaman. Untuk itu, dalam hidroponik substrat harus diketahui apakah kelembaban yang terbentuk telah sesuai dengan syarat tumbuh tanaman, bila belum hendaknya perlu ditambahkan peralatan-peralatan yang mendukung kestabilan kelembaban.
Pada budidaya hidroponik system substrat dengan berbagai perpaduan antara lain pasir, pakis , campuran pakis dan pasir, pasir malang. Sehingga di dapatkan sampel terong campur, cabai campur, terong pasir, terong pakis, cabai pakis, cabai pasir.
Pada pengamatan hari terakhir cabai pasir 1 tingginya 32 dengan jumlah daun 31, cabai pasir tingginya 31 dengan jumlah daun 31, Timun pakis 1 tingginya 52 dengan jumlah daun 11, timun pakis 2 tingginya 12 dengan jumlah daun 91, timun pasir 1 tingginya 89 dengan jumlah daun 12, terong pasir dua mati karena terlambat menyirami, terong campur 1 tingginya 11dengan jumlah daun 5, Terong campur2 tingginya 34 dengan jumlah daun 9.
Untuk yang mati cabai dengan terong diganti dengan tanaman timun, cabai dengan terong mati ada berbagai sebab karena konsentrasi nutrisi yang kurang tepat. Serta substrat tanaman yang tidak cocok untuk perakaran tanaman. Serta keterlambatan dalam penyiraman sehingga tanaman tidak sempat di selamatkan.
Untuk media substat yang baik merupakan media campuran antara pasir dengan pakis hal ini disebakan disisi lain akar dapat mendapat pegangan dari pasir serta pakis sebagai penyedia rongga udara dan penyimpanan air sehingga kebutuhan air terpenuhi dibandingkan dengan media pasir yang air cepat hilang.
Yang sangat perlu diperhatikan dalam hidroponik substrat adalah sistem sirkulasi udara. Hal ini diperlukan perhatian khusus karena pada saat budidaya tanaman berlangsung, akan terjadi peningkatan suhu, sehingga diperlukan pula sistem sirkulasi udara yang sesuai.
E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
a. Sistem hidroponik substrat merupakan metode budidaya tanaman dimana akar tanaman tumbuh pada media porus selain tanah yang dialiri larutan nutrisi sehingga memungkinkan tanaman memperoleh air, nutrisi, dan oksigen secara cukup.
b. Pada pengamatan hari terakhir cabai pasir 1 tingginya 32 dengan jumlah daun 31, cabai pasir tingginya 31 dengan jumlah daun 31, Timun pakis 1 tingginya 52 dengan jumlah daun 11, timun pakis 2 tingginya 12 dengan jumlah daun 91, timun pasir 1 tingginya 89 dengan jumlah daun 12, terong pasir dua mati karena terlambat menyirami, terong campur 1 tingginya 11dengan jumlah daun 5, Terong campur2 tingginya 34 dengan jumlah daun 9.
c. Untuk yang mati cabai dengan terong diganti dengan tanaman timun, cabai dengan terong mati ada berbagai sebab karena konsentrasi nutrisi yang kurang tepat. Serta substrat tanaman yang tidak cocok untuk perakaran tanaman. Serta keterlambatan dalam penyiraman sehingga tanaman tidak sempat di selamatkan.
d. Untuk media substat yang baik merupakan media campuran antara pasir dengan pakis hal ini disebakan disisi lain akar dapat mendapat pegangan dari pasir serta pakis sebagai penyedia rongga udara dan penyimpanan air sehingga kebutuhan air terpenuhi dibandingkan dengan media pasir yang air cepat hilang.
2. Saran
Semoga Praktikum yang kan datang lebih baik lagi. Subsrat yang digunakan lebih bergam lagi. Seperti batu, pecahan kaca dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Pujiasmanto, Bambang. 2001. Pengaruh media dan konsentrasi pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada (Lactuca sativa L) secara hidroponik in Agrosains Jurnal Penelitian Agronomi Vol 3 No. 2 Juli-Desember :65-70.
Sutapradja, H. Kaitan antara pemberian Cu dan dosis K, Mg, serta Ca terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah in Jurnal Hortikultura Vol 5 No. 5:39-44.
Williams, C. N., J. O. Uzo dan W. T. H. Peregrine. 1993. Produksi Sayuran di Daerah Tropika. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Bahar, S. A. dan D. Widyastuti. 1994. Pengaruh Kematangan Sabut Kelapa Sebagai Medium Terhadap Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Anggrek CV Anand Berthabrata. J. Hort. 4 (1) : 77 – 80.
Haryanto, E., T. Suhartini, E. Rahayu, dan H. Sunarjono. 2003. Sawi dan Selada (Edisi Revisi). Penebar Swadaya. Jakarta.
1. Latar Belakang
Ada dua macam sistem hidroponik. Pertama, hidroponik dengan mempergunakan media non tanah seperti; pasir, arang sekam, zeolit, rockwoll, gambut, sabut kelapa, dan lain sebagainya. Dan yang kedua adalah hidroponik dengan hanya mempergunakan air yang mengandung nutrien atau pupuk yang bersirkulasi sebagai media, akar tanaman terendam sebagian dalam air tersebut sedalam lebih kurang 3 mm (mirip film), sistem ini disebut dengan NFT ( Nutrien Film Technical).
Elemen dasar yang dibutuhkan tanaman sebenarnya bukanlah tanah, tapi cadangan makanan serta air yang terkandung dalam tanah yang terserap akar dan juga dukungan yang diberikan tanah dan pertumbuhan. Dengan mengetahui ini semua, di mana akar tanaman yang tumbuh di atas tanah menyerap air dan zat-zat vital dari dalam tanah, yang berarti tanpa tanah pun, suatu tanaman dapat tumbuh asalkan diberikan cukup air dan garam-garam zat makanan
Hidroponik sama artinya dengan menyediakan dan mengalirkan larutan mineral sebagai unsur makanan bagi tanaman, dalam mengalirkan unsur makanan tersebut harus diperhayikan kepekatan larutan dan derajat keasamannya. Hidroponik dapat menggunakan media-media tanam selain tanah seperti kerikil, pasir, sabut kelapa, zat silikat, pecahan batu karang atau batu bata, potongan kayu, dan busa. Semua ini dimungkinkan dengan adanya hubungan yang baik antara tanaman dengan tempat pertumbuhannya.
Dalam hidroponik, media tanam bukanlah sesuatu yang sangat penting. Dalam hidroponik, media tanam hanya digunakan sebagai media tumbuh tanaman dan tempat berkembangnya akar tanaman, bukan sebagai sumber nutrisi. Nutrisi dipenuhi dari luar, yaitu dengan menambahi pupuk dari luar. Walaupun demikian media tanam juga memegang peranan dalam budidaya hidroponik. Jika media yang digunakan tidak baik dan tidak cocok, maka tanaman tidak akan tumbuh dengan optimal, yang akhirnya akan mengganggu pertumbuhan dan hasil tanaman. Dengan demikian perlu adanya pengkajian mengenai media tanam yang paling baik untuk budidaya secara hidroponik.
2. Tujuan
Mahasiswa mengetahui dan memahami peran berbagai jenis substrat pada pertumbuhan tanaman dalam hidroponik system substrat.
B. TINJAUAN PUSTAKA
Dosis pengunaan unsur makro dan unsur mikro masih belum konsisten. Untuk itu penelitian lebih lanjut perlu dilakuan termasuk pemberian K, Mg, dan Ca. Salah satu hal yang perlu diperhatikan bahwa unsur mikro diperlukan dalam jumlah yang sedikit sesuai kebutuhannya. Oleh karena itu penggunaan pupuk perlu mempertimbangkan patokan-patokannya sehingga dapat digunakan oleh tanaman secara efisien. Salah satu sifat umum unsur mikro adalah penyerapannya harus sesuai dengan kebutuhan dan apabila berlebihan dapat merusak perkembangan tanaman (Sutapradja, 1996).
Pengembangan budidaya selada/sayuran secara hidroponik memiliki prospek yang cerah di Indonesia, meskipun pada kenyataannya petani kita masih jarang yang melakukannya. Kebutuhan dalam negeri menuntut untuk dipenuhi bahkan permintaan ekspor pun semakin meningkat. Sayuran ini, terutama selada daun banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Saat ini penggunaan pupuk organik cair dalam budidaya hidroponik juga semakin meningkat. Hal ini karena pupuk organik cair dapat dipakai sebagai pengganti larutan hara dengan harga yang lebih murah (Pujiasmanto, 2001).
Pemberian hara dapat dicapai melalui dua cara: sistem terbuka dan sistem tertutup. Sistem terbuka dapat digunakan dengan media pasir kuarsa dan jauh lebih sederhana. Pasir diairi dua atau tiga kali sehari hingga kelebihan air tepat mulai mengalir dari lubang-lubang pengatusan, dan pupuk majemuk ditambahkan setiap minggu. Sistem terbuka dapat juga dilaksanakan di daerah pasir kuarsa tanpa menggunakan palung atau wadah. Sistem tertutup pada dasarnya adalah sama, kecuali bahwa larutan hara dikumpulkan dalam suatu tempat dan diedarkan kembali. Ini mensyaratkan bahwa konsentrasi berbagai unsur hara tanaman ditambah pada interval yang teratur (biasanya setiap minggu) dan karenanya diperlukan analisis dari larutan yang mengalir keluar, yang umumnya di luar jangkauan petani rata-rata, namun untuk usaha besar-besaran, dianjurkan sistem tertutup (Williams et al., 1993).
Pengembangan budidaya selada/sayuran secara hidroponik memiliki prospek yang cerah di Indonesia, meskipun pada kenyataannya petani kita masih jarang yang melakukannya. Kebutuhan dalam negeri menuntut untuk dipenuhi bahkan permintaan ekspor pun semakin meningkat. Sayuran ini, terutama selada daun banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Saat ini penggunaan pupuk organik cair dalam budidaya hidroponik juga semakin meningkat. Hal ini karena pupuk organik cair dapat dipakai sebagai pengganti larutan hara dengan harga yang lebih murah (Pujiasmanto, 2001).
Pasir sering digunakan sebagai media tanam selain tanah karena sifatnya yang porous dan steril. Campuran media tanam yang menggunakan pasir, maka pasir harus diayak terlebih dahulu sehingga tidak mengandung batu kerikil. Kelebihannya murah dan mudah didapat, sedangkan kekuranganya kemampuan menahan air rendah dan berat (Haryanto et al., 2003).
Abu sekam mempunyai sifat sangat sulit melepas air sehingga daerah perakaran lembab. Dengan keadaan tersebut, untuk waktu yang lama akan menggangu penyerapan air dan unsur hara yang akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak optimal. Dengan demikian akan mengakibatkan berat tajuk yang dihasilkan rendah (Bahar dan Widyastuti, 1994).
C. METODE PRAKTIKUM
1. Waktu Pelaksanaan Praktikum
Pada Praktikum hidroponik system DFT dilaksanakan pada tanggal 17 November 2010 di Rumah Kaca B Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Alat dan Bahan
1. Jenis Substrat : arang sekam, pasir malang, pakis
2. Pot polybag diameter 15 cm.
3. Nutrisi yang di gunakan AB mix
4. Bibit tanaman cabai, tomat, timun
3. Cara Kerja
Tiap kelompok menggunakan 1 jenis substrat dan satu jemis komoditas.
1. Menyiapkan polybag untuk hidroponik
2. Mengisi polybag dengan substrat
3. Penanaman
4. Pemeliharaan tanaman
5. Pengamatan pertumbuhan tanaman.
D. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Pengamatan
Denah lokasi B
Tc Ts1 Tp2 Cs1 Cp1
Cs2 Ts2 Tp2 Cs2 Cp2
Sumber : Laporan Sementara
Ket :
Tc : Terong campur Tp2 : terong pakis 2
C2 : Cabai campur Cs1 : Cabai pakis 1
Ts1 : Terong pasir 1 Cs2 : Cabai pakis 2
Ts2 : Terong pasir 2 Cp1 : Cabai pasir 1
Tp1 : Terong pakis 1 Cp2 : Cabai pasir 2
Tabel 2.2 Hasil Pengamatan Uji Berbagai Substrat
Tanggal Sampel Tinggi (cm) Jumlah Daun Sulaman
29/10. 10 Cabai pasir 1
Cabai pasir 2 16 7
17,8 7
Cabai pakis 1
Cabai Pakis 2 15,7 6
15 7
Terong pasir 1
Terong pasir 2 7 1
3,8 4
Terong pakis 1
Terong pakis 2 4 6
4 4
Terong Campur 5 4
Cabai Campur 16,4 5
3/11. 10 Cabai pasir 1
Cabai pasir 2 16,5 7
10,5 8
Cabai pakis 1
Cabai Pakis 2 Mati - T = 18 D=4
Mati - T = 10,5 D = 3
Terong pasir 1
Terong pasir 2 Mati - T = 14,4 D = 4
5 2
Terong pakis 1
Terong pakis 2 5 2
Mati - T = 18 D = 4
Terong Campur 5,5 3
Cabai Campur Mati - T = 11 D = 3
10/11. 10 Cabai pasir 1
Cabai pasir 2 18 9
23,5 18
Timun pakis 1
Timun pakis 2 13 6
26 6
Terong pakis 1
Terong pakis 2 6 3
31,5 9
Timun pasir 1
Timun pasir 2 32,5 7
8 4
Terong Campur 7,5 4
Timun Campur 18,5 4
10/11. 10 Cabai pasir 1
Cabai pasir 2 32 9
31 19
Timun pakis 1
Timun pakis 2 52 11
44 9
Terong pakis 1
Terong pakis 2 12 4
91 13
Timun pasir 1
Timun pasir 2 89 12
Mati -
Terong Campur 11 3
Timun Campur 34 9
Sumber : Laporan Sementara
2. Pembahasan
Media tanam digunakan sebagai tempat tumbuh berdirinya tanaman. Kebanyakan media tanam yang dibutuhkan tanaman adalah media tanam yang ringan dan porous.. Dari masing-masing jenis media tanam mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Oleh karena itu perlu diketahui media tanam yang paling sesuai untuk pertumbuhan tanaman sehingga memberikan hasil yang optimal.
Sistem hidroponik substrat merupakan metode budidaya tanaman dimana akar tanaman tumbuh pada media porus selain tanah yang dialiri larutan nutrisi sehingga memungkinkan tanaman memperoleh air, nutrisi, dan oksigen secara cukup. Kelebihan hidroponik jenis ini :dapat menyerap dan menghantarkan air , tidak mempengaruhi pH air, tidak berubah warna ,tidak mudah lapuk
Kelembaban sangat dipengaruhi oleh suhu. Kelembaban di sini akan berpengaruh terhadap proses-proses yang berlangsung di dalam pertumbuhan tanaman. Untuk itu, dalam hidroponik substrat harus diketahui apakah kelembaban yang terbentuk telah sesuai dengan syarat tumbuh tanaman, bila belum hendaknya perlu ditambahkan peralatan-peralatan yang mendukung kestabilan kelembaban.
Pada budidaya hidroponik system substrat dengan berbagai perpaduan antara lain pasir, pakis , campuran pakis dan pasir, pasir malang. Sehingga di dapatkan sampel terong campur, cabai campur, terong pasir, terong pakis, cabai pakis, cabai pasir.
Pada pengamatan hari terakhir cabai pasir 1 tingginya 32 dengan jumlah daun 31, cabai pasir tingginya 31 dengan jumlah daun 31, Timun pakis 1 tingginya 52 dengan jumlah daun 11, timun pakis 2 tingginya 12 dengan jumlah daun 91, timun pasir 1 tingginya 89 dengan jumlah daun 12, terong pasir dua mati karena terlambat menyirami, terong campur 1 tingginya 11dengan jumlah daun 5, Terong campur2 tingginya 34 dengan jumlah daun 9.
Untuk yang mati cabai dengan terong diganti dengan tanaman timun, cabai dengan terong mati ada berbagai sebab karena konsentrasi nutrisi yang kurang tepat. Serta substrat tanaman yang tidak cocok untuk perakaran tanaman. Serta keterlambatan dalam penyiraman sehingga tanaman tidak sempat di selamatkan.
Untuk media substat yang baik merupakan media campuran antara pasir dengan pakis hal ini disebakan disisi lain akar dapat mendapat pegangan dari pasir serta pakis sebagai penyedia rongga udara dan penyimpanan air sehingga kebutuhan air terpenuhi dibandingkan dengan media pasir yang air cepat hilang.
Yang sangat perlu diperhatikan dalam hidroponik substrat adalah sistem sirkulasi udara. Hal ini diperlukan perhatian khusus karena pada saat budidaya tanaman berlangsung, akan terjadi peningkatan suhu, sehingga diperlukan pula sistem sirkulasi udara yang sesuai.
E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
a. Sistem hidroponik substrat merupakan metode budidaya tanaman dimana akar tanaman tumbuh pada media porus selain tanah yang dialiri larutan nutrisi sehingga memungkinkan tanaman memperoleh air, nutrisi, dan oksigen secara cukup.
b. Pada pengamatan hari terakhir cabai pasir 1 tingginya 32 dengan jumlah daun 31, cabai pasir tingginya 31 dengan jumlah daun 31, Timun pakis 1 tingginya 52 dengan jumlah daun 11, timun pakis 2 tingginya 12 dengan jumlah daun 91, timun pasir 1 tingginya 89 dengan jumlah daun 12, terong pasir dua mati karena terlambat menyirami, terong campur 1 tingginya 11dengan jumlah daun 5, Terong campur2 tingginya 34 dengan jumlah daun 9.
c. Untuk yang mati cabai dengan terong diganti dengan tanaman timun, cabai dengan terong mati ada berbagai sebab karena konsentrasi nutrisi yang kurang tepat. Serta substrat tanaman yang tidak cocok untuk perakaran tanaman. Serta keterlambatan dalam penyiraman sehingga tanaman tidak sempat di selamatkan.
d. Untuk media substat yang baik merupakan media campuran antara pasir dengan pakis hal ini disebakan disisi lain akar dapat mendapat pegangan dari pasir serta pakis sebagai penyedia rongga udara dan penyimpanan air sehingga kebutuhan air terpenuhi dibandingkan dengan media pasir yang air cepat hilang.
2. Saran
Semoga Praktikum yang kan datang lebih baik lagi. Subsrat yang digunakan lebih bergam lagi. Seperti batu, pecahan kaca dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Pujiasmanto, Bambang. 2001. Pengaruh media dan konsentrasi pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada (Lactuca sativa L) secara hidroponik in Agrosains Jurnal Penelitian Agronomi Vol 3 No. 2 Juli-Desember :65-70.
Sutapradja, H. Kaitan antara pemberian Cu dan dosis K, Mg, serta Ca terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah in Jurnal Hortikultura Vol 5 No. 5:39-44.
Williams, C. N., J. O. Uzo dan W. T. H. Peregrine. 1993. Produksi Sayuran di Daerah Tropika. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Bahar, S. A. dan D. Widyastuti. 1994. Pengaruh Kematangan Sabut Kelapa Sebagai Medium Terhadap Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Anggrek CV Anand Berthabrata. J. Hort. 4 (1) : 77 – 80.
Haryanto, E., T. Suhartini, E. Rahayu, dan H. Sunarjono. 2003. Sawi dan Selada (Edisi Revisi). Penebar Swadaya. Jakarta.
HIDROPONIK SISTEM DFT
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Bertanam dengan sistem hidroponik, dalam dunia pertanian bukan merupakan hal yang baru. Namun demikian hingga kini masih banyak masyarakat yang belum tahu dengan jelas bagaimana cara melakukan dan apa keuntungannya. Untuk itu dalam tulisan ini akan dipaparkan secara ringkas dan praktis bertanam dengan cara hidroponik. Dalam kajian bahasa, hidroponik berasal dari kata hydro yang berarti air dan ponos yang berarti kerja. Jadi, hidroponik memiliki pengertian secara bebas teknik bercocok tanam dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman, atau dalam pengertian sehari-hari bercocok tanam tanpa tanah. Dari pengertian ini terlihat bahwa munculnya teknik bertanam secara hidroponik diawali oleh semakin tingginya perhatian manusia akan pentingnya kebutuhan pupuk bagi tanaman.
Tekhnik hidroponik DFT merupakan tekhnik hidroponik dengan menggunkan papan sterofoam yang mengapung diatas larutan nutrisi dan larutan tersebut disirkulasikan dengan bantuan aerasi. Pada dasarnya hidroponik system DFT sama dengan rakit apung tetapi pengaplikasiannya berebda. Perbedaannya adalah pada rakit apung larutan nutrisi tidak tersirkulasi dengan baik. Sedangkan DFT tersirkulasi dengan baik karena ada aliran atan flof.
Beberapa tanaman yang sering ditanam secara hidroponik, adalah sayur-sayuran seperti bak choy, brokoli, sawi, kailan, bayam, kangkung, tomat, bawang, bahkan strowbery, dll. Tanaman demikian sering menjadi pilihan utama kaum vegan/vegetarian yang sangat memperhatikan proses suatu tanaman apakah terdapat pembunuhan makhluk hidup, tercampur unsur kimiawi, konservasi lingkungan dan usaha penghijauan.
2. Tujuan
Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tekhnik hidroponik DFT dalam budidaya sayuran.
B. Tinjauan Pustaka
Kecenderungan konsumen dalam memilih hasil produksi tanaman dan makanan di kota-kota besar Indonesia adalah mencari produk dengan nilai tambah terhadap manfaat kesehatan, berpenampilan menarik, dan dengan harga yang rasional. Produk-produk tersebut sebagian besar dapat terpenuhi oleh produk hidroponik. Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang cara memproduksi tanaman makanan dan non-makanan (seperti bunga atau yang dikenal dengan ornamental plants) dengan metode hidroponik, secara sederhana hingga otomatis. Salah satunya dengan hidroponik system DFT (Affan, 2004).
Dalam sejarahnya, penelitian hidroponik dikenal melalui penelitian yang menggunakan hidroponik untuk studi pertumbuhan tanaman, namun penelitian lebih signifikan untuk dikatakan sebagai cikal bakal penelitian hidroponik yang menggunakan larutan nutrisi sebagai komposisi awal dengan berbagai macam komponen elemen mineral di dalam distilled water. Hidroponik atau hydroponics, berasal dari bahasa latin yang terdiri atas kata hydro yang berarti air dan kata ponos yang berarti kerja, sehingga hidroponik dapat diartikan sebagai suatu pengerjaan atau pengelolaan air sebagai media tumbuh tanaman tanpa menggunakan media tanah sebagai media tanam dan mengambil unsur hara mineral yang dibutuhkan dari larutan nutrisi yang dilarutkan dalam air (Anonim, 2008).
Larutan nutrisi sebagai sumber pasokan air dan mineral nutrisi merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan kualitas hasil tanaman hidroponik, sehingga harus tepat dari segi jumlah, komposisi ion nutrisi dan suhu. Unsur hara ini dibagi dua, yaitu unsur makro (C, H, O, N, P, S, K, Ca, dan Mg) dan mikro ( B, Cl, Cu, Fe, Mn, Mo, dan Zn). Pada umumnya kualitas larutan nutrisi ini diketahui dengan mengukur electrical conductivity (EC) larutan tersebut. Semakin tinggi konsentrasi larutan semakin tinggi arus listrik yang dihantarkan (karena pekatnya kandungan garam dan akumulasi ion mempengaruhi kemampuan untuk menghantarkan listrik larutan nutrisi tersebut). Larutan nutrisi dapat dibuat sendiri dengan melarutkan pupuk yang diramu khusus untuk tanaman hidroponik atau membeli pupuk hidroponik secara komersial (Navioside et al., 2002).
Jika kita menanam tanaman di dalam rumah menggunakan tempat plastik atau gelas dengan air sebagai media maka ini dapat dikatakan sebagai pot culture system yang sederhana. Namun, sesuai dengan kebutuhan tanaman agar tumbuh dengan baik maka harus diperhatikan ketentuan-ketentuan dasar seperti aerasi dan larutan nutrisi dalam pot atau tabung dengan media air ini. Untuk aerasi dapat digunakan pompa udara untuk akuarium (kalau ukuran pot atau tabungnya tidak terlalu besar). Selain dua hal tersebut perlu juga diperhatikan suhu larutan nutrisinya, untuk ini dapat digunakan pendingin atau pemanas buatan yang dapat dikendalikan. Pada gambar 1, ditunjukkan pot culture system yang ditumbuhkan dalam ruang tumbuh (growth chamber) dengan penerangan buatan (artificial lighting) dengan suhu ruangan yang terkontrol, kemudian berkurangnya larutan nutrisi oleh transpirasi dan penyerapan oleh tanaman dapat diketahui dari potometer dan suhu daerah perakaran dapat dikontrol menggunakan pengatur suhu dengan pendingin dan pemanas pada bak air (Lingga, 2002).
Tekhnik hidroponik DFT merupakan tekhnik hidroponik dengan menggunkan papan sterofoam yang mengapung diatas larutan nutrisi dan larutan tersebut disirkulasikan dengan bantuan aerasi. Pada dasarnya hidroponik system DFT sama dengan rakit apung tetapi pengaplikasiannya berebda. Perbedaannya adalah pada rakit apung larutan nutrisi tidak tersirkulasi dengan baik. Sedangkan DFT tersirkulasi dengan baik karena ada aliran atan flof (Sumiati,2000).
Frekuensi dan volume siram harus disesuaikan dengan kondisi cuaca, jenis dan umur tanaman, fase pertumbuhan tanaman dan jenis media yang digunakan. Cuaca mendung atau hujan (evaporasi kurang) volume dan frekuensi penyiraman dikurangi karena efek terhadap media menjadi terlalu basah sehingga akar tidak bisa tumbuh dengan baik. kondisi yang diinginkan tanaman adalah berimbang antara air, udara, pupuk dan media tanam. Sebaliknya kalau cuaca panas (evaporasi naik) fertigasi harus lebih sering dan volumenya lebih banyak (Arifin, 2004).
C. Metode praktikum
1. Waktu dan Tempat Praktikum
Pada Praktikum hidroponik system DFT dilaksanakan pada tanggal 17 November 2010 di Rumah Kaca B Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Alat dan Bahan
1. Kolam Nutrisi
2. Nutrisi (AB Mix)
3. Bibit Tanaman kangkung, bayam merah, dan bawang.
3. Cara Kerja
Satu sterofoam untuk 3 kelompok mahasiswa. Tiap kelompok dengan kedalaman nutrisi sama.
a. Menyaiapkan bibit tanaman sayuran
b. Menanam bibit pada lubang tanam
c. Memelihara tanaman.
d. Pengamatan terhadap komponen pertumbuhan
D. Hasil Pengamatan dan pembahasan
1. Hasil Pengamatan
Denah Sampel Tanaman Daun Bawang
O V2 X O O
V1 O X O V4
O O X O O
O O X O O
O O X V3 O
Keterangan = V (Sampel)
Sumber : Laporan Sementara
Tabel 1.6 Hasil Pengamatan DFT
Minggu Ke- No. Sampel Jumlah Daun Tinggi (cm)
1 (13/10. 10) 1 2 3,7
2 2 3,5
3 2 3
4 2 4
2 (20/10. 10) 1 10 9,7
2 11 6,7
3 3 4,5
4 10 12
3 (27/10. 10) 1 16 21
2 20 16
3 8 5
4 18 23
4 (3/11. 10) 1 58 34,5
2 86 34
3 17 13,4
4 44 57
5 (10/11. 10). 1 66 65
2 102 66
3 38 66
4 81 13
Sumber : Laporan Sementara
Tabel 1.7 Hasil Data Rekapan Tinggi Tanaman DFT
MST Tinggi Tanaman
Kangkung Bayam Kailan
1(7) 2(3) 3(6) 4(10) 1(12) 2(1) 3(4) 4(8) 1(9) 2(11) 3(2) 4(5)
0 3,5 5,2 7,03 5,75 6,6 1,3 3,575 2,5 1,33 1,3 6,83 3,5
1 8,2 15,2 4,18 8,38 7,75 4,13 5,55 5,5 1,65 4 10,4 4,47
2 10,25 18,3 16,73 15,48 10,63 13 8,3 8,3 2,13 5,13 11,98 5,33
3 35,97 38,5 42 89,63 20 41,6 13,5 15,75 5,48 6,13 13,9 7,38
4 93,63 63,6 52,7 178,53 38,5 79,5 14,5 24 5,78 6,38 6,87 18,05 12,75
5 - - 68,5 - - 82,5 - - - - - 15,13
∑ 151,55 140,8 191,14 297,57 83,42 222,03 45,42 56,05 16,57 23,27 61,1 48,5
X 30,31 28,16 38,288 35,51 16,64 44,4 9,08 11,21 3,31 4,6 12,2 9,7
X total 156,268 20,34 29,81
Sumber : Data Rekapan
Tabel 1.8 Hasil Data Rekapan Jumlah Daun DFT
MST Tinggi Tanaman
Kangkung Bayam Kailan
1(7) 2(3) 3(6) 4(10) 1(12) 2(1) 3(4) 4(8) 1(9) 2(11) 3(2) 4(5)
0 4 2 2 2 7 5 2 5 7 8 3 9
1 9 7 7 8 9 18 3 11 8 8 5 5
2 16 10 13 82 7 33 9 14 10 10 9 6
3 51 33 23 65 32 83 16 25 13 12 13 7
4 72 60 32 94 59 86 24 31 14 6,87 15 12 8
5 - - 47 - - - 29 - - - - 10
∑ 152 112 124 251 114 225 83 86 52 53 42 40
X 30,4 22,4 24,8 50,2 22,8 45 16,6 17,2 10,4 10,6 8,4 8
X total 127,8 101,6 37,4
Sumber : Data Rekapan
Tabel 1.9 Hasil Data Rekapan Panjang Akar Tanaman DFT
MST Tinggi Tanaman
Kangkung Bayam Kailan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
5 54,98 42,5 45,8 50,63 30 28 31,88 12,88 15,77 15,38 18,52 11,5
∑ 193,91 102,76 61,17
X total 48,47 25,69 15,29
Sumber : Data Rekapan
Tabel 2.1 Hasil Data Rekapan Berat Brangkasan Tanaman DFT
MST Tinggi Tanaman
Kangkung Bayam Kailan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
5 170,23 97,32 59,7 184,07 58,15 271,7 110,64 35,75 9,77 54,32 15,08 4,62
∑ 511,32 476,24 83,79
X total 137,83 119,06 20,94
Sumber : Data Rekapan
Pengukuran pH = 3,3
EC = 2,5
2. Pembahasan
Hidroponik berasal dari kata Yunani yaitu hydro yang berarti air dan ponos yang artinya daya. Jadi hidroponik berarti budidaya tanaman yang mamanfaatkan air dan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam atau soilles. Pemilihan jenis tanaman yang akan dibudidayakan untuk skala usaha komersial harus diperhatikan. Sebagai contoh jenis tanaman yang mempunyai nilai jual diatas rata-rata, yaitu: a. Paprika b. Tomat c. Timun Jepang d. Melon e. Terong Jepang f. Selada. Selain jenis tanaman di atas, banyak lagi yang dapat dibudidayakan dengan teknik hidroponik apabila dilakukan hanya pada kegiatan hobby saja.
Tekhnik hidroponik DFT merupakan tekhnik hidroponik dengan menggunkan papan sterofoam yang mengapung diatas larutan nutrisi dan larutan tersebut disirkulasikan dengan bantuan aerasi. Pada dasarnya hidroponik system DFT sama dengan rakit apung tetapi pengaplikasiannya berebda. Perbedaannya adalah pada rakit apung larutan nutrisi tidak tersirkulasi dengan baik. Sedangkan DFT tersirkulasi dengan baik karena ada aliran atan flof
Bertanam dengan sistem hidroponik, dalam dunia pertanian bukan merupakan hal yang baru. Namun demikian hingga kini masih banyak masyarakat yang belum tahu dengan jelas bagaimana cara melakukan dan apa keuntungannya. Untuk itu dalam tulisan ini akan dipaparkan secara ringkas dan praktis bertanam dengan cara hidroponik. Dalam kajian bahasa, hidroponik berasal dari kata hydro yang berarti air dan ponos yang berarti kerja. Jadi, hidroponik memiliki pengertian secara bebas teknik bercocok tanam dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman, atau dalam pengertian sehari-hari bercocok tanam tanpa tanah. Dari pengertian ini terlihat bahwa munculnya teknik bertanam secara hidroponik diawali oleh semakin tingginya perhatian manusia akan pentingnya kebutuhan pupuk bagi tanaman.
Beberapa tanaman yang sering ditanam secara hidroponik, adalah sayur-sayuran seperti bak choy, brokoli, sawi, kailan, bayam, kangkung, tomat, bawang, bahkan strowbery, dll. Tanaman demikian sering menjadi pilihan utama kaum vegan/vegetarian yang sangat memperhatikan proses suatu tanaman apakah terdapat pembunuhan makhluk hidup, tercampur unsur kimiawi, konservasi lingkungan dan usaha penghijauan. Pada prraktikum kali ini menggunakan tanaman kangkung, untuk taksonominya
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Solanales
Famili: Convolvulaceae
Genus: Ipomoea
Spesies: I. aquatica
Pada hasil pengamatan DFT pada minggu pertama di dapatkan data sampel 1 tingginya 3,7 cm dan jumlah daunnya 2, sampel ke 2 tingginya 3,5 cm dan jumlah daunnya 2, sampel 3 tingginya 3 dan jumlah daun 2, sampel 4 tingginya 4 cm dan jumlah daunnya 2. Pada minggu Kedua di dapatkan data sampel 1 tingginya 9,7 cm dan jumlah daunnya 10, sampel ke 2 tingginya 6,7 cm dan jumlah daunnya 11, sampel 3 tingginya 4,5 dan jumlah daun 3, sampel 4 tingginya 12 cm dan jumlah daunnya 10. Pada minggu Ketiga di dapatkan data sampel 1 tingginya 21 cm dan jumlah daunnya 16, sampel ke 2 tingginya 16 cm dan jumlah daunnya 20, sampel 3 tingginya 5 dan jumlah daun 8, sampel 4 tingginya 23 cm dan jumlah daunnya 19. Pada minggu Keempat di dapatkan data sampel 1 tingginya 34,5 cm dan jumlah daunnya 58, sampel ke 2 tingginya 34 cm dan jumlah daunnya 86, sampel 3 tingginya 13,4 dan jumlah daun 17, sampel 4 tingginya 57 cm dan jumlah daunnya 44. Pada minggu Kelima di dapatkan data sampel 1 tingginya 65 cm dan jumlah daunnya 66, sampel ke 2 tingginya 66 cm dan jumlah daunnya 102, sampel 3 tingginya 30,5 dan jumlah daun 38, sampel 4 tingginya 13 cm dan jumlah daunnya 81. Pada pengamatan EC meter didapatkan data pH larutan 3,3 dan Ec 2,5.
E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
a. Tekhnik hidroponik DFT merupakan tekhnik hidroponik dengan menggunkan papan sterofoam yang mengapung diatas larutan nutrisi dan larutan tersebut disirkulasikan dengan bantuan aerasi.
b. Pada dasarnya hidroponik system DFT sama dengan rakit apung tetapi pengaplikasiannya berebda. Perbedaannya adalah pada rakit apung larutan nutrisi tidak tersirkulasi dengan baik. Sedangkan DFT tersirkulasi dengan baik karena ada aliran atan flof
c. Bahwa tanaman kangkung yang di tanam dengan system DFT pertumbuhannya sangat baik ini dapat dilihat dari pertumbuhan tanaman yang dari minggu ke minggu semakin bertambah.
2. Saran
Semoga Praktikum yang akan dating lebih baiik lagi. Tanamannya lebih komersil lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Affan, M. F.F. 2004. High temperature effects on root absorption in hydroponic system DFT. Master thesis. Kochi University, pp 78.
Anonim. 2010. Pupuk Hidroponik "Joro A&B Mix" untuk DFT. http://www.joronet.net /database/pupuk_hidroponik.htm. Diakses tanggal 26 Desember 2008.
Arifin, H. S. 2004. Tanaman Hias Tampil Prima. Penebar Swadaya. Jakarta.
Karsono, S., Sudarmodjo, Y. Sutiyoso. 2004. Hidoponik Skala Rumah Tangga. Agromedia system DFT Pustaka. Jakarta.
Lingga, P. 2002. Hidroponik: Bertanam Tanpa Tanah modifikasi DFT. Penebar Swadaya. Jakarta.
Navioside, A.,Yogi Sugito, Moch Dewani. 2002. Upaya Peningkatan Hasil dan Kualitas Tanaman Jagung Manis metode DFT (Zea mays Saccharata) Melalui Penggunaan Pupuk Kalium dan Pupuk Organik Cair. J. Agrivita 24 (2).
Sumiati, E. 2000. Konsentrasi dan jumlah aplikasi mepiquat klorida untuk meningkatkan produksi kentang di dataran tinggi dengan system DFT. J. Hort. 9(4):293.
1. Latar Belakang
Bertanam dengan sistem hidroponik, dalam dunia pertanian bukan merupakan hal yang baru. Namun demikian hingga kini masih banyak masyarakat yang belum tahu dengan jelas bagaimana cara melakukan dan apa keuntungannya. Untuk itu dalam tulisan ini akan dipaparkan secara ringkas dan praktis bertanam dengan cara hidroponik. Dalam kajian bahasa, hidroponik berasal dari kata hydro yang berarti air dan ponos yang berarti kerja. Jadi, hidroponik memiliki pengertian secara bebas teknik bercocok tanam dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman, atau dalam pengertian sehari-hari bercocok tanam tanpa tanah. Dari pengertian ini terlihat bahwa munculnya teknik bertanam secara hidroponik diawali oleh semakin tingginya perhatian manusia akan pentingnya kebutuhan pupuk bagi tanaman.
Tekhnik hidroponik DFT merupakan tekhnik hidroponik dengan menggunkan papan sterofoam yang mengapung diatas larutan nutrisi dan larutan tersebut disirkulasikan dengan bantuan aerasi. Pada dasarnya hidroponik system DFT sama dengan rakit apung tetapi pengaplikasiannya berebda. Perbedaannya adalah pada rakit apung larutan nutrisi tidak tersirkulasi dengan baik. Sedangkan DFT tersirkulasi dengan baik karena ada aliran atan flof.
Beberapa tanaman yang sering ditanam secara hidroponik, adalah sayur-sayuran seperti bak choy, brokoli, sawi, kailan, bayam, kangkung, tomat, bawang, bahkan strowbery, dll. Tanaman demikian sering menjadi pilihan utama kaum vegan/vegetarian yang sangat memperhatikan proses suatu tanaman apakah terdapat pembunuhan makhluk hidup, tercampur unsur kimiawi, konservasi lingkungan dan usaha penghijauan.
2. Tujuan
Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tekhnik hidroponik DFT dalam budidaya sayuran.
B. Tinjauan Pustaka
Kecenderungan konsumen dalam memilih hasil produksi tanaman dan makanan di kota-kota besar Indonesia adalah mencari produk dengan nilai tambah terhadap manfaat kesehatan, berpenampilan menarik, dan dengan harga yang rasional. Produk-produk tersebut sebagian besar dapat terpenuhi oleh produk hidroponik. Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang cara memproduksi tanaman makanan dan non-makanan (seperti bunga atau yang dikenal dengan ornamental plants) dengan metode hidroponik, secara sederhana hingga otomatis. Salah satunya dengan hidroponik system DFT (Affan, 2004).
Dalam sejarahnya, penelitian hidroponik dikenal melalui penelitian yang menggunakan hidroponik untuk studi pertumbuhan tanaman, namun penelitian lebih signifikan untuk dikatakan sebagai cikal bakal penelitian hidroponik yang menggunakan larutan nutrisi sebagai komposisi awal dengan berbagai macam komponen elemen mineral di dalam distilled water. Hidroponik atau hydroponics, berasal dari bahasa latin yang terdiri atas kata hydro yang berarti air dan kata ponos yang berarti kerja, sehingga hidroponik dapat diartikan sebagai suatu pengerjaan atau pengelolaan air sebagai media tumbuh tanaman tanpa menggunakan media tanah sebagai media tanam dan mengambil unsur hara mineral yang dibutuhkan dari larutan nutrisi yang dilarutkan dalam air (Anonim, 2008).
Larutan nutrisi sebagai sumber pasokan air dan mineral nutrisi merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan kualitas hasil tanaman hidroponik, sehingga harus tepat dari segi jumlah, komposisi ion nutrisi dan suhu. Unsur hara ini dibagi dua, yaitu unsur makro (C, H, O, N, P, S, K, Ca, dan Mg) dan mikro ( B, Cl, Cu, Fe, Mn, Mo, dan Zn). Pada umumnya kualitas larutan nutrisi ini diketahui dengan mengukur electrical conductivity (EC) larutan tersebut. Semakin tinggi konsentrasi larutan semakin tinggi arus listrik yang dihantarkan (karena pekatnya kandungan garam dan akumulasi ion mempengaruhi kemampuan untuk menghantarkan listrik larutan nutrisi tersebut). Larutan nutrisi dapat dibuat sendiri dengan melarutkan pupuk yang diramu khusus untuk tanaman hidroponik atau membeli pupuk hidroponik secara komersial (Navioside et al., 2002).
Jika kita menanam tanaman di dalam rumah menggunakan tempat plastik atau gelas dengan air sebagai media maka ini dapat dikatakan sebagai pot culture system yang sederhana. Namun, sesuai dengan kebutuhan tanaman agar tumbuh dengan baik maka harus diperhatikan ketentuan-ketentuan dasar seperti aerasi dan larutan nutrisi dalam pot atau tabung dengan media air ini. Untuk aerasi dapat digunakan pompa udara untuk akuarium (kalau ukuran pot atau tabungnya tidak terlalu besar). Selain dua hal tersebut perlu juga diperhatikan suhu larutan nutrisinya, untuk ini dapat digunakan pendingin atau pemanas buatan yang dapat dikendalikan. Pada gambar 1, ditunjukkan pot culture system yang ditumbuhkan dalam ruang tumbuh (growth chamber) dengan penerangan buatan (artificial lighting) dengan suhu ruangan yang terkontrol, kemudian berkurangnya larutan nutrisi oleh transpirasi dan penyerapan oleh tanaman dapat diketahui dari potometer dan suhu daerah perakaran dapat dikontrol menggunakan pengatur suhu dengan pendingin dan pemanas pada bak air (Lingga, 2002).
Tekhnik hidroponik DFT merupakan tekhnik hidroponik dengan menggunkan papan sterofoam yang mengapung diatas larutan nutrisi dan larutan tersebut disirkulasikan dengan bantuan aerasi. Pada dasarnya hidroponik system DFT sama dengan rakit apung tetapi pengaplikasiannya berebda. Perbedaannya adalah pada rakit apung larutan nutrisi tidak tersirkulasi dengan baik. Sedangkan DFT tersirkulasi dengan baik karena ada aliran atan flof (Sumiati,2000).
Frekuensi dan volume siram harus disesuaikan dengan kondisi cuaca, jenis dan umur tanaman, fase pertumbuhan tanaman dan jenis media yang digunakan. Cuaca mendung atau hujan (evaporasi kurang) volume dan frekuensi penyiraman dikurangi karena efek terhadap media menjadi terlalu basah sehingga akar tidak bisa tumbuh dengan baik. kondisi yang diinginkan tanaman adalah berimbang antara air, udara, pupuk dan media tanam. Sebaliknya kalau cuaca panas (evaporasi naik) fertigasi harus lebih sering dan volumenya lebih banyak (Arifin, 2004).
C. Metode praktikum
1. Waktu dan Tempat Praktikum
Pada Praktikum hidroponik system DFT dilaksanakan pada tanggal 17 November 2010 di Rumah Kaca B Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Alat dan Bahan
1. Kolam Nutrisi
2. Nutrisi (AB Mix)
3. Bibit Tanaman kangkung, bayam merah, dan bawang.
3. Cara Kerja
Satu sterofoam untuk 3 kelompok mahasiswa. Tiap kelompok dengan kedalaman nutrisi sama.
a. Menyaiapkan bibit tanaman sayuran
b. Menanam bibit pada lubang tanam
c. Memelihara tanaman.
d. Pengamatan terhadap komponen pertumbuhan
D. Hasil Pengamatan dan pembahasan
1. Hasil Pengamatan
Denah Sampel Tanaman Daun Bawang
O V2 X O O
V1 O X O V4
O O X O O
O O X O O
O O X V3 O
Keterangan = V (Sampel)
Sumber : Laporan Sementara
Tabel 1.6 Hasil Pengamatan DFT
Minggu Ke- No. Sampel Jumlah Daun Tinggi (cm)
1 (13/10. 10) 1 2 3,7
2 2 3,5
3 2 3
4 2 4
2 (20/10. 10) 1 10 9,7
2 11 6,7
3 3 4,5
4 10 12
3 (27/10. 10) 1 16 21
2 20 16
3 8 5
4 18 23
4 (3/11. 10) 1 58 34,5
2 86 34
3 17 13,4
4 44 57
5 (10/11. 10). 1 66 65
2 102 66
3 38 66
4 81 13
Sumber : Laporan Sementara
Tabel 1.7 Hasil Data Rekapan Tinggi Tanaman DFT
MST Tinggi Tanaman
Kangkung Bayam Kailan
1(7) 2(3) 3(6) 4(10) 1(12) 2(1) 3(4) 4(8) 1(9) 2(11) 3(2) 4(5)
0 3,5 5,2 7,03 5,75 6,6 1,3 3,575 2,5 1,33 1,3 6,83 3,5
1 8,2 15,2 4,18 8,38 7,75 4,13 5,55 5,5 1,65 4 10,4 4,47
2 10,25 18,3 16,73 15,48 10,63 13 8,3 8,3 2,13 5,13 11,98 5,33
3 35,97 38,5 42 89,63 20 41,6 13,5 15,75 5,48 6,13 13,9 7,38
4 93,63 63,6 52,7 178,53 38,5 79,5 14,5 24 5,78 6,38 6,87 18,05 12,75
5 - - 68,5 - - 82,5 - - - - - 15,13
∑ 151,55 140,8 191,14 297,57 83,42 222,03 45,42 56,05 16,57 23,27 61,1 48,5
X 30,31 28,16 38,288 35,51 16,64 44,4 9,08 11,21 3,31 4,6 12,2 9,7
X total 156,268 20,34 29,81
Sumber : Data Rekapan
Tabel 1.8 Hasil Data Rekapan Jumlah Daun DFT
MST Tinggi Tanaman
Kangkung Bayam Kailan
1(7) 2(3) 3(6) 4(10) 1(12) 2(1) 3(4) 4(8) 1(9) 2(11) 3(2) 4(5)
0 4 2 2 2 7 5 2 5 7 8 3 9
1 9 7 7 8 9 18 3 11 8 8 5 5
2 16 10 13 82 7 33 9 14 10 10 9 6
3 51 33 23 65 32 83 16 25 13 12 13 7
4 72 60 32 94 59 86 24 31 14 6,87 15 12 8
5 - - 47 - - - 29 - - - - 10
∑ 152 112 124 251 114 225 83 86 52 53 42 40
X 30,4 22,4 24,8 50,2 22,8 45 16,6 17,2 10,4 10,6 8,4 8
X total 127,8 101,6 37,4
Sumber : Data Rekapan
Tabel 1.9 Hasil Data Rekapan Panjang Akar Tanaman DFT
MST Tinggi Tanaman
Kangkung Bayam Kailan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
5 54,98 42,5 45,8 50,63 30 28 31,88 12,88 15,77 15,38 18,52 11,5
∑ 193,91 102,76 61,17
X total 48,47 25,69 15,29
Sumber : Data Rekapan
Tabel 2.1 Hasil Data Rekapan Berat Brangkasan Tanaman DFT
MST Tinggi Tanaman
Kangkung Bayam Kailan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
5 170,23 97,32 59,7 184,07 58,15 271,7 110,64 35,75 9,77 54,32 15,08 4,62
∑ 511,32 476,24 83,79
X total 137,83 119,06 20,94
Sumber : Data Rekapan
Pengukuran pH = 3,3
EC = 2,5
2. Pembahasan
Hidroponik berasal dari kata Yunani yaitu hydro yang berarti air dan ponos yang artinya daya. Jadi hidroponik berarti budidaya tanaman yang mamanfaatkan air dan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam atau soilles. Pemilihan jenis tanaman yang akan dibudidayakan untuk skala usaha komersial harus diperhatikan. Sebagai contoh jenis tanaman yang mempunyai nilai jual diatas rata-rata, yaitu: a. Paprika b. Tomat c. Timun Jepang d. Melon e. Terong Jepang f. Selada. Selain jenis tanaman di atas, banyak lagi yang dapat dibudidayakan dengan teknik hidroponik apabila dilakukan hanya pada kegiatan hobby saja.
Tekhnik hidroponik DFT merupakan tekhnik hidroponik dengan menggunkan papan sterofoam yang mengapung diatas larutan nutrisi dan larutan tersebut disirkulasikan dengan bantuan aerasi. Pada dasarnya hidroponik system DFT sama dengan rakit apung tetapi pengaplikasiannya berebda. Perbedaannya adalah pada rakit apung larutan nutrisi tidak tersirkulasi dengan baik. Sedangkan DFT tersirkulasi dengan baik karena ada aliran atan flof
Bertanam dengan sistem hidroponik, dalam dunia pertanian bukan merupakan hal yang baru. Namun demikian hingga kini masih banyak masyarakat yang belum tahu dengan jelas bagaimana cara melakukan dan apa keuntungannya. Untuk itu dalam tulisan ini akan dipaparkan secara ringkas dan praktis bertanam dengan cara hidroponik. Dalam kajian bahasa, hidroponik berasal dari kata hydro yang berarti air dan ponos yang berarti kerja. Jadi, hidroponik memiliki pengertian secara bebas teknik bercocok tanam dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman, atau dalam pengertian sehari-hari bercocok tanam tanpa tanah. Dari pengertian ini terlihat bahwa munculnya teknik bertanam secara hidroponik diawali oleh semakin tingginya perhatian manusia akan pentingnya kebutuhan pupuk bagi tanaman.
Beberapa tanaman yang sering ditanam secara hidroponik, adalah sayur-sayuran seperti bak choy, brokoli, sawi, kailan, bayam, kangkung, tomat, bawang, bahkan strowbery, dll. Tanaman demikian sering menjadi pilihan utama kaum vegan/vegetarian yang sangat memperhatikan proses suatu tanaman apakah terdapat pembunuhan makhluk hidup, tercampur unsur kimiawi, konservasi lingkungan dan usaha penghijauan. Pada prraktikum kali ini menggunakan tanaman kangkung, untuk taksonominya
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Solanales
Famili: Convolvulaceae
Genus: Ipomoea
Spesies: I. aquatica
Pada hasil pengamatan DFT pada minggu pertama di dapatkan data sampel 1 tingginya 3,7 cm dan jumlah daunnya 2, sampel ke 2 tingginya 3,5 cm dan jumlah daunnya 2, sampel 3 tingginya 3 dan jumlah daun 2, sampel 4 tingginya 4 cm dan jumlah daunnya 2. Pada minggu Kedua di dapatkan data sampel 1 tingginya 9,7 cm dan jumlah daunnya 10, sampel ke 2 tingginya 6,7 cm dan jumlah daunnya 11, sampel 3 tingginya 4,5 dan jumlah daun 3, sampel 4 tingginya 12 cm dan jumlah daunnya 10. Pada minggu Ketiga di dapatkan data sampel 1 tingginya 21 cm dan jumlah daunnya 16, sampel ke 2 tingginya 16 cm dan jumlah daunnya 20, sampel 3 tingginya 5 dan jumlah daun 8, sampel 4 tingginya 23 cm dan jumlah daunnya 19. Pada minggu Keempat di dapatkan data sampel 1 tingginya 34,5 cm dan jumlah daunnya 58, sampel ke 2 tingginya 34 cm dan jumlah daunnya 86, sampel 3 tingginya 13,4 dan jumlah daun 17, sampel 4 tingginya 57 cm dan jumlah daunnya 44. Pada minggu Kelima di dapatkan data sampel 1 tingginya 65 cm dan jumlah daunnya 66, sampel ke 2 tingginya 66 cm dan jumlah daunnya 102, sampel 3 tingginya 30,5 dan jumlah daun 38, sampel 4 tingginya 13 cm dan jumlah daunnya 81. Pada pengamatan EC meter didapatkan data pH larutan 3,3 dan Ec 2,5.
E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
a. Tekhnik hidroponik DFT merupakan tekhnik hidroponik dengan menggunkan papan sterofoam yang mengapung diatas larutan nutrisi dan larutan tersebut disirkulasikan dengan bantuan aerasi.
b. Pada dasarnya hidroponik system DFT sama dengan rakit apung tetapi pengaplikasiannya berebda. Perbedaannya adalah pada rakit apung larutan nutrisi tidak tersirkulasi dengan baik. Sedangkan DFT tersirkulasi dengan baik karena ada aliran atan flof
c. Bahwa tanaman kangkung yang di tanam dengan system DFT pertumbuhannya sangat baik ini dapat dilihat dari pertumbuhan tanaman yang dari minggu ke minggu semakin bertambah.
2. Saran
Semoga Praktikum yang akan dating lebih baiik lagi. Tanamannya lebih komersil lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Affan, M. F.F. 2004. High temperature effects on root absorption in hydroponic system DFT. Master thesis. Kochi University, pp 78.
Anonim. 2010. Pupuk Hidroponik "Joro A&B Mix" untuk DFT. http://www.joronet.net /database/pupuk_hidroponik.htm. Diakses tanggal 26 Desember 2008.
Arifin, H. S. 2004. Tanaman Hias Tampil Prima. Penebar Swadaya. Jakarta.
Karsono, S., Sudarmodjo, Y. Sutiyoso. 2004. Hidoponik Skala Rumah Tangga. Agromedia system DFT Pustaka. Jakarta.
Lingga, P. 2002. Hidroponik: Bertanam Tanpa Tanah modifikasi DFT. Penebar Swadaya. Jakarta.
Navioside, A.,Yogi Sugito, Moch Dewani. 2002. Upaya Peningkatan Hasil dan Kualitas Tanaman Jagung Manis metode DFT (Zea mays Saccharata) Melalui Penggunaan Pupuk Kalium dan Pupuk Organik Cair. J. Agrivita 24 (2).
Sumiati, E. 2000. Konsentrasi dan jumlah aplikasi mepiquat klorida untuk meningkatkan produksi kentang di dataran tinggi dengan system DFT. J. Hort. 9(4):293.
HIDROPONIK SISTEM RAKIT APUNG
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Bayam merah, bawang dan kangkung merupakan sayuran daun hijau yang paling digemari masyarakat Indonesia. Produksi bayam merah, bawang dan kangkung perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen, salah satunya dengan cara hidroponik. Hidroponik adalah budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai media tumbuhnya. Jenis media tumbuh, volume larutan nutrisi, dan variasi nilai EC (electrical conductivity) merupakan faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam hidroponik
System rakit apung merupakan suatu budidaya tanaman (khususnya sayuran) dengan cara menanamkan/menancapkan tanaman pada lubang styrofoam yang mengapung diatas permukaaan larutan nutrisi dalam suatu bak penampung sehingga akar tanaman terendam dalam larutan nutrisi.
Pada sistem ini larutan nutrisi disirkulasikan dengan cara larutan nutrisi dialirkan melalui selang yang disambungkan pada system NFT sehingga sirkulasi udara tetap terjaga dan dapat digunakan lagi dengan cara mengontrol kepekatan larutan dalam jangka waktu tertentu. Hal ini perlu dilakukan karena dalam jangka yang cukup lama akan terjadi pengkristalan dan pengendapan pupuk cair dalam dasar kolam yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
Pada dasarnya sistem ini mempunyai beberapa karakteristik seperti terisolasinya lingkungan perakaran yang mengakibatkan fluktuasi suhu larutan nutrisi lebih rendah, dapat digunakan untuk daerah yang sumber energi listriknya terbatas karena energi yang dibutuhkan tidak terlalu tergantung pada energi listrik (mungkin hanya untuk mengalirkan larutan nutrisi dan pengadukan larutan nutrisi saja).
2. Tujuan
Mahasiswa dapat menegtahui dan memahami system hidroponik rakit apung dalam budidaya tanaman sayuran.
B. Tinjauan Pustaka
Pengukuran EC (Electrical Conductivity) biasanya dan sejak lama digunakan untuk menjelaskan konsentrasi dari garam yang terlarut. Penjelasan ini penting untuk menentukan takaran pupuk yang mungkin saja mengandung garam yang akan diaplikasikan pada tanaman. Penggunaan rumus EC ini berdasarkan hukum Ohm, yaitu I=E/R dengan satuan mhos atau 1/ohm (Wilde et al., 1979).
Unsur hara yang diserap tanaman dari dalam tanah terdiri dari 13 unsur mineral yang sering disebut unsure hara esensial. Unsur hara ini sangat dibutuhkan tanaman dan fungsinya tidak dapat digantikan oleh unsur lain. Jika jumlahnya kurang mencukupi, terlalu lambat tersedia, tidak diimbangi oleh unsur - unsur lain akan menyebabkan pertumbuhan tanaman yang terganggu (Novizan, 2002).
Pada sistem kultur hidroponik pemberian nutrisi merupakan hal yang utama karena media yang digunakan tidak meyediakan unsur hara. Media hanya berfungsi sebagai sebagai penegak tanaman atau tempat akar mengikat dan mengalirkan larutan nutrisi. Pupuk merupakan sumber nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Nutrisi didefinisikan sebagai bahan yang mensuplai tanaman dalam bentuk energi atau mineral elemen penting (Sumiati,2000).
Formula nutrien mesti dibetulkan dengan kerapnya semasa pertumbuhan tanaman, kefahaman tentang manipulasi dan pengiraan formula sangatlah perlu. Banyak yang menyatakan formulasi optimum untuk tanaman tertentu, tetapi biasanya kenyataan ini tidak disokong oleh bukti yang jelas karena formulasi optimum bergantung kepada banyak faktor yang lain yang tidak dapat dikawal. Formulasi optimum bergantung kepada faktor-faktor seperti berikut : spesies tanaman, bagian tanaaman yang menjadi hasil, panjang penyinaran, cuaca, suhu, penyinaran cahaya matahari (Resh, 1991).
Dalam kaedah hidroponik, keseluruhan keperluan nutrisi tanaman diberikan pada akar tanaman dalam bentuk larutan. Sebenarnya tanaman boleh hidup tanpa tanah. Akar tanamanan mengambil zat makanan atu nutrient yang tersembunyi di dalam tanah. Tanaman bisa hidup tanpa tanah asalkan kebutuhan nutrient yang diperlukan terpenuhi (Anonim, 2010).
C. Metode Praktikum
1. Waktu Pelaksanaan Praktikum
Praktikum hidrponik rakit apung dilaksanakan pada tanggal 10 November 2010 di Rumah kaca B Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Alat dan Bahan
a. Kolam nutrisi
b. Nutrisi (AB Mix)
c. Bibit tanaman kangkung, bayam merah, daun bawang.
3. Cara Kerja
Satu sterofoam untuk 3 kelompok mahasiswa. Tiap kelompok dengan kedalaman nutrisi sama.
a) Menyaiapkan bibit tanaman sayuran
b) Menanam bibit pada lubang tanam
c) Memelihara tanaman.
d) Pengamatan terhadap komponen pertumbuhan.
D. Hasil dan Pembahasan
1. Hasil Pengamatan
Denah Sampel Tanaman Daun Bawang
O O X O O
O O X V3 O
O V2 X O O
O O X O V4
V1 O X O O
Keterangan = V (Sampel)
B
Tabel 1.1 Hasil Pengamatan Rakit Apung
Minggu Ke- No. Sampel Jumlah Daun Tinggi (cm)
1 (13/10. 10) 1 - 6
2 - 6,5
3 - 5
4 - 3,5
2 (20/10. 10) 1 - 13,5
2 - 17,5
3 - 8
4 - 15
3 (27/10. 10) 1 1 19,8
2 - Mati
3 - 8,5
4 1 2,4
4 (3/11. 10) 1 2 20,5
2 - -
3 2 10
4 2 24
5 (10/11. 10). 1 3 33
2 Mati Mati
3 Mati Mati
4 Mati Mati
Sumber : Laporan Sementara
Tabel 1.2 Hasil Data Rekapan Tinggi Tanaman Rakit Apung
MST Tinggi Tanaman
Kangkung Bayam Kailan Daun Bawang
(9) 2(12) 3(1) 4(8) 1(11) 2 3 1(6) 2(8) 3 1(3) 2
0 0 7,5 1,7 8,28 5,12 6,42 3,97 2,35 3,2 0 0 0
1 5,58 9,75 4,75 12,2 5,87 11,22 5,2 3,70 3,8 5,92 5,57 5,25
2 8,62 19,75 34,5 11,3 6,66 15,45 4,35 4,65 4,37 5,32 14,2 13,5
3 20,12 52 49 11,45 6,75 20,87 3,37 5,73 5,62 5,55 14,51 17,43
4 53,77 92,5 54,25 13 7 26,87 3
6,49 6,87 6,87 9,1 20,9 18,17
5 135,5 - 61,75 - - - 4,12 6,74 - 7,62 27,43 33
∑ 223,5 181,5 171,65 56,25 31,14 80,85 20,05 24,7 23,9 33,5 32,6 87,35
X 44,7 36,6 11,25 6,28 16,17 4,01 4,94 4,78 6,71 16,52 17,47
X total 31,645 8,82 5,47 16,99
Sumber : Data Rekapan
Tabel 1.3 Hasil Data Rekapan Jumlah Daun Tanaman Rakit Apung
MST Tinggi Tanaman
Kangkung Bayam Kailan Daun Bawang
1 2 3 4 1 2 3 1 2 3 1 2
0 0 3 0 2 3 5,75 6,75 5,75 8 0 0 0
1 2,75 4,25 5 8,5 9 6,5 5 7,75 9 10 1 0
2 4 5,25 18,75 11,5 15 6,75 7 4,25 10 8 1 0
3 25 10,5 32,67 29 23 5 6 5,5 11 11 1 1
4 79,25 11,25 82,5 38,7 18 7 - 6,1 17 6,87 17 2 2
5 80,25 - - 85,5 - 8,5 - - - - 3 3
∑ 191,25 34,25 173,65 146,05 69 39,5 24,75 29,35 55 52 8 6
X 38,25 6,05 34,73 29,31 13,6 7,9 4,95 5,87 11 10,4 1,6 1,5
X total 27,26 8,81 9,09 1,55
Sumber : Data Rekapan
Tabel 1.4 Hasil Data Rekapan Panjang Akar Tanaman Rakit Apung
MST Tinggi Tanaman
Kangkung Bayam Kailan Daun Bawang
1 2 3 4 1 2 3 1 2 3 1 2
5 36,77 10,55 34 22,8 15,13 5,37 3,5 2,4 11 6,5 8,8 6,6
∑ 104,12 24,005 19,9 15,4
X total 26,03 8 6,63 1,55
Sumber : Data Rekapan
Tabel 1.5 Hasil Data Rekapan Berat Brangkasan Tanaman Rakit Apung
MST Tinggi Tanaman
Kangkung Bayam Kailan Daun Bawang
1 2 3 4 1 2 3 1 2 3 1 2
5 348,46 18,11 203.5 84,45 30,3 3,4 13,58 22,4 15,57 13,01 6 6,3
∑ 654,52 47,28 30,98 12,3
X total 163,63 15,76 10,32 6,15
Sumber : Data Rekapan
Pengukuran pH = 4,5
EC = 1,84
2. Pembahasan
Floating hidroponik sistem (FHS) adalah salah satu cara budidaya tanaman dalam hidroponik yang cukup mudah untuk dilakukan, karena tidak memerlukan biaya yang banyak dan tidak perlu ketrampilan yang yang lebih. Dalam FHS tanaman hanya ditanam di atas larutan nutrisi yang tertampung dalam wadah, dan penanamannya menggunakan bantuan styrofoam. Tanaman ditanam pada lubang styrofoam, kemudian styrofoam diapungkan dalam larutan nutrisi. Dalam FHS larutan nutrisi merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan kualitas hasil tanaman sehingga harus tepat dari segi jumlah, komposisi ion nutrisi, dan suhunya. Kualitas larutan nutrisi dapat diketahui dengan mengukur electrical conductivity (EC). Semakin tinggi konsentrasi larutan semakin tinggi arus listrik yang dihantarkan karena pekatnya kandungan garam dan akumulasi ion mempengaruhi kemampuan untuk menghantarkan listrik larutan nutrisi tersebut.
Pada hasil pengamatan minggu pertama sampel 1 tinggi 6, sampel 2 tinggi 6,5, sampel 3 tinggi 5, sampel 4 tinggi 3,5 belum tumbuh daun. Minggu kedua sampel 1 tinggi 13,5, sampel 2 tinggi 17,5, sampel 3 tinggi 8, sampel 4 tinggi 15. Juga belum tumbuh daun. Minggu ketiga sampel 1 tinggi 19,8, sampel 2 tinggi mati, sampel 3 tinggi 8,5, sampel 4 tinggi 24. Sampel 2 mati hal ini dikarenakan akarnya tidak menyentuh nutrisi sehingga tanaman menjadi kering. Tumbuh daun pada sampel 1 dan 4 sebanyak 1. Minggu keempat sampel 1 tinggi 20,5, sampel 2 tinggi mati, sampel 3 tinggi 10, sampel 4 tinggi 24. Jumlah daun pada sampel 1,3, ada 2. Pada sampel 4 kondisi daun busuk karena terjadi konsentrasi larutan menurun. Minggu kelima sampel 1 tinggi 33, sampel 2,3, dan 4 mati karena EC menurun sehingga penyerapan nutrisi kurang sehingga tanaman menjadi busuk. Pada praktikum rakit apung ini menggunakan daun bawang, untuk taksonominya
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Asparagales
Famili: Alliaceae
Upafamili: Allioideae
Bangsa: Allieae
Genus: Allium
Spesies: A. sativum
Hidroponik system FHS mempunyai kekurangan yaitu tidak adanya udara yang tersirkulasi dengan baik sehingga tanaman kekurangan oksigen untuk proses pertumbuhannya. Namun pada praktikum kali ini, oksigen cukup tersedia karena adanya pompa dari sistem NFT yang digabung dengan sistem FHS ini. Dengan pompa tersebut memungkinkan nutrisi dalam wadah/bak FHS juga ikut berputar, dan oksigen menjadi bertambah jumlahnya.
E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
a. Dalam FHS tanaman hanya ditanam di atas larutan nutrisi yang tertampung dalam wadah, dan penanamannya menggunakan bantuan styrofoam.
b. Dalam FHS larutan nutrisi merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan kualitas hasil tanaman sehingga harus tepat dari segi jumlah, komposisi ion nutrisi, dan suhunya
c. Kualitas larutan nutrisi dapat diketahui dengan mengukur electrical conductivity (EC).
d. Semakin tinggi konsentrasi larutan semakin tinggi arus listrik yang dihantarkan karena pekatnya kandungan garam dan akumulasi ion mempengaruhi kemampuan untuk menghantarkan listrik larutan nutrisi tersebut.
e. Pada hasil pengamatan minggu pertama sampel 1 tinggi 6, sampel 2 tinggi 6,5, sampel 3 tinggi 5, sampel 4 tinggi 3,5 belum tumbuh daun. Minggu kedua sampel 1 tinggi 13,5, sampel 2 tinggi 17,5, sampel 3 tinggi 8, sampel 4 tinggi 15. Juga belum tumbuh daun. Minggu ketiga sampel 1 tinggi 19,8, sampel 2 tinggi mati, sampel 3 tinggi 8,5, sampel 4 tinggi 24.
2. Saran
Semoga Praktikum yang akan datang lebih baik. Sebaiknya mahasiswa prakrikum dari awal sehingga tahu lebih dalam bukan cuma menanam
1. Latar Belakang
Bayam merah, bawang dan kangkung merupakan sayuran daun hijau yang paling digemari masyarakat Indonesia. Produksi bayam merah, bawang dan kangkung perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen, salah satunya dengan cara hidroponik. Hidroponik adalah budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai media tumbuhnya. Jenis media tumbuh, volume larutan nutrisi, dan variasi nilai EC (electrical conductivity) merupakan faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam hidroponik
System rakit apung merupakan suatu budidaya tanaman (khususnya sayuran) dengan cara menanamkan/menancapkan tanaman pada lubang styrofoam yang mengapung diatas permukaaan larutan nutrisi dalam suatu bak penampung sehingga akar tanaman terendam dalam larutan nutrisi.
Pada sistem ini larutan nutrisi disirkulasikan dengan cara larutan nutrisi dialirkan melalui selang yang disambungkan pada system NFT sehingga sirkulasi udara tetap terjaga dan dapat digunakan lagi dengan cara mengontrol kepekatan larutan dalam jangka waktu tertentu. Hal ini perlu dilakukan karena dalam jangka yang cukup lama akan terjadi pengkristalan dan pengendapan pupuk cair dalam dasar kolam yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
Pada dasarnya sistem ini mempunyai beberapa karakteristik seperti terisolasinya lingkungan perakaran yang mengakibatkan fluktuasi suhu larutan nutrisi lebih rendah, dapat digunakan untuk daerah yang sumber energi listriknya terbatas karena energi yang dibutuhkan tidak terlalu tergantung pada energi listrik (mungkin hanya untuk mengalirkan larutan nutrisi dan pengadukan larutan nutrisi saja).
2. Tujuan
Mahasiswa dapat menegtahui dan memahami system hidroponik rakit apung dalam budidaya tanaman sayuran.
B. Tinjauan Pustaka
Pengukuran EC (Electrical Conductivity) biasanya dan sejak lama digunakan untuk menjelaskan konsentrasi dari garam yang terlarut. Penjelasan ini penting untuk menentukan takaran pupuk yang mungkin saja mengandung garam yang akan diaplikasikan pada tanaman. Penggunaan rumus EC ini berdasarkan hukum Ohm, yaitu I=E/R dengan satuan mhos atau 1/ohm (Wilde et al., 1979).
Unsur hara yang diserap tanaman dari dalam tanah terdiri dari 13 unsur mineral yang sering disebut unsure hara esensial. Unsur hara ini sangat dibutuhkan tanaman dan fungsinya tidak dapat digantikan oleh unsur lain. Jika jumlahnya kurang mencukupi, terlalu lambat tersedia, tidak diimbangi oleh unsur - unsur lain akan menyebabkan pertumbuhan tanaman yang terganggu (Novizan, 2002).
Pada sistem kultur hidroponik pemberian nutrisi merupakan hal yang utama karena media yang digunakan tidak meyediakan unsur hara. Media hanya berfungsi sebagai sebagai penegak tanaman atau tempat akar mengikat dan mengalirkan larutan nutrisi. Pupuk merupakan sumber nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Nutrisi didefinisikan sebagai bahan yang mensuplai tanaman dalam bentuk energi atau mineral elemen penting (Sumiati,2000).
Formula nutrien mesti dibetulkan dengan kerapnya semasa pertumbuhan tanaman, kefahaman tentang manipulasi dan pengiraan formula sangatlah perlu. Banyak yang menyatakan formulasi optimum untuk tanaman tertentu, tetapi biasanya kenyataan ini tidak disokong oleh bukti yang jelas karena formulasi optimum bergantung kepada banyak faktor yang lain yang tidak dapat dikawal. Formulasi optimum bergantung kepada faktor-faktor seperti berikut : spesies tanaman, bagian tanaaman yang menjadi hasil, panjang penyinaran, cuaca, suhu, penyinaran cahaya matahari (Resh, 1991).
Dalam kaedah hidroponik, keseluruhan keperluan nutrisi tanaman diberikan pada akar tanaman dalam bentuk larutan. Sebenarnya tanaman boleh hidup tanpa tanah. Akar tanamanan mengambil zat makanan atu nutrient yang tersembunyi di dalam tanah. Tanaman bisa hidup tanpa tanah asalkan kebutuhan nutrient yang diperlukan terpenuhi (Anonim, 2010).
C. Metode Praktikum
1. Waktu Pelaksanaan Praktikum
Praktikum hidrponik rakit apung dilaksanakan pada tanggal 10 November 2010 di Rumah kaca B Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Alat dan Bahan
a. Kolam nutrisi
b. Nutrisi (AB Mix)
c. Bibit tanaman kangkung, bayam merah, daun bawang.
3. Cara Kerja
Satu sterofoam untuk 3 kelompok mahasiswa. Tiap kelompok dengan kedalaman nutrisi sama.
a) Menyaiapkan bibit tanaman sayuran
b) Menanam bibit pada lubang tanam
c) Memelihara tanaman.
d) Pengamatan terhadap komponen pertumbuhan.
D. Hasil dan Pembahasan
1. Hasil Pengamatan
Denah Sampel Tanaman Daun Bawang
O O X O O
O O X V3 O
O V2 X O O
O O X O V4
V1 O X O O
Keterangan = V (Sampel)
B
Tabel 1.1 Hasil Pengamatan Rakit Apung
Minggu Ke- No. Sampel Jumlah Daun Tinggi (cm)
1 (13/10. 10) 1 - 6
2 - 6,5
3 - 5
4 - 3,5
2 (20/10. 10) 1 - 13,5
2 - 17,5
3 - 8
4 - 15
3 (27/10. 10) 1 1 19,8
2 - Mati
3 - 8,5
4 1 2,4
4 (3/11. 10) 1 2 20,5
2 - -
3 2 10
4 2 24
5 (10/11. 10). 1 3 33
2 Mati Mati
3 Mati Mati
4 Mati Mati
Sumber : Laporan Sementara
Tabel 1.2 Hasil Data Rekapan Tinggi Tanaman Rakit Apung
MST Tinggi Tanaman
Kangkung Bayam Kailan Daun Bawang
(9) 2(12) 3(1) 4(8) 1(11) 2 3 1(6) 2(8) 3 1(3) 2
0 0 7,5 1,7 8,28 5,12 6,42 3,97 2,35 3,2 0 0 0
1 5,58 9,75 4,75 12,2 5,87 11,22 5,2 3,70 3,8 5,92 5,57 5,25
2 8,62 19,75 34,5 11,3 6,66 15,45 4,35 4,65 4,37 5,32 14,2 13,5
3 20,12 52 49 11,45 6,75 20,87 3,37 5,73 5,62 5,55 14,51 17,43
4 53,77 92,5 54,25 13 7 26,87 3
6,49 6,87 6,87 9,1 20,9 18,17
5 135,5 - 61,75 - - - 4,12 6,74 - 7,62 27,43 33
∑ 223,5 181,5 171,65 56,25 31,14 80,85 20,05 24,7 23,9 33,5 32,6 87,35
X 44,7 36,6 11,25 6,28 16,17 4,01 4,94 4,78 6,71 16,52 17,47
X total 31,645 8,82 5,47 16,99
Sumber : Data Rekapan
Tabel 1.3 Hasil Data Rekapan Jumlah Daun Tanaman Rakit Apung
MST Tinggi Tanaman
Kangkung Bayam Kailan Daun Bawang
1 2 3 4 1 2 3 1 2 3 1 2
0 0 3 0 2 3 5,75 6,75 5,75 8 0 0 0
1 2,75 4,25 5 8,5 9 6,5 5 7,75 9 10 1 0
2 4 5,25 18,75 11,5 15 6,75 7 4,25 10 8 1 0
3 25 10,5 32,67 29 23 5 6 5,5 11 11 1 1
4 79,25 11,25 82,5 38,7 18 7 - 6,1 17 6,87 17 2 2
5 80,25 - - 85,5 - 8,5 - - - - 3 3
∑ 191,25 34,25 173,65 146,05 69 39,5 24,75 29,35 55 52 8 6
X 38,25 6,05 34,73 29,31 13,6 7,9 4,95 5,87 11 10,4 1,6 1,5
X total 27,26 8,81 9,09 1,55
Sumber : Data Rekapan
Tabel 1.4 Hasil Data Rekapan Panjang Akar Tanaman Rakit Apung
MST Tinggi Tanaman
Kangkung Bayam Kailan Daun Bawang
1 2 3 4 1 2 3 1 2 3 1 2
5 36,77 10,55 34 22,8 15,13 5,37 3,5 2,4 11 6,5 8,8 6,6
∑ 104,12 24,005 19,9 15,4
X total 26,03 8 6,63 1,55
Sumber : Data Rekapan
Tabel 1.5 Hasil Data Rekapan Berat Brangkasan Tanaman Rakit Apung
MST Tinggi Tanaman
Kangkung Bayam Kailan Daun Bawang
1 2 3 4 1 2 3 1 2 3 1 2
5 348,46 18,11 203.5 84,45 30,3 3,4 13,58 22,4 15,57 13,01 6 6,3
∑ 654,52 47,28 30,98 12,3
X total 163,63 15,76 10,32 6,15
Sumber : Data Rekapan
Pengukuran pH = 4,5
EC = 1,84
2. Pembahasan
Floating hidroponik sistem (FHS) adalah salah satu cara budidaya tanaman dalam hidroponik yang cukup mudah untuk dilakukan, karena tidak memerlukan biaya yang banyak dan tidak perlu ketrampilan yang yang lebih. Dalam FHS tanaman hanya ditanam di atas larutan nutrisi yang tertampung dalam wadah, dan penanamannya menggunakan bantuan styrofoam. Tanaman ditanam pada lubang styrofoam, kemudian styrofoam diapungkan dalam larutan nutrisi. Dalam FHS larutan nutrisi merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan kualitas hasil tanaman sehingga harus tepat dari segi jumlah, komposisi ion nutrisi, dan suhunya. Kualitas larutan nutrisi dapat diketahui dengan mengukur electrical conductivity (EC). Semakin tinggi konsentrasi larutan semakin tinggi arus listrik yang dihantarkan karena pekatnya kandungan garam dan akumulasi ion mempengaruhi kemampuan untuk menghantarkan listrik larutan nutrisi tersebut.
Pada hasil pengamatan minggu pertama sampel 1 tinggi 6, sampel 2 tinggi 6,5, sampel 3 tinggi 5, sampel 4 tinggi 3,5 belum tumbuh daun. Minggu kedua sampel 1 tinggi 13,5, sampel 2 tinggi 17,5, sampel 3 tinggi 8, sampel 4 tinggi 15. Juga belum tumbuh daun. Minggu ketiga sampel 1 tinggi 19,8, sampel 2 tinggi mati, sampel 3 tinggi 8,5, sampel 4 tinggi 24. Sampel 2 mati hal ini dikarenakan akarnya tidak menyentuh nutrisi sehingga tanaman menjadi kering. Tumbuh daun pada sampel 1 dan 4 sebanyak 1. Minggu keempat sampel 1 tinggi 20,5, sampel 2 tinggi mati, sampel 3 tinggi 10, sampel 4 tinggi 24. Jumlah daun pada sampel 1,3, ada 2. Pada sampel 4 kondisi daun busuk karena terjadi konsentrasi larutan menurun. Minggu kelima sampel 1 tinggi 33, sampel 2,3, dan 4 mati karena EC menurun sehingga penyerapan nutrisi kurang sehingga tanaman menjadi busuk. Pada praktikum rakit apung ini menggunakan daun bawang, untuk taksonominya
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Asparagales
Famili: Alliaceae
Upafamili: Allioideae
Bangsa: Allieae
Genus: Allium
Spesies: A. sativum
Hidroponik system FHS mempunyai kekurangan yaitu tidak adanya udara yang tersirkulasi dengan baik sehingga tanaman kekurangan oksigen untuk proses pertumbuhannya. Namun pada praktikum kali ini, oksigen cukup tersedia karena adanya pompa dari sistem NFT yang digabung dengan sistem FHS ini. Dengan pompa tersebut memungkinkan nutrisi dalam wadah/bak FHS juga ikut berputar, dan oksigen menjadi bertambah jumlahnya.
E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
a. Dalam FHS tanaman hanya ditanam di atas larutan nutrisi yang tertampung dalam wadah, dan penanamannya menggunakan bantuan styrofoam.
b. Dalam FHS larutan nutrisi merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan kualitas hasil tanaman sehingga harus tepat dari segi jumlah, komposisi ion nutrisi, dan suhunya
c. Kualitas larutan nutrisi dapat diketahui dengan mengukur electrical conductivity (EC).
d. Semakin tinggi konsentrasi larutan semakin tinggi arus listrik yang dihantarkan karena pekatnya kandungan garam dan akumulasi ion mempengaruhi kemampuan untuk menghantarkan listrik larutan nutrisi tersebut.
e. Pada hasil pengamatan minggu pertama sampel 1 tinggi 6, sampel 2 tinggi 6,5, sampel 3 tinggi 5, sampel 4 tinggi 3,5 belum tumbuh daun. Minggu kedua sampel 1 tinggi 13,5, sampel 2 tinggi 17,5, sampel 3 tinggi 8, sampel 4 tinggi 15. Juga belum tumbuh daun. Minggu ketiga sampel 1 tinggi 19,8, sampel 2 tinggi mati, sampel 3 tinggi 8,5, sampel 4 tinggi 24.
2. Saran
Semoga Praktikum yang akan datang lebih baik. Sebaiknya mahasiswa prakrikum dari awal sehingga tahu lebih dalam bukan cuma menanam
Produk Hortikultura
Penanganan buah-buahan pada tahap pascapanen juga harus diperhatikan. Secara garis besar, ada dua faktor yang memengaruhi penanganan produk-produk hortikultura pascapanen, yaitu faktor biologis dan faktor lingkungan. Faktor biologis meliputi respirasi, produksi etilen, perubahan komposisi kimia, dan kehilangan air. Adapun faktor lingkungan meliputi suhu, kelembapan, dan komposisi atmosfer. Kedua faktor itu bisa merusak atau menurunkan kualitas produk hortikultura. Hal lain yang harus diperhatikan produsen produk-produk hortikultura ialah cara pengemasan. Sebaiknya dipilih kemasan yang bisa melindungi produk dari kerusakan (Anonim, 2010).
Sortasi dilakukan dengan tujuan memisahkan hasil panen yang baik dan yang jelek. Pengertian baik disini adalah yang tidak mengalami kebusukan atau kerusakan fisik akibat penguapan atau serangan hama dan penyakit. Grading dilakukan berdasrkan saat panen. Baby corn misalya, bernilai ekonomis tinggi bila dipanen mudah. Grading juga bertujuan untuk memisahkan hasil panen berdasarkan ukuran. Bila penilaianya demikian, sayuran berukuran besar harganya lebih mahal. Akan tetapi, pengkelasan juga di sesuaikan dengan kebiasaan pada suatu negara sistem pengkelasan juga di sesuaikan dengan kebiasaan pada suatu. Sistem suatu negara bisa jadi tidak berlaku pada negara lain (Setyowati dan Asiani, 1992).
Sayur yang dipilih adalah jenis jenis produk sesuai dengan standar mutu yang telah disepakati antara packaging dengan para pemasok(divisi produksi, kemitraan, maupun petani itu sendiri) datang langsung untuk mengirim sayuran hasil produksinya untuk disetoran kepada PT.Saung Mirwan. Selain diantar sendiri. Pihak produksi/mitra untuk membantu pengangkutannya dari lahan ke packing. Apabila pihak pemasok datang sendiri, maka wajib bagi mereka untuk menyaksikan kegiatan sortasi agar tidak ada pihak yang dirugikan dan apabila ada kerusakan yang terjadi sehinga dapat dilakukan perbaikan handling sayuran pada saat pasca panen
(Anonim, 2010).
Masing-masing buah,sayur atau bunga memberikan variasi sangat besar besar pada ukuran,bentuk,warna dan bebas dari cacat/kerusakan. Bagiamanapun, konsumen menginginkan keseragaman bukan perbedaan. Untuk membentuk keseragaman dalam kualitas pasar, sebagian besar produk holtikultura dibagi menjadi 3 atau 4 kelas atau grade dalam perdagangan. Sebagai contoh kelas harga peach adalah U.S fancy, U.S nomor 1dan U.S nomor 2. Kelas U.S fancy mengiginkan buah dengan diameter minimal 1,9 inchi dengan warna merah menutupi lebih dari 50% bagian buah dan bebas dari cacat (Edmond et al, 1983).
Di tempat pengumpulan, polong buncis disortasi, yaitu memisahkan polong yang busuk atau kena serangan hama dan penyakit, polong terlalu tua dan polong yang abnormal (bengkok-bengkok). Bersamaan dengan waktu sortasi, dilakukan pula pengkelasan (klasifikasi) polong, terutama untuk sasaran pasar swalayan ataupun tujuan diekspor. Mutu polong buncis untuk sasaran eksport tersebut meliputi kriteria ukuran panjang polong, berwarna hijau segar, bentuk polong lurus, bebas serangan hama dan penyakit atau kotoran lain dan keadaan polong masih muda. Ukuran polong bervariasi tergantung varietasnya. Varietas buncis tipe tegak seperti Cyprus polongnya mencapai 13 – 14 cm. panjang polong buncis tipe merambat dapat mencapai 30 cm (Rukmana, 1994).
Sortasi dilakukan dengan tujuan memisahkan hasil panen yang baik dan yang jelek. Pengertian baik disini adalah yang tidak mengalami kebusukan atau kerusakan fisik akibat penguapan atau serangan hama dan penyakit. Grading dilakukan berdasrkan saat panen. Baby corn misalya, bernilai ekonomis tinggi bila dipanen mudah. Grading juga bertujuan untuk memisahkan hasil panen berdasarkan ukuran. Bila penilaianya demikian, sayuran berukuran besar harganya lebih mahal. Akan tetapi, pengkelasan juga di sesuaikan dengan kebiasaan pada suatu negara sistem pengkelasan juga di sesuaikan dengan kebiasaan pada suatu. Sistem suatu negara bisa jadi tidak berlaku pada negara lain (Setyowati dan Asiani, 1992).
Sayur yang dipilih adalah jenis jenis produk sesuai dengan standar mutu yang telah disepakati antara packaging dengan para pemasok(divisi produksi, kemitraan, maupun petani itu sendiri) datang langsung untuk mengirim sayuran hasil produksinya untuk disetoran kepada PT.Saung Mirwan. Selain diantar sendiri. Pihak produksi/mitra untuk membantu pengangkutannya dari lahan ke packing. Apabila pihak pemasok datang sendiri, maka wajib bagi mereka untuk menyaksikan kegiatan sortasi agar tidak ada pihak yang dirugikan dan apabila ada kerusakan yang terjadi sehinga dapat dilakukan perbaikan handling sayuran pada saat pasca panen
(Anonim, 2010).
Masing-masing buah,sayur atau bunga memberikan variasi sangat besar besar pada ukuran,bentuk,warna dan bebas dari cacat/kerusakan. Bagiamanapun, konsumen menginginkan keseragaman bukan perbedaan. Untuk membentuk keseragaman dalam kualitas pasar, sebagian besar produk holtikultura dibagi menjadi 3 atau 4 kelas atau grade dalam perdagangan. Sebagai contoh kelas harga peach adalah U.S fancy, U.S nomor 1dan U.S nomor 2. Kelas U.S fancy mengiginkan buah dengan diameter minimal 1,9 inchi dengan warna merah menutupi lebih dari 50% bagian buah dan bebas dari cacat (Edmond et al, 1983).
Di tempat pengumpulan, polong buncis disortasi, yaitu memisahkan polong yang busuk atau kena serangan hama dan penyakit, polong terlalu tua dan polong yang abnormal (bengkok-bengkok). Bersamaan dengan waktu sortasi, dilakukan pula pengkelasan (klasifikasi) polong, terutama untuk sasaran pasar swalayan ataupun tujuan diekspor. Mutu polong buncis untuk sasaran eksport tersebut meliputi kriteria ukuran panjang polong, berwarna hijau segar, bentuk polong lurus, bebas serangan hama dan penyakit atau kotoran lain dan keadaan polong masih muda. Ukuran polong bervariasi tergantung varietasnya. Varietas buncis tipe tegak seperti Cyprus polongnya mencapai 13 – 14 cm. panjang polong buncis tipe merambat dapat mencapai 30 cm (Rukmana, 1994).
Penyakit Pada Tanaman Cabai Merah
Berdasarkan musim, penyakit yang menyerang tanaman cabai terbagi menjadi 2 kelompok: kelompok penyakit yang meneyerang pada musim hujan, dan penyakit yang menyerang pada musim kemarau. Penyakit yang menyerang pada musim penghujan diantaranya adalah : layu fusarium, busuk buah, dll. Sedangkan jenis penyakit yang menyerang tanaman cabai saat musim kemarau diantaranya adalah: antraknosa. Selain itu terdapat penyakit bercak daun yang menyerang tanaman cabai tanpa dipengaruhi musim.
Pada tanaman cabai, penyakit yang meyerang adalah penyakit layu fusarium, busuk buah, dan bercak daun. Hal ini dikarenakan tanaman cabai ditanam pada saat musim penghujan dengan kelembaban dan curah hujan yang tinggi sehuingga mendukung pertumbuhan dan perkembangan penyakit tersebut.
1. Penyakit Layu Fusarium (Fusarium oxyporum)
Penyakit layu fusarium menimbulkan gejala awal berupa infeksi di pangkal leher batang tanaman yang berdekatan dengan tanah. Bagian tersebut membusuk, berwarna coklat, dan terus menjalar ke perakaran.
Gejala serangan ditandai dengan layu tanaman dari kanopi bawah menjalar ke tajuk atas. Ranting muda berubah warna menjadi coklat dan mati. Seluruh tanaman mati dan layudalam waktu 14- 90 hari. Cendawan fusarium berkembang baik pada suhu 24-27 0C, namun cendawan ini mampu bertahan hingga suhu 37 0C.
Pencegahan serangan dapat dilaksanakan dengan menanam cabai dilahan bebas patogen, rotasi tanah perlu diketahui. Sebaiknya menggunakan sawah bekas padi atau palawijo. Secara kimiawi dilakukan penyemprotan fungisida yang berbahan aktif benomil sistemik,seperti benlete. Stuktur tanah harus diperbaiki melalui pengolahan tanah, pupuk organik, dan pembuatan saluran untuk menghindari genangaan.
2. Bercak Daun
Disebabkan oleh Cescospora capsici menyerang tangkai daun, daun, bunga dan batang. Serangan di tangkai buah membuat pertumbuhan dan perkembangan buah terhambat. Daun dan bunga rontok, tahap lebih lanjut calon buah berguguran.
Gejala serangan adanya bercak bulat dengan garis sirkuler. Bagian tengah berwarna abu-abu tua dan coklat tua.
Pengendalian dapat dilakukan dengan melihat sejarah penggunaan lapangan, sanitasi dilakukandengan cermat, membakar sisa tanaman dan gulma. Penanamn cabai sebaiknya dilakukan pada akhir musim hujan dan awal musim kemarau. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida derosol 60 wp dan vitigran blue secara bergantian.
3. Busuk Buah ( Phytopthora Sp)
Disebabkan oleh Phytopthora capsici. Gejala pada tanaman tua infeksi di leher batang. Batang berwarna hijau, mengering dan berwarna coklat. Daun terjadi bercak sirkuler berwarna putih atau tidak beraturan. Bercak ini berkembang luas dan mengering seperti kertas, akibatnya seluruh daun memutih dan pada saat itu spora tumbuh subur.
Pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakn bibit dan lahan yang bebas patogen. Hindari lahan bekas tanaman cabai atau tanamn sefamili. Cabut dan pisahkan tanaman yang telah terserang lalu dibakar. Fungisida sistemik dan kontaksecara bergantian bisa diaplikasikan untuk mencegah resistensi patogen terhadap fungisida.
Dari tabel intensitas dan perkembangan penyakit dapat dilihat bahwa untuk penyakit layu Fusarium dari minggu 1-5 semakin naik, sedangkan untuk penyakit busuk buah dan bercak daun semakin menurun. Naik turunya intensitas dan perkembangan penyakit ini dipengaruhi oleh adanya perubahan musim. Pada saat musim panas intinsitas dan perkembangan penyakit akan menurun, sebaliknya saat musim hujan intensitas perkembangan penyakit akan naik. Naiknya intensitas ini karena pada saat curah hujan tinggi keadaan menjadi lembab dan itu sangat mendukung untuk pertumbuhan penyakit tersebut.
Adanya tanaman lain yang dibudidayakan disekitar lahan tanaman cabai tidak perpengaruh nyata terhadap penyebaran penyakit pada tanaman cabai karena penyakit yang menyerang berbeda. Selain karena ketiga penyakit yang menyerang banyak tanaman cabai yang mengalami layu dan menguning / lanas yang menurut petani itu dakarenakan perubahan suhu yang sangat cepat,yang biasanya suhu sangat panas tiba tiba terguyur hujan. selain lanas bila hujan terlalu tinggi juga akan mengakibatkan buah menjadi pecah karena terlalu banyak kandungan air.
Banyaknya tanaman cabai yang terserang oleh penyakin memberi dampak buruk bagi para petani cabai. Karena dengan adanya penyakit yang menyerang pertumbuhan tanamn menjadi terhambat, banyak buah yang busuk dan rontok,daun –daun menguning bila diabiarkan akhirnya tanamn bisa layu dan mati. Dengan begitu maka terjadi kemerosotan hasil panen yan dialami oleh petani. Petani yang seharusnya bisa memanen cabai bisa ? kali karena banyak yang rontok dan mati sehingga petani hanya bisa memanen ? kali panen.
Biaya yang semakin banyak juga bisa menjadi dampak atau efek dari serangan penyakit tanamn cabai. Mana mungkin petani akan mendiamkan saja tanamnya habis tarseranga penyakit, pastinya petani juga akan berusaha untuk menanggulangi penyakit tersebut dan itupun pasti akan akan mengeluarkan biaya yang banyak untuk membeli fungisida. Sedangkan kadang biaya pengeluaran untuk menanamdan merawat tanamn cabai tidak seimbang dengan biaya pendapatan darihasil panen sehingga petani mengalami kerugian.
Melihat kerugian yang telah dirasakan petani cabai karena serangan beberapa penyakit . Petani setempat telah mengupayakan bagaimana cara menanggulanginya yaitu dengan menyemprotkan fungisida dan juga mencabut tanaman yang telah terinfeksi pada tanaman yang terserang layu fusarium, untuk tanaman yang terserang bercak daun para petani menanggulanginya dengan pestisida dan dicabut, untuk busuk buah ditanggulangi dengan disemprot pestisida juga.
Pada tanaman cabai, penyakit yang meyerang adalah penyakit layu fusarium, busuk buah, dan bercak daun. Hal ini dikarenakan tanaman cabai ditanam pada saat musim penghujan dengan kelembaban dan curah hujan yang tinggi sehuingga mendukung pertumbuhan dan perkembangan penyakit tersebut.
1. Penyakit Layu Fusarium (Fusarium oxyporum)
Penyakit layu fusarium menimbulkan gejala awal berupa infeksi di pangkal leher batang tanaman yang berdekatan dengan tanah. Bagian tersebut membusuk, berwarna coklat, dan terus menjalar ke perakaran.
Gejala serangan ditandai dengan layu tanaman dari kanopi bawah menjalar ke tajuk atas. Ranting muda berubah warna menjadi coklat dan mati. Seluruh tanaman mati dan layudalam waktu 14- 90 hari. Cendawan fusarium berkembang baik pada suhu 24-27 0C, namun cendawan ini mampu bertahan hingga suhu 37 0C.
Pencegahan serangan dapat dilaksanakan dengan menanam cabai dilahan bebas patogen, rotasi tanah perlu diketahui. Sebaiknya menggunakan sawah bekas padi atau palawijo. Secara kimiawi dilakukan penyemprotan fungisida yang berbahan aktif benomil sistemik,seperti benlete. Stuktur tanah harus diperbaiki melalui pengolahan tanah, pupuk organik, dan pembuatan saluran untuk menghindari genangaan.
2. Bercak Daun
Disebabkan oleh Cescospora capsici menyerang tangkai daun, daun, bunga dan batang. Serangan di tangkai buah membuat pertumbuhan dan perkembangan buah terhambat. Daun dan bunga rontok, tahap lebih lanjut calon buah berguguran.
Gejala serangan adanya bercak bulat dengan garis sirkuler. Bagian tengah berwarna abu-abu tua dan coklat tua.
Pengendalian dapat dilakukan dengan melihat sejarah penggunaan lapangan, sanitasi dilakukandengan cermat, membakar sisa tanaman dan gulma. Penanamn cabai sebaiknya dilakukan pada akhir musim hujan dan awal musim kemarau. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida derosol 60 wp dan vitigran blue secara bergantian.
3. Busuk Buah ( Phytopthora Sp)
Disebabkan oleh Phytopthora capsici. Gejala pada tanaman tua infeksi di leher batang. Batang berwarna hijau, mengering dan berwarna coklat. Daun terjadi bercak sirkuler berwarna putih atau tidak beraturan. Bercak ini berkembang luas dan mengering seperti kertas, akibatnya seluruh daun memutih dan pada saat itu spora tumbuh subur.
Pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakn bibit dan lahan yang bebas patogen. Hindari lahan bekas tanaman cabai atau tanamn sefamili. Cabut dan pisahkan tanaman yang telah terserang lalu dibakar. Fungisida sistemik dan kontaksecara bergantian bisa diaplikasikan untuk mencegah resistensi patogen terhadap fungisida.
Dari tabel intensitas dan perkembangan penyakit dapat dilihat bahwa untuk penyakit layu Fusarium dari minggu 1-5 semakin naik, sedangkan untuk penyakit busuk buah dan bercak daun semakin menurun. Naik turunya intensitas dan perkembangan penyakit ini dipengaruhi oleh adanya perubahan musim. Pada saat musim panas intinsitas dan perkembangan penyakit akan menurun, sebaliknya saat musim hujan intensitas perkembangan penyakit akan naik. Naiknya intensitas ini karena pada saat curah hujan tinggi keadaan menjadi lembab dan itu sangat mendukung untuk pertumbuhan penyakit tersebut.
Adanya tanaman lain yang dibudidayakan disekitar lahan tanaman cabai tidak perpengaruh nyata terhadap penyebaran penyakit pada tanaman cabai karena penyakit yang menyerang berbeda. Selain karena ketiga penyakit yang menyerang banyak tanaman cabai yang mengalami layu dan menguning / lanas yang menurut petani itu dakarenakan perubahan suhu yang sangat cepat,yang biasanya suhu sangat panas tiba tiba terguyur hujan. selain lanas bila hujan terlalu tinggi juga akan mengakibatkan buah menjadi pecah karena terlalu banyak kandungan air.
Banyaknya tanaman cabai yang terserang oleh penyakin memberi dampak buruk bagi para petani cabai. Karena dengan adanya penyakit yang menyerang pertumbuhan tanamn menjadi terhambat, banyak buah yang busuk dan rontok,daun –daun menguning bila diabiarkan akhirnya tanamn bisa layu dan mati. Dengan begitu maka terjadi kemerosotan hasil panen yan dialami oleh petani. Petani yang seharusnya bisa memanen cabai bisa ? kali karena banyak yang rontok dan mati sehingga petani hanya bisa memanen ? kali panen.
Biaya yang semakin banyak juga bisa menjadi dampak atau efek dari serangan penyakit tanamn cabai. Mana mungkin petani akan mendiamkan saja tanamnya habis tarseranga penyakit, pastinya petani juga akan berusaha untuk menanggulangi penyakit tersebut dan itupun pasti akan akan mengeluarkan biaya yang banyak untuk membeli fungisida. Sedangkan kadang biaya pengeluaran untuk menanamdan merawat tanamn cabai tidak seimbang dengan biaya pendapatan darihasil panen sehingga petani mengalami kerugian.
Melihat kerugian yang telah dirasakan petani cabai karena serangan beberapa penyakit . Petani setempat telah mengupayakan bagaimana cara menanggulanginya yaitu dengan menyemprotkan fungisida dan juga mencabut tanaman yang telah terinfeksi pada tanaman yang terserang layu fusarium, untuk tanaman yang terserang bercak daun para petani menanggulanginya dengan pestisida dan dicabut, untuk busuk buah ditanggulangi dengan disemprot pestisida juga.
Hama Pada Tanaman Cabai Merah
Hama utama yang menyerang tanaman cabai merah di lahan Kodokan, Desa Papahan, Karangnyar adalah thrips, lalat buah dan ulat buah. Ketiga hama ini sering menimbulkan permasalahan pada lahan cabai merah milik petani.
1. Thrips (Thrips parvispinus Karny)
Hama thrips daun juga dikenal dengan nama hama putih karena nimfa atau larvanya berwarna keputih-putihan. Tubuh thrips dewasa berukuran sekitar 1 mm, berwarna kuning coklat. Hama ini dapat menghasilkan telur tanpa melalui pembuahan, jumlah telur yang dihasilkan sekitar 10-120 butir, yang diletakkan secara berpencar di bawah daun. Pada daun muda, gejala serangan ditandai dengan adanya noda keperakan yang tidak beraturan. Luka ini terjadi karena dimakan oleh serangga. Noda keperakan lebih lanjut berubah menjadi coklat tembaga dan menyebabkan daun mengeriting ke atas.
Pada musim kemarau populasi serangan hama ini sangat tinggi dan penyebarannya dibantu oleh tiupan angin, karena serangga dewasa tidak dapat terbang.Pengendalian dilakukan secara kimia dengan menyemprotkan insektisida ataupun secara biologi dengan menempatkan musuh alaminya, yakni kumbang Coccinellidae, tungau predator, dan kepik Anthocoridae.
2. Lalat buah (Bactrocera dorcalis Hendel.)
Lalat buah termasuk serangga polifag atau mempunyai banyak inang. Serangga ini menyerang buah cabai ditandai dengan adanya titik hitam pada pangkal buah. Buah cabai membusuk dan akhirnya rontok. Serangga betina dewasa meletakkan telurnya dengan jalan menusukkan ovipositornya ke dalam buah. Larva lalat buah memiliki kemampuan melentingkan badannya sehingga mampu meloncat ke mana-mana. Pada siang hari, kadang-kadang larva tersebut terlihat di daun dan bunga cabai. Larva ini kemudiaan keluar dari buah dan membentuk puva didalam tanah.
Pada saat pengamatan dilakukan pada 10 tanman sampel, ditemukan beberapa hama lalat buah yang sedang hinggap pada buah cabai merah. Hinggapnya lalat buah pada buah cabai merah merupakan saat lalat buah tersebut meletakkan telur ke dalam bagian buah cabai merah tersebut. Sehingga, telur lalat buah tersebut nantinya akan menetas didalam buah cabai yang akan menyebabkan buah busuk karena adanya larva lalat buah yaitu ulat buah pada buah cabai. Sehingga buah cabai tersebut tidak dapat dipanen.
3. Ulat buah (Helicoverpa armigera Hubner.)
Ulat buah pada cabai merah merupakan larva dari lalat buah. Ulat ini menyerang buah cabai sejak cabai masih hijau. Buah yang terserang ulat buah ini, pada permukaan buah terlihat adanya lubang. Jika buah cabai dibelah, ulatnya akan terlihat, ulat buah ini berwarna putih dan dapat melentingkan tubuhnya. Ulat hidup dalam buah, membuat buah menjadi busuk dan akhirnya rontok.
Dari pengamatan di lapang diketahui bahwa intensitas kerusakan yang disebabkan oleh hama setiap minggunya menurun, hal inni disebabkan tanaman cabbai merah sudah tidak produksif lagi dan banyak yang mati. Sehingga hama tidak tertarik lagi untuk menyerang tanaman cabai merah tersebut. Tindakan penanganan yang telah dilakukan oleh petani adalah dengan cara kimiawi menggunakan pestisida. Penanganan hama ini dilakukan petani saat tanaman memperliahtkan gejala tanaman yang terkena serangan hama, sehingga tidak ada tindakan preventif atau pencegahan terhadap serangan hama tanaman ini oleh petani.
KONDISI LINGKUNGAN YG MEMPENGARUHI OPERKEMBANGAN HAMA?????
Cara pengendalian hama yang telah dilakukan oleh petani cabai merah adalah secara kimiawi dengan menggunakan pestisida. Pestisida merupakan senjata yang paling ampuh bagi petani cabai merah untuk melindungi tanaman dari serangan hama sehingga kemerosotan hasil dapat dikurangi. Pestisida yang digunakan adalah pestisida Curacron dan juga menggunakan perangsang lalat buah jantan yaitu Methyl eugenol.
Menurut konsep pengendalian hama terpadu, pestisida merupakan salah satu komponen pengendali. Prinsip penggunaannya harus kompatibel dengan komponen pengendali yang lain, efisien, tidak meninggaklkan residu dalam jangka waktu yang lama, serta aman bagi lingkungan.
Hama merupakan salah satu masalah penting yang diperhatikan dalam usaha produksi tanaman secara umum karena hama mampu menurunkan produksi secara signifikan baik kualitatif maupun kuantitatif. Demikian juga halnya pada tanaman cabai yang sebagaian besar produknya dikonsumsi dalam keadaan segar, namun petani masih mengandalkan insektisida kimia sintetis untuk mengendalikan hama. Penggunaan insektisida kimia sintetis oleh petani merupakan masalah yang sangat perlu dipertimbangkan terutama dampak residu terhadap lingkungan, kesehatan manusia dan terhadap mahluk hidup lainnya serta satwa-satwa liar. Oleh karena itu, harus dicari cara alternatif yang lebih aman dalam pengendalian hama antara lain dengan mengusahakan budidaya pertanian organik yang pada prinsipnya meminimalkan input produksi seperti pupuk dan pestisida dari senyawa kimia sintetis.
Waktu tanam yang tepat merupakan salah satu strategi dalam pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Penyakit umumnya lebih banyak menyerang tanaman pada musim hujan, termasuk penyakit pascapanen. Oleh karena itu, cabai ditanam pada musim kemarau, yaitu pada bulan Juli, dan dipanen pada bulan September. Hama utama pada cabai adalah wereng (Empoasca sp.), Thrips sp., kutu daun (Aphis sp., Myzus persicae), lalat putih (Bemisia tabacci), dan lalat buah (Dacus dorsalis). Belalang, ulat (Spodoptera litura), dan kepik perisai (Nezara viridula) hanya menimbulkan kerusakan ringan. Thrips dan kutu mengisap cairan daun sehingga daun menjadi kuning, menggulung atau keriting, dan kering. Kerusakan tanaman yang ditimbulkan rendah, sehingga tidak menimbulkan kerugian hasil.
Makin tua umur tanaman cabai, tajuk makin merapat. Kondisi ini sesuai bagi hama untuk berkembang biak karena terhindar dari panas matahari langsung, kelembapan tinggi, suhu tidak terlalu panas, dan makanan tersedia. Oleh karena itu, hama yang menyerang tanaman cabai juga makin beragam. Makin banyak populasi dan jenis hama, musuh alaminya pun makin beragam. Musuh alami berperan dalam menekan populasi hama. Makin banyak jumlah musuh alami, makin efektif mengendalikan hama.
Musuh alami dapat berupa predator dan parasitoid. Predator yang ditemukan pada pertanaman cabai di lahan Kodokan milik petani antara lain adalah imago (serangga dewasa) Coccinela dan larvanya (merupakan predator yang ganas), arachnida (laba-laba), dan semut. Parasitoid yang ditemukan termasuk dalam ordo Hymenoptera (tabuhan). Parasitoid ini berwarna oranye kemerahan, ukuran tubuh kecil, aktif bergerak, dan mempunyai alat untuk meletakkan telur yang cukup panjang sehingga cepat mematikan hama. Coccinela merupakan pemangsa kutu-kutuan. Arachnida merupakan predator segala jenis hama yang berukuran kecil.
Dinamika populasi hama pada pertanaman cabai merah cukup stabil, tidak terjadi lonjakan populasi yang mencolok. Keterpaduan praktek budi daya tanaman sehat dan PHT berdasarkan ekologi mampu menjaga kunci utama PHT yaitu monitoring populasi hama dan intensitas kelestarian musuh alami hama. serangan penyakit secara rutin sebagai dasar keputusan perlu/tidaknya penggunaan pestisida sebagai alternatif terakhir dalam pengendalian OPT. Berdasarkan hasil monitoring rutin OPT, ternyata penerapan berbagai teknik pengendalian dan budi daya tanaman sehat mampu menekan serangan hama dan penyakit. Meskipun hal ini belum diterapkan oleh petani cabai merah di daerah Kodokan, Papahan, Karanganyar.
Pengendalian hama Trhips dan lalat buah pada tanaman cabai yang sudah dilakukan oleh petani cabai merah ini adalah dengan mkenyemprotkan insektisida secara langsung saat petani meliahat adanya gejala pada tanaman cabai merah, apabila tidak ditemukan gejala kerusakan pada tanaman cabai maka tidak dilakukan penyemprotan.
Tanaman cabai di lahan Kodokan, juga ditemukan serangan hama patek (cendawan antreknusa). Kendati areal yang diserang masih kecil, namun hujan yang turun terus disertai angin dan udara yang sangat lembab, hal ini mempercepat penyebaran dan perkembangan hama tersebut.
Pengamatan pada beberapa tanaman cabai menunjukkan, serangan hama yang paling parah terjadi yang disebabkan oleh hama Trhips saat musim kemarau sedangkan saat musim penghujan hama yang lebih dominan adalah lalat buah dengan larvanya yaitu ulat buah yang menyerang buah cabai merah.
Tanaman cabai yang diserang oleh Trhips ditandai dengan daun yang keriting, pucat, layu dan akhirnya mati. Cara menyerang hama ini adalah dengan menghisap cairan yang ada pada daun. Pengendalian yang telah dilakukan petani untuk mengurangi intensitas kerusakan yang disebabkan oleh hama Trhips adalah dengan sanitasi kebun yaitu membersihkan rumput dan gulma, dan dengan penyemprotan pestisisda. Hama ini umumnya menyebar lewat angin dan iklim yang kelembabannya tinggi, serta melalui manusia. Orang yang masuk ke areal yang sudah diserang dan masuk lagi ke areal yang bersih, maka bisa dipastikan areal bersih itu juga akan terkena serangan hama Trhips.
Hama lalat buah menyerang buah cabai baik yang masih muda maupun yang sudah tua. Serangan hama ini menyebabkan pertumbuahn buah cabai terganggu dan gugur sebelum masak. Serangan pada buah masak menyebabkan buah tidak berwarna merah, tetapi menjadi kehitam-hitaman dan mengeras. Serangan hama lalat buah dapat menurunkan hasil panen cabai merah. Lalat bhuah muncul saat musim penghujan, yang penyebarannya terjadi melalui lalat dewasa yang meletakkan telurnya dalam buah, selanjutnya telur-telur tersebut akan menetas menjadi larva. Larva inilah yang merusak daging buah cabai dan menyebabkan buah membusuk tanpa ada bagian yang dapat dimanfaatkan.
1. Thrips (Thrips parvispinus Karny)
Hama thrips daun juga dikenal dengan nama hama putih karena nimfa atau larvanya berwarna keputih-putihan. Tubuh thrips dewasa berukuran sekitar 1 mm, berwarna kuning coklat. Hama ini dapat menghasilkan telur tanpa melalui pembuahan, jumlah telur yang dihasilkan sekitar 10-120 butir, yang diletakkan secara berpencar di bawah daun. Pada daun muda, gejala serangan ditandai dengan adanya noda keperakan yang tidak beraturan. Luka ini terjadi karena dimakan oleh serangga. Noda keperakan lebih lanjut berubah menjadi coklat tembaga dan menyebabkan daun mengeriting ke atas.
Pada musim kemarau populasi serangan hama ini sangat tinggi dan penyebarannya dibantu oleh tiupan angin, karena serangga dewasa tidak dapat terbang.Pengendalian dilakukan secara kimia dengan menyemprotkan insektisida ataupun secara biologi dengan menempatkan musuh alaminya, yakni kumbang Coccinellidae, tungau predator, dan kepik Anthocoridae.
2. Lalat buah (Bactrocera dorcalis Hendel.)
Lalat buah termasuk serangga polifag atau mempunyai banyak inang. Serangga ini menyerang buah cabai ditandai dengan adanya titik hitam pada pangkal buah. Buah cabai membusuk dan akhirnya rontok. Serangga betina dewasa meletakkan telurnya dengan jalan menusukkan ovipositornya ke dalam buah. Larva lalat buah memiliki kemampuan melentingkan badannya sehingga mampu meloncat ke mana-mana. Pada siang hari, kadang-kadang larva tersebut terlihat di daun dan bunga cabai. Larva ini kemudiaan keluar dari buah dan membentuk puva didalam tanah.
Pada saat pengamatan dilakukan pada 10 tanman sampel, ditemukan beberapa hama lalat buah yang sedang hinggap pada buah cabai merah. Hinggapnya lalat buah pada buah cabai merah merupakan saat lalat buah tersebut meletakkan telur ke dalam bagian buah cabai merah tersebut. Sehingga, telur lalat buah tersebut nantinya akan menetas didalam buah cabai yang akan menyebabkan buah busuk karena adanya larva lalat buah yaitu ulat buah pada buah cabai. Sehingga buah cabai tersebut tidak dapat dipanen.
3. Ulat buah (Helicoverpa armigera Hubner.)
Ulat buah pada cabai merah merupakan larva dari lalat buah. Ulat ini menyerang buah cabai sejak cabai masih hijau. Buah yang terserang ulat buah ini, pada permukaan buah terlihat adanya lubang. Jika buah cabai dibelah, ulatnya akan terlihat, ulat buah ini berwarna putih dan dapat melentingkan tubuhnya. Ulat hidup dalam buah, membuat buah menjadi busuk dan akhirnya rontok.
Dari pengamatan di lapang diketahui bahwa intensitas kerusakan yang disebabkan oleh hama setiap minggunya menurun, hal inni disebabkan tanaman cabbai merah sudah tidak produksif lagi dan banyak yang mati. Sehingga hama tidak tertarik lagi untuk menyerang tanaman cabai merah tersebut. Tindakan penanganan yang telah dilakukan oleh petani adalah dengan cara kimiawi menggunakan pestisida. Penanganan hama ini dilakukan petani saat tanaman memperliahtkan gejala tanaman yang terkena serangan hama, sehingga tidak ada tindakan preventif atau pencegahan terhadap serangan hama tanaman ini oleh petani.
KONDISI LINGKUNGAN YG MEMPENGARUHI OPERKEMBANGAN HAMA?????
Cara pengendalian hama yang telah dilakukan oleh petani cabai merah adalah secara kimiawi dengan menggunakan pestisida. Pestisida merupakan senjata yang paling ampuh bagi petani cabai merah untuk melindungi tanaman dari serangan hama sehingga kemerosotan hasil dapat dikurangi. Pestisida yang digunakan adalah pestisida Curacron dan juga menggunakan perangsang lalat buah jantan yaitu Methyl eugenol.
Menurut konsep pengendalian hama terpadu, pestisida merupakan salah satu komponen pengendali. Prinsip penggunaannya harus kompatibel dengan komponen pengendali yang lain, efisien, tidak meninggaklkan residu dalam jangka waktu yang lama, serta aman bagi lingkungan.
Hama merupakan salah satu masalah penting yang diperhatikan dalam usaha produksi tanaman secara umum karena hama mampu menurunkan produksi secara signifikan baik kualitatif maupun kuantitatif. Demikian juga halnya pada tanaman cabai yang sebagaian besar produknya dikonsumsi dalam keadaan segar, namun petani masih mengandalkan insektisida kimia sintetis untuk mengendalikan hama. Penggunaan insektisida kimia sintetis oleh petani merupakan masalah yang sangat perlu dipertimbangkan terutama dampak residu terhadap lingkungan, kesehatan manusia dan terhadap mahluk hidup lainnya serta satwa-satwa liar. Oleh karena itu, harus dicari cara alternatif yang lebih aman dalam pengendalian hama antara lain dengan mengusahakan budidaya pertanian organik yang pada prinsipnya meminimalkan input produksi seperti pupuk dan pestisida dari senyawa kimia sintetis.
Waktu tanam yang tepat merupakan salah satu strategi dalam pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Penyakit umumnya lebih banyak menyerang tanaman pada musim hujan, termasuk penyakit pascapanen. Oleh karena itu, cabai ditanam pada musim kemarau, yaitu pada bulan Juli, dan dipanen pada bulan September. Hama utama pada cabai adalah wereng (Empoasca sp.), Thrips sp., kutu daun (Aphis sp., Myzus persicae), lalat putih (Bemisia tabacci), dan lalat buah (Dacus dorsalis). Belalang, ulat (Spodoptera litura), dan kepik perisai (Nezara viridula) hanya menimbulkan kerusakan ringan. Thrips dan kutu mengisap cairan daun sehingga daun menjadi kuning, menggulung atau keriting, dan kering. Kerusakan tanaman yang ditimbulkan rendah, sehingga tidak menimbulkan kerugian hasil.
Makin tua umur tanaman cabai, tajuk makin merapat. Kondisi ini sesuai bagi hama untuk berkembang biak karena terhindar dari panas matahari langsung, kelembapan tinggi, suhu tidak terlalu panas, dan makanan tersedia. Oleh karena itu, hama yang menyerang tanaman cabai juga makin beragam. Makin banyak populasi dan jenis hama, musuh alaminya pun makin beragam. Musuh alami berperan dalam menekan populasi hama. Makin banyak jumlah musuh alami, makin efektif mengendalikan hama.
Musuh alami dapat berupa predator dan parasitoid. Predator yang ditemukan pada pertanaman cabai di lahan Kodokan milik petani antara lain adalah imago (serangga dewasa) Coccinela dan larvanya (merupakan predator yang ganas), arachnida (laba-laba), dan semut. Parasitoid yang ditemukan termasuk dalam ordo Hymenoptera (tabuhan). Parasitoid ini berwarna oranye kemerahan, ukuran tubuh kecil, aktif bergerak, dan mempunyai alat untuk meletakkan telur yang cukup panjang sehingga cepat mematikan hama. Coccinela merupakan pemangsa kutu-kutuan. Arachnida merupakan predator segala jenis hama yang berukuran kecil.
Dinamika populasi hama pada pertanaman cabai merah cukup stabil, tidak terjadi lonjakan populasi yang mencolok. Keterpaduan praktek budi daya tanaman sehat dan PHT berdasarkan ekologi mampu menjaga kunci utama PHT yaitu monitoring populasi hama dan intensitas kelestarian musuh alami hama. serangan penyakit secara rutin sebagai dasar keputusan perlu/tidaknya penggunaan pestisida sebagai alternatif terakhir dalam pengendalian OPT. Berdasarkan hasil monitoring rutin OPT, ternyata penerapan berbagai teknik pengendalian dan budi daya tanaman sehat mampu menekan serangan hama dan penyakit. Meskipun hal ini belum diterapkan oleh petani cabai merah di daerah Kodokan, Papahan, Karanganyar.
Pengendalian hama Trhips dan lalat buah pada tanaman cabai yang sudah dilakukan oleh petani cabai merah ini adalah dengan mkenyemprotkan insektisida secara langsung saat petani meliahat adanya gejala pada tanaman cabai merah, apabila tidak ditemukan gejala kerusakan pada tanaman cabai maka tidak dilakukan penyemprotan.
Tanaman cabai di lahan Kodokan, juga ditemukan serangan hama patek (cendawan antreknusa). Kendati areal yang diserang masih kecil, namun hujan yang turun terus disertai angin dan udara yang sangat lembab, hal ini mempercepat penyebaran dan perkembangan hama tersebut.
Pengamatan pada beberapa tanaman cabai menunjukkan, serangan hama yang paling parah terjadi yang disebabkan oleh hama Trhips saat musim kemarau sedangkan saat musim penghujan hama yang lebih dominan adalah lalat buah dengan larvanya yaitu ulat buah yang menyerang buah cabai merah.
Tanaman cabai yang diserang oleh Trhips ditandai dengan daun yang keriting, pucat, layu dan akhirnya mati. Cara menyerang hama ini adalah dengan menghisap cairan yang ada pada daun. Pengendalian yang telah dilakukan petani untuk mengurangi intensitas kerusakan yang disebabkan oleh hama Trhips adalah dengan sanitasi kebun yaitu membersihkan rumput dan gulma, dan dengan penyemprotan pestisisda. Hama ini umumnya menyebar lewat angin dan iklim yang kelembabannya tinggi, serta melalui manusia. Orang yang masuk ke areal yang sudah diserang dan masuk lagi ke areal yang bersih, maka bisa dipastikan areal bersih itu juga akan terkena serangan hama Trhips.
Hama lalat buah menyerang buah cabai baik yang masih muda maupun yang sudah tua. Serangan hama ini menyebabkan pertumbuahn buah cabai terganggu dan gugur sebelum masak. Serangan pada buah masak menyebabkan buah tidak berwarna merah, tetapi menjadi kehitam-hitaman dan mengeras. Serangan hama lalat buah dapat menurunkan hasil panen cabai merah. Lalat bhuah muncul saat musim penghujan, yang penyebarannya terjadi melalui lalat dewasa yang meletakkan telurnya dalam buah, selanjutnya telur-telur tersebut akan menetas menjadi larva. Larva inilah yang merusak daging buah cabai dan menyebabkan buah membusuk tanpa ada bagian yang dapat dimanfaatkan.
Langganan:
Postingan (Atom)