a. Sejarah Pertanaman/Lahan
Lahan yang digunakan untuk budidaya tanaman cabai merah di lahan Kodokan, daerah Papahan merupakan lahan yang dua musim tanam sebelumnya ditanami tanaman padi.
b. Persiapan lahan
Luas lahan 2500 m2
Kondisi tanah : tanah liat berlempung, sehingga dilakukan pengapuran dengan menggunakan dolomit.
Penanaman : pada bulan ke-8 (Agustus)
Jarak tanam :
– antar tanaman : 70 x 70 cm
– lebar bedengan : 120 cm
– jarak bedengan : 75 – 80 cm
– tinggi bedengan : menyesuaikan
Sistem penanaman : monokultur
c. Penyiapan Benih dan Pembibitan
Bersamaan dengan terbentuknya bedengan kasar, dilakukan penyiapan benih dan pembibitan di pesemaian. Benih diperoleh di toko daerah Palur, benih cabai disemaikan terlebih dahulu dalam polybag kecil. Populasi bibit yang diambil dari pesemaian 6000 tanaman. Benih disemaikan pada akhir bulan ke-7, dan siap ditanam pada awal bulan ke-8.
d. Pemasangan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP) dan Pemupukan
Sebelum MPHP dipasang untuk menutupi permukaan bedengan, terlebih dahulu dilakukan pemupukan pupuk buatan dan pupuk kandang secara total sekaligus. Jenis pupuk awal yang digunakanm oleh petani cabai merah adalah: ZA, KCl, TSP, Phoska dan Pupuk kandang. Campuran pupuk bauatan dan pupuk kandang ini disebar merata sambil diaduk dan dibalikkan dengan tanah bedengan. Kemudian bedengan dirapikan, dan setelah itu disiram air secukupnya agar pupuk dapat larut ke lapisan tanah.
Pemasangan MPHP memperhatikan cuaca, yakni pada saat terik matahari antara pukul 14.00 – 16.00 agar plastic tersebut memanjang dan menutup tanah serapat mungkin. Bedengan yang telah tertutup MPHP dibiarkan dulu selama kurang lebih 5 hari agar pupuk larut dalam tanah dan tidak membahayakan (toksis) bibit cabai yang ditanam.
e. Penanaman Bibit Cabai
Waktu tanam cabai merah adalah pagi hari, dan bibit cabai telah berumur 17 – 23 hari atau berdaun 2 – 4 helai. Sehari sebelum tanam, bedengan yang telah ditutup MPHP harus dibuatkan lubang tanam dahulu. Jarak tanam yang digunakan adalah 70 x 70 cm.
Cara penanaman cabai merah adalah sebagai berikut: mula-mula sebagian tanah pada lubang tanam diangkat kira-kira seukuran media polybag; kemudian bibit dimasukkan sambil diurug tanah hingga dekat pangkal batangnya cukup padat. Selesai tanam, segera disiram sampai tanahnya cukup basah.
f. Pemeliharaan Tanaman
Kegiatan pokok dalam budidaya tanaman cabai merah adalah pemasangan ajir, penyiraman (pengairan), perempelan tunas atau bunga pertama, pemupukan tanmbahan (susulan), perempelan daun bawah di bawah cabang, pengendalian hama dan penyakit.
Pemasangan ajir dilakukan sedini mungkin pada saat tanaman belum berumur 1 bulan setelah pindah tanam. Hal ini untuk mencegah terjadinya kerusakan akar tanaman cabai sewaktu memasang ajir. Ajir berfungsi untuk menopang pertumbuhan tanaman agar kuat dan kokoh.
Pada fase awal pertumbuhan penyiraman dilakukan secara rutin setiap hari, terutama saat musim kemarau. Setelah tanaman tumbuh kuat dan perakarannya dalam, pengairan berikutnya dilakukan dengan cara pengairan secara langsung diantara bedengan.
Perempelan
Cabai merah umumnya bertunas banyak yang tumbuh dari ketiak-ketiak daun. Tunas ini tidak produktif dan akan mengganggu pertumbuhan secara optimal. Oleh karena itu, perlu perempelan (pembuangan) tunas samping. Perempelan ini dilakukan pada tanaman cabai merah berumur 7-20 hari. Semua tunas samping dibuang agar tanaman tumbuh kuat dan kokoh. Saat terbentuk cabang, maka perempelan tunas dihentikan. Saat tanaman mengeluarkan bunga pertama pada percabangan pertama, maka bunga ini juga dirempel. Tujuannya adalah untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas dan percabangan di atasnya yang lebih banyak dan produktif menghasilkan buah yang lebat.
Pemupukan lanjutan : Pupuk cair (N,P,K) + pupuk hijau+ KNO3
Sekalipun pemupukan telah dilakukan pada saat pemasangan MPHP, namun untuk menyuburkan tanah dapat diberi pupuk tambahan (susulan).
KNO3: awal merah
Jika sudah tumbuh buah putih
Pengendalian hama, penyakit dan gulma
Salah satu factor penghambat peningkatan produksi cabai merah adalah adanya serangan hama dan penyakit yang fatal serta adanay gulma. Pengendalian gulma yang telah dilakukan oleh petani cabai merah adalah secara kimia menggunakan herbisida kontak dan sistemik. Herbisida kontak yang digunakan adalah Gramaxone dan herbisida sistemik adalah Roundup.
g. Panen
Umur tanaman 85 – 95 hari sudah dilakukan pemanenan buah cabai merah yang pertama..Saat pelaksanaan pengamatan pada tanaman cabai merah, merupakan panen yang ke-2. Pada saat panen, pemanenan dilakukan tiga kali sehari. Interval pemanenan 3 hari sekali, pemanenan dilakukan ketika siang hari atau embun sudah hilang. Cabai yang siap dipanen adalah cabai yang telah berwarna merah.
saya seorang mahasiswa pertanian yang ingin mengembangkan pertanian dan mengubah dunia ,membahagiakan orang tua,,dan besuk mempunyai keluarga yang baik doakan ...Salam pertanaian Petani Jaya bangsa Berjaya
Selamat datang di blok pertanian semoga bermanfaat buat petani...
Salam Pertanian
Petani Sejahtera Bangsa Berjaya
Salam Pertanian
Petani Sejahtera Bangsa Berjaya
Senin, 03 Januari 2011
Tentang Cabai
Cabai merupakan tanaman tahunan yang tegak dengan batang berkayu, banyak cabang, serta ukuran yang mencapai tinggi 120 cm dan lebar tajuk tanaman hingga 90 cm. Umumnya, daun cabai berwarna hijau muda sampai hijau gelap, tergantung varietasnya. Daun cabai ditopang oleh tangkai daun mempunyai tulang menyirip. Daun cabai berbentuk bulat telur, lonjong, atau pun oval dengan ujung yang meruncing, tergantung spesies dan varietasnya (Agromedia, 2008).
Cabai merah (Capsicum annum L.) di Indonesia merupakan komoditas
sayuran yang penting dilihat dari kebutuhan maupun jumlahnya. Salah satu hama
penting tanaman cabai adalah Thrips tabaci L. menyerang daun dan buah, selain
itu juga sebagai vektor penyakit virus yang dapat menyebabkan daun kriting dan
tanaman cabai kerdil, pada tingkat serangan yang berat dapat menyebabkan kehilangan hasil yang mencapai 30–40%. Pengendalian hama cabai di Indonesia masih mengandalkan insektisida sintetik, penggunaan insektisida yang kurang bijaksana akan dapat menimbulkan dampak negatif seperti terjadinya resurgensi hama, resistensi hama, matinya musuh alami, polusi lingkungan, dan merugikan kesehatan manusia (Mujiono, 2008).
Secara umum cabai merah dapat di tanam di lahan basah (sawah) dan lahan kering (tegalan) dan dapat dibudidayakan di saat musim hujan dan kering. Cabai merah dapat tumbuh dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian sampai 900 m dari permukaan laut, tanah kaya akan bahan organik dengan pH 6 - 7, tektur tanah remah (Anonim, 2008a).
Penanaman famili Solanaceae secara umum sangat dibatasi tumbuh dan produksinya oleh berbagai macam hama dan penyakit. Terutama di Indonesia yang memiliki iklim ideal bagi beragam hama dan penyakit tanaman serta sistem cocok-tanamnya di lahan terbuka. Beragam hama dan penyakit itulah yang menyebabkan tingginya proses produksi ( pengendalian hama penyakit ) dan bahkan produksi bisa menurun (Firdaus, 2008).
Tahap awal budidaya cabai adalah membuat persemaian guna menyiapkan bibit tanaman yang sehat, kuat dan seragam sebagai bahan tanam di lapangan. Media semai yang dipergunakan hendaknya mempunyai struktur yang remah, tidak menahan air dan cukup nutrisi. Bahan yang dapat digunakan adalah campuran kompos, tanah, dan pasir dengan perbandingan 1 : 1 : 1 (Satriana, 2008).
Pada praktek budidaya tanaman cabai, tahap persemaian dilakukan dengan tujuan untuk mempersiapkan bibit tanaman cabai yang sehat, kuat, dan seragam sebagai bahan tanam yang akan dipindah ke lapang. Tanaman cabai yang benihnya disemai dahulu dalam bangunan persemaian, akan mempunyai daya hidup yang lebih besar, perawatan lebih mudah, dan resiko kematian yang lebih kecil apabila dibandingkan dengan benih yang ditanam langsung di lapang. Selain itu lingkungan tumbuh dalam bangunan persemaian yang lebih terkontrol dapat mendukung perkecambahan dan pertumbuhan bibit tanaman yang lebih baik (Susila, 2008).
Keberhasilan usaha produksi cabai merah sangat ditentukan oleh teknis budidaya di lapangan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dengan baik dalam pelaksanaan budidaya tanaman cabai merah, adalah sebagai berikut: Pemakaian cabai merah yang unggul yang tidak terkontaminasi virus, ketersediaan air yang cukup sepanjang periode tanam, pola tanam yang baik dan sesuai dengn iklim, pengolahan tanah yang disesuaikan dengan kemiringan dan arah lereng, pemberantasan hama dan penyakit tanaman cabai dilaksanakan secara teratur sesuai dengan kondisi serangan hama dan penyakit, cara panen serta penanganan pasca panen cabai merah yang baik dan benar (Anonim, 2008b).
Curah hujan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan produksi buah cabai. Rata-rata semua varietas cabai tidak tahan dengan curah hujan yang tinggi. Curah hujan yang ideal untuk bertanam cabai adalah 1.000 mm/tahun. Curah hujan yang rendah menyebabkan tanaman kekeringan dan membutuhkan air untuk penyiraman. Sebaliknya, curah hujan yang tinggi bisa merusak tanaman cabai serta membuat lahan penanaman becek dan kelembapannya tinggi. Pemilihan musim tanam yang tepat bisa menghindarkan kerusakan tanaman karena curah hujan yang tinggi (Setiadi, 1993).
Hama yang sering menyerang tanaman cabai adalah : Ulat tanah atau Agrotis ipsilon, thrips, ulat grayak atau Spodoptera litura, lalat buah atau Dacus verugenius , aphids hijau /kutu daun, tungau / mite, nematode puru akar. Dengan gejala serangan sebagai berikut:
• Ulat tanah dengan nama latin Agrotis ipsilon, biasa menyerang tanaman cabai yang baru pindah tanam, yaitu dengan cara memotong batang utama tanaman hingga roboh bahkan bisa sampai putus.
• Ulat grayak pada tanaman cabai biasa menyerang daun, buah dan tanaman yang masih kecil.
• Lalat buah gejala awalnya adalah buah berlubang kecil, kulit buah menguning dan kalau dibelah biji cabe berwarna coklat kehitaman dan pada akhirnya buah rontok.
• Hama Tungau atau mite menyerang tanaman cabai hingga daun berwarna kemerahan, menggulung ke atas, menebal akhirnya rontok. Tanaman yang terserang hama thrips, bunga akan mengering dan rontok. Sedangkan apabila menyerang bagian daun pada daun terdapat bercak keperakan dan menggulung. Jika daun terserang aphids, daun akan menggulung kedalam, keriting, menguning dan rontok.
• Nematoda merupakan organisme pengganggu tanaman yang menyerang daerah perakaran tanaman cabai. Jika tanaman terserang maka transportasi bahan makanan terhambat dan pertumbuhan tanaman terganggu. Selain itu kerusakan akibat nematode dapat memudahkan bakteri masuk dan mengakibatkan layu bakteri
(Anonim, 2008b).
Hama trips biasa terjadi saat musim kemarau, di mana hama tersebut menyerang bagian daun sehingga mengeriting dan berwarna kuning. Pengaruhnya terjadi atas produktivitas tanaman cabai, sehingga produksinya menurun mencapai 70 persen ( Plantus, 2007).
Guna mengatasi masalah hama lalat buah pada tanaman cabai organik maupun non organik perlu tersedia sarana pengendalian yang ramah lingkungan dan efektif, antara lain penggunaan attraktant nabati metil eugenol yang dihasilkan oleh tanaman selasih Ocimum sanctum. Attractant ini dapat mengacaukan perilaku kawin lalat buah dan merupakan suatu alternatif yang perlu dikaji efektivitasnya di lapangan. (Pasaribu, et al, 2007).
Djamin (1985) menyatakan bahwa pemakaian insektisida yang terus menerus akan mengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan, manusia, hewan ternak maupun musuh alami hama dan serangga yang berguna lainnya. Disamping itu dapat juga menimbulkan resistensi hama serangga, resurgensi hama, eksplosi hama kedua sehingga kerusakan terhadap tanaman akan semakin meningkat.
Penggunaan pupuk kandang yang telah matang juga dapat mencegah penularan hama dan penyakit yang terbawa tanah (soil borne diseases). Dengan menggunakan pupuk kandang yang telah matang, tanaman cabai dapat terhindar dari serangan penyakit busuk leher batang dan layu fusarium, serta hama uret yang biasa terbawa pupuk kandang yang belum matang. Diduga telur dan larva mati pada saat pematangan pupuk kandang (Martini dan Hendrata, 2008).
PHT secara konsep adalah suatu cara pendekatan atau cara berfikir tentang pengen¬dalian hama dan penyakit tumbuhan yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan.Sasaran PHT adalah : 1) produktivitas pertanian yang mantap dan tinggi, 2) penghasilan dan kesejahteraan petani meningkat, 3) populasi hama dan patogen tumbuhan dan kerusakan tanaman karena serangannya tetap berada pa¬da aras yang secara ekonomis tidak merugikan, dan 4) pengurangan risiko pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida. Dalam PHT, penggunaan pestisida masih diperbolehkan, tetapi aplikasinya menjadi alternatif terakhir bila cara-cara pengendalian lainnya tidak mampu mengatasi wabah hama atau penyakit. Pestisida yang dipilihpun harus yang efektif dan telah diizinkan (Abad, 2005).
PHT seharusnya dapat diterapkan dalam luasan tertentu. Namun dalam implementasinya masih terkendala oleh faktor teknis, ekonomis, dan sosiologis. Secara teknis ambang kendali suatu hama masih sulit untuk diterapkan, baik yang didasarkan pada populasi hama maupun kerusakan tanaman (Setiawati, 2006).
Semakin tua umur tanaman cabai, tajuk makin merapat. Kondisi ini sesuai bagi hama untuk berkembang biak karena terhindar dari panas matahari langsung, kelembapan tinggi, suhu tidak terlalu panas, dan makanan tersedia. Oleh karena itu, hama yang menyerang tanaman cabai juga makin beragam. Pada umur 2-6 mst hanya ditemukan dua jenis hama, 8 mst tiga jenis hama, 10 mst tujuh jenis hama, dan pada umur 12-15 mst terdapat sembilan jenis hama (Martini dan Hendrata, 2008).
Cabai merah (Capsicum annum L.) di Indonesia merupakan komoditas
sayuran yang penting dilihat dari kebutuhan maupun jumlahnya. Salah satu hama
penting tanaman cabai adalah Thrips tabaci L. menyerang daun dan buah, selain
itu juga sebagai vektor penyakit virus yang dapat menyebabkan daun kriting dan
tanaman cabai kerdil, pada tingkat serangan yang berat dapat menyebabkan kehilangan hasil yang mencapai 30–40%. Pengendalian hama cabai di Indonesia masih mengandalkan insektisida sintetik, penggunaan insektisida yang kurang bijaksana akan dapat menimbulkan dampak negatif seperti terjadinya resurgensi hama, resistensi hama, matinya musuh alami, polusi lingkungan, dan merugikan kesehatan manusia (Mujiono, 2008).
Secara umum cabai merah dapat di tanam di lahan basah (sawah) dan lahan kering (tegalan) dan dapat dibudidayakan di saat musim hujan dan kering. Cabai merah dapat tumbuh dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian sampai 900 m dari permukaan laut, tanah kaya akan bahan organik dengan pH 6 - 7, tektur tanah remah (Anonim, 2008a).
Penanaman famili Solanaceae secara umum sangat dibatasi tumbuh dan produksinya oleh berbagai macam hama dan penyakit. Terutama di Indonesia yang memiliki iklim ideal bagi beragam hama dan penyakit tanaman serta sistem cocok-tanamnya di lahan terbuka. Beragam hama dan penyakit itulah yang menyebabkan tingginya proses produksi ( pengendalian hama penyakit ) dan bahkan produksi bisa menurun (Firdaus, 2008).
Tahap awal budidaya cabai adalah membuat persemaian guna menyiapkan bibit tanaman yang sehat, kuat dan seragam sebagai bahan tanam di lapangan. Media semai yang dipergunakan hendaknya mempunyai struktur yang remah, tidak menahan air dan cukup nutrisi. Bahan yang dapat digunakan adalah campuran kompos, tanah, dan pasir dengan perbandingan 1 : 1 : 1 (Satriana, 2008).
Pada praktek budidaya tanaman cabai, tahap persemaian dilakukan dengan tujuan untuk mempersiapkan bibit tanaman cabai yang sehat, kuat, dan seragam sebagai bahan tanam yang akan dipindah ke lapang. Tanaman cabai yang benihnya disemai dahulu dalam bangunan persemaian, akan mempunyai daya hidup yang lebih besar, perawatan lebih mudah, dan resiko kematian yang lebih kecil apabila dibandingkan dengan benih yang ditanam langsung di lapang. Selain itu lingkungan tumbuh dalam bangunan persemaian yang lebih terkontrol dapat mendukung perkecambahan dan pertumbuhan bibit tanaman yang lebih baik (Susila, 2008).
Keberhasilan usaha produksi cabai merah sangat ditentukan oleh teknis budidaya di lapangan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dengan baik dalam pelaksanaan budidaya tanaman cabai merah, adalah sebagai berikut: Pemakaian cabai merah yang unggul yang tidak terkontaminasi virus, ketersediaan air yang cukup sepanjang periode tanam, pola tanam yang baik dan sesuai dengn iklim, pengolahan tanah yang disesuaikan dengan kemiringan dan arah lereng, pemberantasan hama dan penyakit tanaman cabai dilaksanakan secara teratur sesuai dengan kondisi serangan hama dan penyakit, cara panen serta penanganan pasca panen cabai merah yang baik dan benar (Anonim, 2008b).
Curah hujan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan produksi buah cabai. Rata-rata semua varietas cabai tidak tahan dengan curah hujan yang tinggi. Curah hujan yang ideal untuk bertanam cabai adalah 1.000 mm/tahun. Curah hujan yang rendah menyebabkan tanaman kekeringan dan membutuhkan air untuk penyiraman. Sebaliknya, curah hujan yang tinggi bisa merusak tanaman cabai serta membuat lahan penanaman becek dan kelembapannya tinggi. Pemilihan musim tanam yang tepat bisa menghindarkan kerusakan tanaman karena curah hujan yang tinggi (Setiadi, 1993).
Hama yang sering menyerang tanaman cabai adalah : Ulat tanah atau Agrotis ipsilon, thrips, ulat grayak atau Spodoptera litura, lalat buah atau Dacus verugenius , aphids hijau /kutu daun, tungau / mite, nematode puru akar. Dengan gejala serangan sebagai berikut:
• Ulat tanah dengan nama latin Agrotis ipsilon, biasa menyerang tanaman cabai yang baru pindah tanam, yaitu dengan cara memotong batang utama tanaman hingga roboh bahkan bisa sampai putus.
• Ulat grayak pada tanaman cabai biasa menyerang daun, buah dan tanaman yang masih kecil.
• Lalat buah gejala awalnya adalah buah berlubang kecil, kulit buah menguning dan kalau dibelah biji cabe berwarna coklat kehitaman dan pada akhirnya buah rontok.
• Hama Tungau atau mite menyerang tanaman cabai hingga daun berwarna kemerahan, menggulung ke atas, menebal akhirnya rontok. Tanaman yang terserang hama thrips, bunga akan mengering dan rontok. Sedangkan apabila menyerang bagian daun pada daun terdapat bercak keperakan dan menggulung. Jika daun terserang aphids, daun akan menggulung kedalam, keriting, menguning dan rontok.
• Nematoda merupakan organisme pengganggu tanaman yang menyerang daerah perakaran tanaman cabai. Jika tanaman terserang maka transportasi bahan makanan terhambat dan pertumbuhan tanaman terganggu. Selain itu kerusakan akibat nematode dapat memudahkan bakteri masuk dan mengakibatkan layu bakteri
(Anonim, 2008b).
Hama trips biasa terjadi saat musim kemarau, di mana hama tersebut menyerang bagian daun sehingga mengeriting dan berwarna kuning. Pengaruhnya terjadi atas produktivitas tanaman cabai, sehingga produksinya menurun mencapai 70 persen ( Plantus, 2007).
Guna mengatasi masalah hama lalat buah pada tanaman cabai organik maupun non organik perlu tersedia sarana pengendalian yang ramah lingkungan dan efektif, antara lain penggunaan attraktant nabati metil eugenol yang dihasilkan oleh tanaman selasih Ocimum sanctum. Attractant ini dapat mengacaukan perilaku kawin lalat buah dan merupakan suatu alternatif yang perlu dikaji efektivitasnya di lapangan. (Pasaribu, et al, 2007).
Djamin (1985) menyatakan bahwa pemakaian insektisida yang terus menerus akan mengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan, manusia, hewan ternak maupun musuh alami hama dan serangga yang berguna lainnya. Disamping itu dapat juga menimbulkan resistensi hama serangga, resurgensi hama, eksplosi hama kedua sehingga kerusakan terhadap tanaman akan semakin meningkat.
Penggunaan pupuk kandang yang telah matang juga dapat mencegah penularan hama dan penyakit yang terbawa tanah (soil borne diseases). Dengan menggunakan pupuk kandang yang telah matang, tanaman cabai dapat terhindar dari serangan penyakit busuk leher batang dan layu fusarium, serta hama uret yang biasa terbawa pupuk kandang yang belum matang. Diduga telur dan larva mati pada saat pematangan pupuk kandang (Martini dan Hendrata, 2008).
PHT secara konsep adalah suatu cara pendekatan atau cara berfikir tentang pengen¬dalian hama dan penyakit tumbuhan yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan.Sasaran PHT adalah : 1) produktivitas pertanian yang mantap dan tinggi, 2) penghasilan dan kesejahteraan petani meningkat, 3) populasi hama dan patogen tumbuhan dan kerusakan tanaman karena serangannya tetap berada pa¬da aras yang secara ekonomis tidak merugikan, dan 4) pengurangan risiko pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida. Dalam PHT, penggunaan pestisida masih diperbolehkan, tetapi aplikasinya menjadi alternatif terakhir bila cara-cara pengendalian lainnya tidak mampu mengatasi wabah hama atau penyakit. Pestisida yang dipilihpun harus yang efektif dan telah diizinkan (Abad, 2005).
PHT seharusnya dapat diterapkan dalam luasan tertentu. Namun dalam implementasinya masih terkendala oleh faktor teknis, ekonomis, dan sosiologis. Secara teknis ambang kendali suatu hama masih sulit untuk diterapkan, baik yang didasarkan pada populasi hama maupun kerusakan tanaman (Setiawati, 2006).
Semakin tua umur tanaman cabai, tajuk makin merapat. Kondisi ini sesuai bagi hama untuk berkembang biak karena terhindar dari panas matahari langsung, kelembapan tinggi, suhu tidak terlalu panas, dan makanan tersedia. Oleh karena itu, hama yang menyerang tanaman cabai juga makin beragam. Pada umur 2-6 mst hanya ditemukan dua jenis hama, 8 mst tiga jenis hama, 10 mst tujuh jenis hama, dan pada umur 12-15 mst terdapat sembilan jenis hama (Martini dan Hendrata, 2008).
Budidaya Tanaman Tomat
1. Sejarah Pertanaman/Lahan
Lokasi penanaman untuk pembudidayakan tomat berada diantara pertanaman kacang panjang dan cabai serta padi. Dari hasil wawancara dengan petani pemilik lahan, awalnya di tanam padi selama dua musim tanam. Untuk selanjutnya tanaman dirotasi dengan menanam tomat. Setelah tanaman tomat dipanen kemudian akan digunakan untuk tanaman padi.
2. Persiapan Lahan
Dalam budidaya tomat lahan harus diolah terlebih dahulu. Pengolahan lahan diperlukan karena tanah yang telah digunakan untuk bercocok tanam, kandungan unsur haranya telah berkurang diserap oleh tanaman sebelumnya sehingga perlu pengolahan tanah dengan cara membaliknya. Kandungan unsur hara yang tersedia dalam tanah dapat tercampur dengan baik dan kemudian penyiapan benih atau pembibitan akan segera dilakukan. Sebaiknya pembibitan dilakukan setelah pengolahan lahan agar penyiapan lahan tidak terburu-buru sehingga pengolahannya dapat dilakukan secara optimal dan bibit tidak terlalu tua.
Lahan tanam yang akan digunakan sebagai tempat budidaya sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu. Gulma yang terdapat di lahan tempat budidaya dicabut sampai bersih agar tidak mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Hal ini karena gulma yang terdapat di lahan dapat merugikan tanaman yang dibudidayakan. Unsur hara yang seharusnya dapat diserap oleh tanaman secara maksimal jadi tidak dapat diserap seluruhnya karena sebagian diserap oleh gulma. Dengan adanya hal ini maka terjadi kompetisi antara tanaman dengan gulam untuk memperebutkan unsur hara. Selain itu, gulma dan akar dari tanaman yang lama dapat menjadi sumber hama dan penyakit. tentunya ini dapat merugikan bagi budidaya tanaman.
Luas lahan yang digunakan dalam budidaya tomat berukuran 2.200m2. Lahan pada awal pengolahan dilakukan pemupukan berupa pupuk kandang dengan dosis 10 ton/ha. Hal ini dimaksudkan guna meningkatkan hara serta memperbaiki struktur tanahnya, sehingga tanah tersebut menjadi gembur, remah, serta mempunyai drainase dan airase yang baik. Dengan ini pertumbuhan tanaman yang akan ditanam dapat tumbuh secara optimal.
Sebelum memindahkan bibit tomat ke lahan, membuat bedengan dengan ukuran lebar ± 110 cm dengan ketinggian bedengan menyesuaikan dan jarak antar bedengan 75-80 cm. Panjang bedengan disesuaikan dengan kondisi lahan. Jarak tanam yang digunakan pada budidaya tomat adalah 25 x 70 cm.
3. Pemasangan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP)
Bedengan yang sudah selesai dibuat, selanjutnya ditutup dengan MPHP sampai bedengan tersebut tertutup seluruhnya. Pemasangan MPHP ini dimaksudkan untuk membatasi pertumbuhan gulma yanag dapat tumbuh disekitar tanaman tomat, sehingga kompetisi dapat dikurangi. Selain itu untuk menjaga kelembaban tanah agar tidak cepat mengalami kekeringan.
Adapun keuntungan bercocok tanam menggunakan sistem MPHP, antara lain :
• Warna hitam dari mulsa menimbulkan kesan gelap sehingga dapat menekan rumput-rumput liar atau gulma.
• Warna perak dari mulsa dapat memantulkan sinar matahari ; sehingga dapat mengurangi hama aphis, trips dan tungau, serta secara tidak langsung menekan serangan penyakit virus.
• Menjaga tanah tetap gembur, suhu dan kelembaban tanah relatif tetap (stabil).
• Mencegah tercucinya pupuk oleh air hujan, dan penguapan unsur hara oleh sinar matahari.
• Buah tomat yang berada di atas permukaan tanah terhindar dari percikan air tanah sehingga dapat mengurangi resiko berjangkitnya penyakit busuk buah.
• Kesuburan tanah karena pemupukan dapat merata, sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman budidaya relatif seragam (homogen).
• Praktis untuk melakukan sterilisasi tanah dengan menggunakan gas fumigan seperti Basamid-G, karena fungsi MPHP mempercepat proses pembentukan gas zat fumigan tanpa harus membeli plastik khusus.
• Secara ekonomis penggunaan MPHP dapat mengurangi pekerjaan penyiangan dan penggemburan tanah, sehingga biaya pengadaan MPHP dapat dialokasikan dari biaya pemeliharaan tanaman tersebut.
• Pada musim kering (kemarau), MPHP dapat menekan penguapan air dari dalam tanah, sehingga tidak terlalu sering untuk melakukan penyiraman (pengairan).
MPHP yang sudah dipasang, kemudian dilakukan pelubangan MPHP dengan menggunakan kaleng yang dipanaskan. Jarak antar lubang disesuaikan dengan jarak tanam. Karena fungsi lubang tersebut untuk meletakkan bibit yang akan dipindahtanamkan. Pemakaian mulsa tersebut dapat dipakai untuk penanaman yang akan datang apabila mulsa masih bagus, biasanya dipakai dua kali pemakaian.
4. Penyiapan Benih dan Pembibitan
Pada penyiapan benih, tahap pertama yang dilakukan yaitu mengecambahkan terlabih dahulu benih yang akan digunakan. Setelah benih berkecambah, baru dilakukan penyemaian. Penyemaian dilakukan ketika benih sudah berkecambah pada umur sekitar 1 minggu setelah tebar. Benih yang disemai dipilih yang bagus dan seragam pertumbuhannya. Kemudian diletakkan pada polybag kecil ukuran 8 x 10 cm. Penyemaian dilakukan di halaman rumah, hal ini dimaksudkan agar pertumbuhan bibit dapat lebih mudah dikontrol, baik itu terkait penyinaran, penyiraman, serta pemupukan.
Perawatan yang dilakukan selama penyemaian antara lain pencabutan gulma yang tumbuh di sekitar tanaman, karena pada masa ini merupakan periode kritis tanaman terhadap gulma. Selain pencabutan gulma, dibutuhkan pula penyiraman yang teratur. Penyiraman tanaman dilakukan sebanyak dua kali sehari.
5. Penanaman
Penanaman dilakukan ketika bibit tomat sudah berumur 17-23 hari atau berdaun 2-4 helai. Waktu penanaman yang paling baik adalah pagi atau sore hari dimana kelembaban lingkungan relatif tinggi, sehingga penguapan udaranya relatif rendah, sehingga tanaman yang baru pindah ke lahan tidak cepat layu. Selain itu tanaman yang baru dipindah ke lahan dapat beradaptasi.
Jarak tanam yang digunakan adalah 25 x 70 cm. Pembuatan lubang tanam menggunakan tugal yang terbuat dari kayu yang ujungnya runcing. Tanah yang terlihat dari lubang MPHP ditugal, kemudian bibit dimasukkan pada lubang yang ditugal tersebut. Setelah itu dilakukan penyiraman secukupnya sampai tanahnya cukup basah.
6. Pemeliharaan Tanaman
Kegiatan pokok pemeliharaan tanaman meliputi pemasangan ajir (turus), penyiraman (pengairan), pemupukan tambahan (susulan/lanjutan), pengendalian hama, penyakit, dan gulma.
Pemasangan ajir (turus)
Tomat umumnya berbuah lebat, sehingga untuk menopang pertumbuhan tanaman agar kuat dan kokoh perlu dipasang ajir (turus) yang terbuat dari bambu dengan panjang ± 125 cm, lebar ± 4 cm dan tebalnya ± 2 cm. Ajir ditancapkan di dalam lubang mulsa pada bedengan yang menjadi tempat tumbuh tanaman tomat. Pemasangan ajir ini dilakukan pada saat tanaman berumur 4 MST, karena pada umur ini tanaman tomat sudah memiliki tinggi yang memungkinkan terjadinya roboh tanaman, sehingga tanaman tersebut dapat ditopang oleh ajir.
Pengairan (Penyiraman)
Pengairan dilakukan sebatas kondisional, yaitu ketika kondisi tanahnya mulai kering, atau ketika daun tanaman tomat mulai terluhat layu, sehingga tanaman tomat dapat tetap bertahan. Pengairan dengan mengambil air dari sumur bor menggunakan diesel. Pengairan dilakukan sampai lahan yang digunakan tergenang air, sehingga kelembaban tanahnya dapat terjaga dalam waktu yang lebih lama dibandingkan hanya disemprotkan saja. Pengairan yang wajib dilakukan yaitu ketika pemupukan pupuk kimia (NPK), hal ini karena pupuk NPK bersifat panas, sehingga bila tidak diairi, maka tanaman akan terbakar, dan dapat mati.
Pemupukan Tambahan (susulan)
Pemupukan tambahan diberikan ketika tanaman berumur 13 HST, dengan menggunakan pupuk NPK. Dosis yang diberikan yaitu 10 kw/ha dengan cara menaburkan disekitar tanaman pada lubang MPHP. Pemupukan tambahan ini dimaksudkan untuk menambah hara yang berkurang akibat digunakan tanaman pada proses pertumbuhan dan perkembangan pada fase vegetatif. Sehingga hara yang diberikan dapat mendukung tanaman dalam pertumbuhan dan perkembangan generatifnya.
D. Gulma Tanaman Tomat
Gulma adalah tumbuhan tingkat tinggi yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman yang dibudidayakan.
Gulma mengakibatkan kerugian-kerugian pada tanaman utama, antara lain:
1) Kompetisi antara tanaman utama sehingga mengurangi kemampuan berproduksi.
2) Allelopathy yaitu pengeluaran senyawa kimiawi oleh gulma yang beracun bagi tanaman yang lainnya, sehingga merusak pertumbuhannya.
3) Sebagai vektor hama dan penyakit tanaman.
4) Memperbesar biaya usaha pertanian, seperti biaya tambahan untuk pengendaliannya.
Gulma dan pertanaman mengadakan persaingan memperebutkan hara, air dan cahaya. Besar kecilnya persaingan gulma terhadap tanaman pokok akan berpengaruh terhadap baik buruknya pertumbuhan tanaman pokok dan pada gilirannya akan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya hasil tanaman pokok. Tinggi rendahnya hasil tanaman pokok, jika dilihat dari segi gulmanya sangat ditentukan oleh kerapatan gulma, macam gulma, saat kemunculan gulma, kecepatan tumbuh gulma, lama keberadaan gulma, habitus gulma, dan ada tidaknya allelopati.
Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan beberapa cara. Secara preventif, misalnya dengan pembersihan bibit-bibit pertanaman dari kontaminasi biji-biji gulma, pencegahan pengangkutan jarak jauh jerami dan rumput-rumputan makanan ternak, pemberantasan gulma di sisi-sisi sungai dan saluran-saluran pengairan, pencegahan pengangkutan tanaman berikut tanahnya dan sebagainya.
Secara fisik, misal dengan pengolahan tanah, pembabatan, penggenangan, pembakaran dan pemakaian mulsa. Dengan sistem budidaya, misal dengan pergiliran tanaman, budidaya pertanaman dan penaungan dengan tumbuhan penutup (cover crops). Pengendalian secara biologis, yaitu dengan menggunakan organisme lain yang bersifat antagonis. Secara kimiawi, yaitu dengan menggunakan herbisida atau senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan gulma baik secara selektif maupun non selektif, kontak atau sistemik, digunakan saat pratanam, pratumbuh atau pasca tumbuh. Secara terpadu, yaitu dengan menggunakan beberapa cara secara bersamaan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya.
Gulma diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok yaitu teki-tekian, rumput-rumputan, dan gulma daun lebar. Ketiga kelompok gulma memiliki karakteristik tersendiri yang memerlukan strategi khusus untuk mengendalikannya.
a. Gulma teki-tekian
Kelompok teki-tekian dalam pengendaliannya sulit dilakukan baik secara mekanik ataupun dengan kimia karena memiliki umbi batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan-bulan, sehingga jenis pestisida yang baik untuk gulma ini adalah sistemik. Jenis pestisida sistemik ini dapat meresap sampai ke umbinya. Selain itu, gulma ini menjalankan jalur fotosintesis C4 yang menjadikannya sangat efisien dalam 'menguasai' areal pertanian secara cepat. Contoh: teki ladang (Cyperus rotundus), dan udelan (Cyperus kyllinga). Ciri dari gulma teki adalah batang berbentuk segi tiga, bulat, dan tidak berongga, memiliki daun yang berurutan sepanjang batang dalam tiga baris, tidak memiliki lidah daun dan titik tumbuh tersembunyi.
Pada lahan pertanaman tomat ditemukan gulma teki-tekian yaitu teki ladang (Cyperus rotundus). Dengan populasi yang belum mengahambat pertumbuhan dan perkembangan tomat sehingga pengendalian gulma pada lahan tersebut hanya dikendalikan dengan cara mekanik yaitu dengan mencabut gulma tanpa memberikan perlakuan herbisida.
Klasifikasi Rumput Teki (Cyperus rotundus)
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub-kelas : Commelinidae
Ordo : Cyperales
Familia : Cyperaceae
Genus : Cyperus
Spesies : Cyperus rotundus L.
Akar teki atau Rumput palsu (batang segitiga) hidup sepanjang tahun dengan ketinggian mencapai 10 sampai 75 cm. Biasanya tanaman liar ini tumbuh di kebun, di ladang dan di tempat lain sampai pada ketinggian 1000m dari permukaan laut. Tanaman ini mudah dikenali karena bunga-bunganya berwarna hijau kecoklatan, terletak di ujung tangkai dengan tiga tunas helm benang sari berwarna kuning jernih, membentuk bunga-bunga berbulir, mengelompok menjadi satu berupa payung. Ciri khasnya terletak pada buah-buahnya yang berbentuk kerucut besar pada pangkalnya, kadang-kadang melekuk berwarna coklat, dengan panjang 1,5 - 4,5 cm dengan diameter 5 - 10 mm.
Daunnya berbentuk pita, berwarna mengkilat dan terdiri dari 4-10 helai, terdapat pada pangkal batang membentuk rozel akar, dengan pelepah daun tertutup tanah. Pada rimpangnya yang sudah tua terdapat banyak tunas yang menjadi umbi berwarna coklat atau hitam. Rasanya sepat kepahit-pahitan dan baunya wangi. Umbi-umbi ini biasanya mengumpul berupa rumpun.
b. Gulma rumput-rumputan
Gulma dalam kelompok ini berdaun sempit seperti teki-tekian tetapi menghasilkan stolon, alih-alih umbi. Stolon ini di dalam tanah membentuk jaringan rumit yang sulit diatasi secara mekanik.
Gulma rumput-rumputan ini dikendalikan dengan cara mekanik yaitu dengan mencabut. Pada lahan pengamatan pengendalian dilakukan pada dua minggu pertama ketika tanaman tomat masih kecil dimana tanaman masih kalah dalam persainagan perebutan hara, air dan cahaya. setelah tanaman tomat tumbuh besar pengendalian gulma sudah tidak dilakukan karena tanaman tomat sudah mampu berkompetisi dengan gulma yang ada.
Rumput
Rumput (bahasa Inggris: grass) adalah tumbuhan pendek yang sering ada di halaman, pinggir jalan atau lapangan. Rumput dianggap sebagai gulma pengganggu tanaman bila berada di sekitar tanaman yang sengaja ditanam, tapi merupakan aset utama lapangan sepak bola.
Klasifikasi rumput-rumputan
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub-kelas : Commelinidae
Ordo : Poales
Familia : Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus : Eleusine
Spesies : Eleusine indica (L.) Gaertn
(Anonim, 2009e).
c. Gulma daun lebar
Gulma berdaun lebar ini merupakan gulma yang berasal dari ordo Dicotyledoneae. Gulma ini berada pada lubang mulsa yang menjadi tempat tumbuh tanaman tomat dan gulma ini biasanya munculpada akhir masa budidaya. Kompetisi yang terjadi dengan munculnya gulma berdaun lebar ini adalah kompetisi dalam memperebutkan unsur hara dan air. Akan tetapi, kemunculan gulma ini tidak memperngaruhi dari perkembangan tanaman karena telah melalui periode kritis. Ciri-ciri gulma berdaun lebar di antaranya adalah daun muncul pada meristem apikal, terdapat stomata pada daun terutama pada permukaan bawah, terdapat tunas-tunas pada nodusa, serta terdapat titik tumbuh pada cabang. Contoh gulma ini antara lain ceplukan (Physalis angulata L.), wedusan (Ageratum conyzoides L.), sembung rambut (Mikania michranta), namun gulma berdaun lebar yang dijumpai di lahan adalah krokot (Portulaca oleracea) yang termasuk masuk kedalam genus dari suku portulacaceae.
Berdasarkan hasil pengamatan populasi gulma yang tumbuh pada sampel, presentase tertingi terdapat pada minggu ke lima. Hal ini karena sudah tidak dilakukan pengendalian gulma. Pengendalian gulma lebih difokuskan pada umur 2 MST. Secara keseluruhan pengendalian gulma dilakukan dengan cara mekanis yaitu dengan cara dicangkul dan dicabut disekeliling tanaman pada lubang mulsa.
Lokasi penanaman untuk pembudidayakan tomat berada diantara pertanaman kacang panjang dan cabai serta padi. Dari hasil wawancara dengan petani pemilik lahan, awalnya di tanam padi selama dua musim tanam. Untuk selanjutnya tanaman dirotasi dengan menanam tomat. Setelah tanaman tomat dipanen kemudian akan digunakan untuk tanaman padi.
2. Persiapan Lahan
Dalam budidaya tomat lahan harus diolah terlebih dahulu. Pengolahan lahan diperlukan karena tanah yang telah digunakan untuk bercocok tanam, kandungan unsur haranya telah berkurang diserap oleh tanaman sebelumnya sehingga perlu pengolahan tanah dengan cara membaliknya. Kandungan unsur hara yang tersedia dalam tanah dapat tercampur dengan baik dan kemudian penyiapan benih atau pembibitan akan segera dilakukan. Sebaiknya pembibitan dilakukan setelah pengolahan lahan agar penyiapan lahan tidak terburu-buru sehingga pengolahannya dapat dilakukan secara optimal dan bibit tidak terlalu tua.
Lahan tanam yang akan digunakan sebagai tempat budidaya sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu. Gulma yang terdapat di lahan tempat budidaya dicabut sampai bersih agar tidak mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Hal ini karena gulma yang terdapat di lahan dapat merugikan tanaman yang dibudidayakan. Unsur hara yang seharusnya dapat diserap oleh tanaman secara maksimal jadi tidak dapat diserap seluruhnya karena sebagian diserap oleh gulma. Dengan adanya hal ini maka terjadi kompetisi antara tanaman dengan gulam untuk memperebutkan unsur hara. Selain itu, gulma dan akar dari tanaman yang lama dapat menjadi sumber hama dan penyakit. tentunya ini dapat merugikan bagi budidaya tanaman.
Luas lahan yang digunakan dalam budidaya tomat berukuran 2.200m2. Lahan pada awal pengolahan dilakukan pemupukan berupa pupuk kandang dengan dosis 10 ton/ha. Hal ini dimaksudkan guna meningkatkan hara serta memperbaiki struktur tanahnya, sehingga tanah tersebut menjadi gembur, remah, serta mempunyai drainase dan airase yang baik. Dengan ini pertumbuhan tanaman yang akan ditanam dapat tumbuh secara optimal.
Sebelum memindahkan bibit tomat ke lahan, membuat bedengan dengan ukuran lebar ± 110 cm dengan ketinggian bedengan menyesuaikan dan jarak antar bedengan 75-80 cm. Panjang bedengan disesuaikan dengan kondisi lahan. Jarak tanam yang digunakan pada budidaya tomat adalah 25 x 70 cm.
3. Pemasangan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP)
Bedengan yang sudah selesai dibuat, selanjutnya ditutup dengan MPHP sampai bedengan tersebut tertutup seluruhnya. Pemasangan MPHP ini dimaksudkan untuk membatasi pertumbuhan gulma yanag dapat tumbuh disekitar tanaman tomat, sehingga kompetisi dapat dikurangi. Selain itu untuk menjaga kelembaban tanah agar tidak cepat mengalami kekeringan.
Adapun keuntungan bercocok tanam menggunakan sistem MPHP, antara lain :
• Warna hitam dari mulsa menimbulkan kesan gelap sehingga dapat menekan rumput-rumput liar atau gulma.
• Warna perak dari mulsa dapat memantulkan sinar matahari ; sehingga dapat mengurangi hama aphis, trips dan tungau, serta secara tidak langsung menekan serangan penyakit virus.
• Menjaga tanah tetap gembur, suhu dan kelembaban tanah relatif tetap (stabil).
• Mencegah tercucinya pupuk oleh air hujan, dan penguapan unsur hara oleh sinar matahari.
• Buah tomat yang berada di atas permukaan tanah terhindar dari percikan air tanah sehingga dapat mengurangi resiko berjangkitnya penyakit busuk buah.
• Kesuburan tanah karena pemupukan dapat merata, sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman budidaya relatif seragam (homogen).
• Praktis untuk melakukan sterilisasi tanah dengan menggunakan gas fumigan seperti Basamid-G, karena fungsi MPHP mempercepat proses pembentukan gas zat fumigan tanpa harus membeli plastik khusus.
• Secara ekonomis penggunaan MPHP dapat mengurangi pekerjaan penyiangan dan penggemburan tanah, sehingga biaya pengadaan MPHP dapat dialokasikan dari biaya pemeliharaan tanaman tersebut.
• Pada musim kering (kemarau), MPHP dapat menekan penguapan air dari dalam tanah, sehingga tidak terlalu sering untuk melakukan penyiraman (pengairan).
MPHP yang sudah dipasang, kemudian dilakukan pelubangan MPHP dengan menggunakan kaleng yang dipanaskan. Jarak antar lubang disesuaikan dengan jarak tanam. Karena fungsi lubang tersebut untuk meletakkan bibit yang akan dipindahtanamkan. Pemakaian mulsa tersebut dapat dipakai untuk penanaman yang akan datang apabila mulsa masih bagus, biasanya dipakai dua kali pemakaian.
4. Penyiapan Benih dan Pembibitan
Pada penyiapan benih, tahap pertama yang dilakukan yaitu mengecambahkan terlabih dahulu benih yang akan digunakan. Setelah benih berkecambah, baru dilakukan penyemaian. Penyemaian dilakukan ketika benih sudah berkecambah pada umur sekitar 1 minggu setelah tebar. Benih yang disemai dipilih yang bagus dan seragam pertumbuhannya. Kemudian diletakkan pada polybag kecil ukuran 8 x 10 cm. Penyemaian dilakukan di halaman rumah, hal ini dimaksudkan agar pertumbuhan bibit dapat lebih mudah dikontrol, baik itu terkait penyinaran, penyiraman, serta pemupukan.
Perawatan yang dilakukan selama penyemaian antara lain pencabutan gulma yang tumbuh di sekitar tanaman, karena pada masa ini merupakan periode kritis tanaman terhadap gulma. Selain pencabutan gulma, dibutuhkan pula penyiraman yang teratur. Penyiraman tanaman dilakukan sebanyak dua kali sehari.
5. Penanaman
Penanaman dilakukan ketika bibit tomat sudah berumur 17-23 hari atau berdaun 2-4 helai. Waktu penanaman yang paling baik adalah pagi atau sore hari dimana kelembaban lingkungan relatif tinggi, sehingga penguapan udaranya relatif rendah, sehingga tanaman yang baru pindah ke lahan tidak cepat layu. Selain itu tanaman yang baru dipindah ke lahan dapat beradaptasi.
Jarak tanam yang digunakan adalah 25 x 70 cm. Pembuatan lubang tanam menggunakan tugal yang terbuat dari kayu yang ujungnya runcing. Tanah yang terlihat dari lubang MPHP ditugal, kemudian bibit dimasukkan pada lubang yang ditugal tersebut. Setelah itu dilakukan penyiraman secukupnya sampai tanahnya cukup basah.
6. Pemeliharaan Tanaman
Kegiatan pokok pemeliharaan tanaman meliputi pemasangan ajir (turus), penyiraman (pengairan), pemupukan tambahan (susulan/lanjutan), pengendalian hama, penyakit, dan gulma.
Pemasangan ajir (turus)
Tomat umumnya berbuah lebat, sehingga untuk menopang pertumbuhan tanaman agar kuat dan kokoh perlu dipasang ajir (turus) yang terbuat dari bambu dengan panjang ± 125 cm, lebar ± 4 cm dan tebalnya ± 2 cm. Ajir ditancapkan di dalam lubang mulsa pada bedengan yang menjadi tempat tumbuh tanaman tomat. Pemasangan ajir ini dilakukan pada saat tanaman berumur 4 MST, karena pada umur ini tanaman tomat sudah memiliki tinggi yang memungkinkan terjadinya roboh tanaman, sehingga tanaman tersebut dapat ditopang oleh ajir.
Pengairan (Penyiraman)
Pengairan dilakukan sebatas kondisional, yaitu ketika kondisi tanahnya mulai kering, atau ketika daun tanaman tomat mulai terluhat layu, sehingga tanaman tomat dapat tetap bertahan. Pengairan dengan mengambil air dari sumur bor menggunakan diesel. Pengairan dilakukan sampai lahan yang digunakan tergenang air, sehingga kelembaban tanahnya dapat terjaga dalam waktu yang lebih lama dibandingkan hanya disemprotkan saja. Pengairan yang wajib dilakukan yaitu ketika pemupukan pupuk kimia (NPK), hal ini karena pupuk NPK bersifat panas, sehingga bila tidak diairi, maka tanaman akan terbakar, dan dapat mati.
Pemupukan Tambahan (susulan)
Pemupukan tambahan diberikan ketika tanaman berumur 13 HST, dengan menggunakan pupuk NPK. Dosis yang diberikan yaitu 10 kw/ha dengan cara menaburkan disekitar tanaman pada lubang MPHP. Pemupukan tambahan ini dimaksudkan untuk menambah hara yang berkurang akibat digunakan tanaman pada proses pertumbuhan dan perkembangan pada fase vegetatif. Sehingga hara yang diberikan dapat mendukung tanaman dalam pertumbuhan dan perkembangan generatifnya.
D. Gulma Tanaman Tomat
Gulma adalah tumbuhan tingkat tinggi yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman yang dibudidayakan.
Gulma mengakibatkan kerugian-kerugian pada tanaman utama, antara lain:
1) Kompetisi antara tanaman utama sehingga mengurangi kemampuan berproduksi.
2) Allelopathy yaitu pengeluaran senyawa kimiawi oleh gulma yang beracun bagi tanaman yang lainnya, sehingga merusak pertumbuhannya.
3) Sebagai vektor hama dan penyakit tanaman.
4) Memperbesar biaya usaha pertanian, seperti biaya tambahan untuk pengendaliannya.
Gulma dan pertanaman mengadakan persaingan memperebutkan hara, air dan cahaya. Besar kecilnya persaingan gulma terhadap tanaman pokok akan berpengaruh terhadap baik buruknya pertumbuhan tanaman pokok dan pada gilirannya akan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya hasil tanaman pokok. Tinggi rendahnya hasil tanaman pokok, jika dilihat dari segi gulmanya sangat ditentukan oleh kerapatan gulma, macam gulma, saat kemunculan gulma, kecepatan tumbuh gulma, lama keberadaan gulma, habitus gulma, dan ada tidaknya allelopati.
Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan beberapa cara. Secara preventif, misalnya dengan pembersihan bibit-bibit pertanaman dari kontaminasi biji-biji gulma, pencegahan pengangkutan jarak jauh jerami dan rumput-rumputan makanan ternak, pemberantasan gulma di sisi-sisi sungai dan saluran-saluran pengairan, pencegahan pengangkutan tanaman berikut tanahnya dan sebagainya.
Secara fisik, misal dengan pengolahan tanah, pembabatan, penggenangan, pembakaran dan pemakaian mulsa. Dengan sistem budidaya, misal dengan pergiliran tanaman, budidaya pertanaman dan penaungan dengan tumbuhan penutup (cover crops). Pengendalian secara biologis, yaitu dengan menggunakan organisme lain yang bersifat antagonis. Secara kimiawi, yaitu dengan menggunakan herbisida atau senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan gulma baik secara selektif maupun non selektif, kontak atau sistemik, digunakan saat pratanam, pratumbuh atau pasca tumbuh. Secara terpadu, yaitu dengan menggunakan beberapa cara secara bersamaan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya.
Gulma diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok yaitu teki-tekian, rumput-rumputan, dan gulma daun lebar. Ketiga kelompok gulma memiliki karakteristik tersendiri yang memerlukan strategi khusus untuk mengendalikannya.
a. Gulma teki-tekian
Kelompok teki-tekian dalam pengendaliannya sulit dilakukan baik secara mekanik ataupun dengan kimia karena memiliki umbi batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan-bulan, sehingga jenis pestisida yang baik untuk gulma ini adalah sistemik. Jenis pestisida sistemik ini dapat meresap sampai ke umbinya. Selain itu, gulma ini menjalankan jalur fotosintesis C4 yang menjadikannya sangat efisien dalam 'menguasai' areal pertanian secara cepat. Contoh: teki ladang (Cyperus rotundus), dan udelan (Cyperus kyllinga). Ciri dari gulma teki adalah batang berbentuk segi tiga, bulat, dan tidak berongga, memiliki daun yang berurutan sepanjang batang dalam tiga baris, tidak memiliki lidah daun dan titik tumbuh tersembunyi.
Pada lahan pertanaman tomat ditemukan gulma teki-tekian yaitu teki ladang (Cyperus rotundus). Dengan populasi yang belum mengahambat pertumbuhan dan perkembangan tomat sehingga pengendalian gulma pada lahan tersebut hanya dikendalikan dengan cara mekanik yaitu dengan mencabut gulma tanpa memberikan perlakuan herbisida.
Klasifikasi Rumput Teki (Cyperus rotundus)
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub-kelas : Commelinidae
Ordo : Cyperales
Familia : Cyperaceae
Genus : Cyperus
Spesies : Cyperus rotundus L.
Akar teki atau Rumput palsu (batang segitiga) hidup sepanjang tahun dengan ketinggian mencapai 10 sampai 75 cm. Biasanya tanaman liar ini tumbuh di kebun, di ladang dan di tempat lain sampai pada ketinggian 1000m dari permukaan laut. Tanaman ini mudah dikenali karena bunga-bunganya berwarna hijau kecoklatan, terletak di ujung tangkai dengan tiga tunas helm benang sari berwarna kuning jernih, membentuk bunga-bunga berbulir, mengelompok menjadi satu berupa payung. Ciri khasnya terletak pada buah-buahnya yang berbentuk kerucut besar pada pangkalnya, kadang-kadang melekuk berwarna coklat, dengan panjang 1,5 - 4,5 cm dengan diameter 5 - 10 mm.
Daunnya berbentuk pita, berwarna mengkilat dan terdiri dari 4-10 helai, terdapat pada pangkal batang membentuk rozel akar, dengan pelepah daun tertutup tanah. Pada rimpangnya yang sudah tua terdapat banyak tunas yang menjadi umbi berwarna coklat atau hitam. Rasanya sepat kepahit-pahitan dan baunya wangi. Umbi-umbi ini biasanya mengumpul berupa rumpun.
b. Gulma rumput-rumputan
Gulma dalam kelompok ini berdaun sempit seperti teki-tekian tetapi menghasilkan stolon, alih-alih umbi. Stolon ini di dalam tanah membentuk jaringan rumit yang sulit diatasi secara mekanik.
Gulma rumput-rumputan ini dikendalikan dengan cara mekanik yaitu dengan mencabut. Pada lahan pengamatan pengendalian dilakukan pada dua minggu pertama ketika tanaman tomat masih kecil dimana tanaman masih kalah dalam persainagan perebutan hara, air dan cahaya. setelah tanaman tomat tumbuh besar pengendalian gulma sudah tidak dilakukan karena tanaman tomat sudah mampu berkompetisi dengan gulma yang ada.
Rumput
Rumput (bahasa Inggris: grass) adalah tumbuhan pendek yang sering ada di halaman, pinggir jalan atau lapangan. Rumput dianggap sebagai gulma pengganggu tanaman bila berada di sekitar tanaman yang sengaja ditanam, tapi merupakan aset utama lapangan sepak bola.
Klasifikasi rumput-rumputan
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub-kelas : Commelinidae
Ordo : Poales
Familia : Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus : Eleusine
Spesies : Eleusine indica (L.) Gaertn
(Anonim, 2009e).
c. Gulma daun lebar
Gulma berdaun lebar ini merupakan gulma yang berasal dari ordo Dicotyledoneae. Gulma ini berada pada lubang mulsa yang menjadi tempat tumbuh tanaman tomat dan gulma ini biasanya munculpada akhir masa budidaya. Kompetisi yang terjadi dengan munculnya gulma berdaun lebar ini adalah kompetisi dalam memperebutkan unsur hara dan air. Akan tetapi, kemunculan gulma ini tidak memperngaruhi dari perkembangan tanaman karena telah melalui periode kritis. Ciri-ciri gulma berdaun lebar di antaranya adalah daun muncul pada meristem apikal, terdapat stomata pada daun terutama pada permukaan bawah, terdapat tunas-tunas pada nodusa, serta terdapat titik tumbuh pada cabang. Contoh gulma ini antara lain ceplukan (Physalis angulata L.), wedusan (Ageratum conyzoides L.), sembung rambut (Mikania michranta), namun gulma berdaun lebar yang dijumpai di lahan adalah krokot (Portulaca oleracea) yang termasuk masuk kedalam genus dari suku portulacaceae.
Berdasarkan hasil pengamatan populasi gulma yang tumbuh pada sampel, presentase tertingi terdapat pada minggu ke lima. Hal ini karena sudah tidak dilakukan pengendalian gulma. Pengendalian gulma lebih difokuskan pada umur 2 MST. Secara keseluruhan pengendalian gulma dilakukan dengan cara mekanis yaitu dengan cara dicangkul dan dicabut disekeliling tanaman pada lubang mulsa.
Budidaya Tanaman Tomat
1. Sejarah Pertanaman/Lahan
Lokasi penanaman untuk pembudidayakan tomat berada diantara pertanaman kacang panjang dan cabai serta padi. Dari hasil wawancara dengan petani pemilik lahan, awalnya di tanam padi selama dua musim tanam. Untuk selanjutnya tanaman dirotasi dengan menanam tomat. Setelah tanaman tomat dipanen kemudian akan digunakan untuk tanaman padi.
2. Persiapan Lahan
Dalam budidaya tomat lahan harus diolah terlebih dahulu. Pengolahan lahan diperlukan karena tanah yang telah digunakan untuk bercocok tanam, kandungan unsur haranya telah berkurang diserap oleh tanaman sebelumnya sehingga perlu pengolahan tanah dengan cara membaliknya. Kandungan unsur hara yang tersedia dalam tanah dapat tercampur dengan baik dan kemudian penyiapan benih atau pembibitan akan segera dilakukan. Sebaiknya pembibitan dilakukan setelah pengolahan lahan agar penyiapan lahan tidak terburu-buru sehingga pengolahannya dapat dilakukan secara optimal dan bibit tidak terlalu tua.
Lahan tanam yang akan digunakan sebagai tempat budidaya sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu. Gulma yang terdapat di lahan tempat budidaya dicabut sampai bersih agar tidak mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Hal ini karena gulma yang terdapat di lahan dapat merugikan tanaman yang dibudidayakan. Unsur hara yang seharusnya dapat diserap oleh tanaman secara maksimal jadi tidak dapat diserap seluruhnya karena sebagian diserap oleh gulma. Dengan adanya hal ini maka terjadi kompetisi antara tanaman dengan gulam untuk memperebutkan unsur hara. Selain itu, gulma dan akar dari tanaman yang lama dapat menjadi sumber hama dan penyakit. tentunya ini dapat merugikan bagi budidaya tanaman.
Luas lahan yang digunakan dalam budidaya tomat berukuran 2.200m2. Lahan pada awal pengolahan dilakukan pemupukan berupa pupuk kandang dengan dosis 10 ton/ha. Hal ini dimaksudkan guna meningkatkan hara serta memperbaiki struktur tanahnya, sehingga tanah tersebut menjadi gembur, remah, serta mempunyai drainase dan airase yang baik. Dengan ini pertumbuhan tanaman yang akan ditanam dapat tumbuh secara optimal.
Sebelum memindahkan bibit tomat ke lahan, membuat bedengan dengan ukuran lebar ± 110 cm dengan ketinggian bedengan menyesuaikan dan jarak antar bedengan 75-80 cm. Panjang bedengan disesuaikan dengan kondisi lahan. Jarak tanam yang digunakan pada budidaya tomat adalah 25 x 70 cm.
3. Pemasangan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP)
Bedengan yang sudah selesai dibuat, selanjutnya ditutup dengan MPHP sampai bedengan tersebut tertutup seluruhnya. Pemasangan MPHP ini dimaksudkan untuk membatasi pertumbuhan gulma yanag dapat tumbuh disekitar tanaman tomat, sehingga kompetisi dapat dikurangi. Selain itu untuk menjaga kelembaban tanah agar tidak cepat mengalami kekeringan.
Adapun keuntungan bercocok tanam menggunakan sistem MPHP, antara lain :
• Warna hitam dari mulsa menimbulkan kesan gelap sehingga dapat menekan rumput-rumput liar atau gulma.
• Warna perak dari mulsa dapat memantulkan sinar matahari ; sehingga dapat mengurangi hama aphis, trips dan tungau, serta secara tidak langsung menekan serangan penyakit virus.
• Menjaga tanah tetap gembur, suhu dan kelembaban tanah relatif tetap (stabil).
• Mencegah tercucinya pupuk oleh air hujan, dan penguapan unsur hara oleh sinar matahari.
• Buah tomat yang berada di atas permukaan tanah terhindar dari percikan air tanah sehingga dapat mengurangi resiko berjangkitnya penyakit busuk buah.
• Kesuburan tanah karena pemupukan dapat merata, sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman budidaya relatif seragam (homogen).
• Praktis untuk melakukan sterilisasi tanah dengan menggunakan gas fumigan seperti Basamid-G, karena fungsi MPHP mempercepat proses pembentukan gas zat fumigan tanpa harus membeli plastik khusus.
• Secara ekonomis penggunaan MPHP dapat mengurangi pekerjaan penyiangan dan penggemburan tanah, sehingga biaya pengadaan MPHP dapat dialokasikan dari biaya pemeliharaan tanaman tersebut.
• Pada musim kering (kemarau), MPHP dapat menekan penguapan air dari dalam tanah, sehingga tidak terlalu sering untuk melakukan penyiraman (pengairan).
MPHP yang sudah dipasang, kemudian dilakukan pelubangan MPHP dengan menggunakan kaleng yang dipanaskan. Jarak antar lubang disesuaikan dengan jarak tanam. Karena fungsi lubang tersebut untuk meletakkan bibit yang akan dipindahtanamkan. Pemakaian mulsa tersebut dapat dipakai untuk penanaman yang akan datang apabila mulsa masih bagus, biasanya dipakai dua kali pemakaian.
4. Penyiapan Benih dan Pembibitan
Pada penyiapan benih, tahap pertama yang dilakukan yaitu mengecambahkan terlabih dahulu benih yang akan digunakan. Setelah benih berkecambah, baru dilakukan penyemaian. Penyemaian dilakukan ketika benih sudah berkecambah pada umur sekitar 1 minggu setelah tebar. Benih yang disemai dipilih yang bagus dan seragam pertumbuhannya. Kemudian diletakkan pada polybag kecil ukuran 8 x 10 cm. Penyemaian dilakukan di halaman rumah, hal ini dimaksudkan agar pertumbuhan bibit dapat lebih mudah dikontrol, baik itu terkait penyinaran, penyiraman, serta pemupukan.
Perawatan yang dilakukan selama penyemaian antara lain pencabutan gulma yang tumbuh di sekitar tanaman, karena pada masa ini merupakan periode kritis tanaman terhadap gulma. Selain pencabutan gulma, dibutuhkan pula penyiraman yang teratur. Penyiraman tanaman dilakukan sebanyak dua kali sehari.
5. Penanaman
Penanaman dilakukan ketika bibit tomat sudah berumur 17-23 hari atau berdaun 2-4 helai. Waktu penanaman yang paling baik adalah pagi atau sore hari dimana kelembaban lingkungan relatif tinggi, sehingga penguapan udaranya relatif rendah, sehingga tanaman yang baru pindah ke lahan tidak cepat layu. Selain itu tanaman yang baru dipindah ke lahan dapat beradaptasi.
Jarak tanam yang digunakan adalah 25 x 70 cm. Pembuatan lubang tanam menggunakan tugal yang terbuat dari kayu yang ujungnya runcing. Tanah yang terlihat dari lubang MPHP ditugal, kemudian bibit dimasukkan pada lubang yang ditugal tersebut. Setelah itu dilakukan penyiraman secukupnya sampai tanahnya cukup basah.
6. Pemeliharaan Tanaman
Kegiatan pokok pemeliharaan tanaman meliputi pemasangan ajir (turus), penyiraman (pengairan), pemupukan tambahan (susulan/lanjutan), pengendalian hama, penyakit, dan gulma.
Pemasangan ajir (turus)
Tomat umumnya berbuah lebat, sehingga untuk menopang pertumbuhan tanaman agar kuat dan kokoh perlu dipasang ajir (turus) yang terbuat dari bambu dengan panjang ± 125 cm, lebar ± 4 cm dan tebalnya ± 2 cm. Ajir ditancapkan di dalam lubang mulsa pada bedengan yang menjadi tempat tumbuh tanaman tomat. Pemasangan ajir ini dilakukan pada saat tanaman berumur 4 MST, karena pada umur ini tanaman tomat sudah memiliki tinggi yang memungkinkan terjadinya roboh tanaman, sehingga tanaman tersebut dapat ditopang oleh ajir.
Pengairan (Penyiraman)
Pengairan dilakukan sebatas kondisional, yaitu ketika kondisi tanahnya mulai kering, atau ketika daun tanaman tomat mulai terluhat layu, sehingga tanaman tomat dapat tetap bertahan. Pengairan dengan mengambil air dari sumur bor menggunakan diesel. Pengairan dilakukan sampai lahan yang digunakan tergenang air, sehingga kelembaban tanahnya dapat terjaga dalam waktu yang lebih lama dibandingkan hanya disemprotkan saja. Pengairan yang wajib dilakukan yaitu ketika pemupukan pupuk kimia (NPK), hal ini karena pupuk NPK bersifat panas, sehingga bila tidak diairi, maka tanaman akan terbakar, dan dapat mati.
Pemupukan Tambahan (susulan)
Pemupukan tambahan diberikan ketika tanaman berumur 13 HST, dengan menggunakan pupuk NPK. Dosis yang diberikan yaitu 10 kw/ha dengan cara menaburkan disekitar tanaman pada lubang MPHP. Pemupukan tambahan ini dimaksudkan untuk menambah hara yang berkurang akibat digunakan tanaman pada proses pertumbuhan dan perkembangan pada fase vegetatif. Sehingga hara yang diberikan dapat mendukung tanaman dalam pertumbuhan dan perkembangan generatifnya.
D. Gulma Tanaman Tomat
Gulma adalah tumbuhan tingkat tinggi yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman yang dibudidayakan.
Gulma mengakibatkan kerugian-kerugian pada tanaman utama, antara lain:
1) Kompetisi antara tanaman utama sehingga mengurangi kemampuan berproduksi.
2) Allelopathy yaitu pengeluaran senyawa kimiawi oleh gulma yang beracun bagi tanaman yang lainnya, sehingga merusak pertumbuhannya.
3) Sebagai vektor hama dan penyakit tanaman.
4) Memperbesar biaya usaha pertanian, seperti biaya tambahan untuk pengendaliannya.
Gulma dan pertanaman mengadakan persaingan memperebutkan hara, air dan cahaya. Besar kecilnya persaingan gulma terhadap tanaman pokok akan berpengaruh terhadap baik buruknya pertumbuhan tanaman pokok dan pada gilirannya akan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya hasil tanaman pokok. Tinggi rendahnya hasil tanaman pokok, jika dilihat dari segi gulmanya sangat ditentukan oleh kerapatan gulma, macam gulma, saat kemunculan gulma, kecepatan tumbuh gulma, lama keberadaan gulma, habitus gulma, dan ada tidaknya allelopati.
Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan beberapa cara. Secara preventif, misalnya dengan pembersihan bibit-bibit pertanaman dari kontaminasi biji-biji gulma, pencegahan pengangkutan jarak jauh jerami dan rumput-rumputan makanan ternak, pemberantasan gulma di sisi-sisi sungai dan saluran-saluran pengairan, pencegahan pengangkutan tanaman berikut tanahnya dan sebagainya.
Secara fisik, misal dengan pengolahan tanah, pembabatan, penggenangan, pembakaran dan pemakaian mulsa. Dengan sistem budidaya, misal dengan pergiliran tanaman, budidaya pertanaman dan penaungan dengan tumbuhan penutup (cover crops). Pengendalian secara biologis, yaitu dengan menggunakan organisme lain yang bersifat antagonis. Secara kimiawi, yaitu dengan menggunakan herbisida atau senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan gulma baik secara selektif maupun non selektif, kontak atau sistemik, digunakan saat pratanam, pratumbuh atau pasca tumbuh. Secara terpadu, yaitu dengan menggunakan beberapa cara secara bersamaan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya.
Gulma diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok yaitu teki-tekian, rumput-rumputan, dan gulma daun lebar. Ketiga kelompok gulma memiliki karakteristik tersendiri yang memerlukan strategi khusus untuk mengendalikannya.
a. Gulma teki-tekian
Kelompok teki-tekian dalam pengendaliannya sulit dilakukan baik secara mekanik ataupun dengan kimia karena memiliki umbi batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan-bulan, sehingga jenis pestisida yang baik untuk gulma ini adalah sistemik. Jenis pestisida sistemik ini dapat meresap sampai ke umbinya. Selain itu, gulma ini menjalankan jalur fotosintesis C4 yang menjadikannya sangat efisien dalam 'menguasai' areal pertanian secara cepat. Contoh: teki ladang (Cyperus rotundus), dan udelan (Cyperus kyllinga). Ciri dari gulma teki adalah batang berbentuk segi tiga, bulat, dan tidak berongga, memiliki daun yang berurutan sepanjang batang dalam tiga baris, tidak memiliki lidah daun dan titik tumbuh tersembunyi.
Pada lahan pertanaman tomat ditemukan gulma teki-tekian yaitu teki ladang (Cyperus rotundus). Dengan populasi yang belum mengahambat pertumbuhan dan perkembangan tomat sehingga pengendalian gulma pada lahan tersebut hanya dikendalikan dengan cara mekanik yaitu dengan mencabut gulma tanpa memberikan perlakuan herbisida.
Klasifikasi Rumput Teki (Cyperus rotundus)
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub-kelas : Commelinidae
Ordo : Cyperales
Familia : Cyperaceae
Genus : Cyperus
Spesies : Cyperus rotundus L.
Akar teki atau Rumput palsu (batang segitiga) hidup sepanjang tahun dengan ketinggian mencapai 10 sampai 75 cm. Biasanya tanaman liar ini tumbuh di kebun, di ladang dan di tempat lain sampai pada ketinggian 1000m dari permukaan laut. Tanaman ini mudah dikenali karena bunga-bunganya berwarna hijau kecoklatan, terletak di ujung tangkai dengan tiga tunas helm benang sari berwarna kuning jernih, membentuk bunga-bunga berbulir, mengelompok menjadi satu berupa payung. Ciri khasnya terletak pada buah-buahnya yang berbentuk kerucut besar pada pangkalnya, kadang-kadang melekuk berwarna coklat, dengan panjang 1,5 - 4,5 cm dengan diameter 5 - 10 mm.
Daunnya berbentuk pita, berwarna mengkilat dan terdiri dari 4-10 helai, terdapat pada pangkal batang membentuk rozel akar, dengan pelepah daun tertutup tanah. Pada rimpangnya yang sudah tua terdapat banyak tunas yang menjadi umbi berwarna coklat atau hitam. Rasanya sepat kepahit-pahitan dan baunya wangi. Umbi-umbi ini biasanya mengumpul berupa rumpun.
b. Gulma rumput-rumputan
Gulma dalam kelompok ini berdaun sempit seperti teki-tekian tetapi menghasilkan stolon, alih-alih umbi. Stolon ini di dalam tanah membentuk jaringan rumit yang sulit diatasi secara mekanik.
Gulma rumput-rumputan ini dikendalikan dengan cara mekanik yaitu dengan mencabut. Pada lahan pengamatan pengendalian dilakukan pada dua minggu pertama ketika tanaman tomat masih kecil dimana tanaman masih kalah dalam persainagan perebutan hara, air dan cahaya. setelah tanaman tomat tumbuh besar pengendalian gulma sudah tidak dilakukan karena tanaman tomat sudah mampu berkompetisi dengan gulma yang ada.
Rumput
Rumput (bahasa Inggris: grass) adalah tumbuhan pendek yang sering ada di halaman, pinggir jalan atau lapangan. Rumput dianggap sebagai gulma pengganggu tanaman bila berada di sekitar tanaman yang sengaja ditanam, tapi merupakan aset utama lapangan sepak bola.
Klasifikasi rumput-rumputan
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub-kelas : Commelinidae
Ordo : Poales
Familia : Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus : Eleusine
Spesies : Eleusine indica (L.) Gaertn
(Anonim, 2009e).
c. Gulma daun lebar
Gulma berdaun lebar ini merupakan gulma yang berasal dari ordo Dicotyledoneae. Gulma ini berada pada lubang mulsa yang menjadi tempat tumbuh tanaman tomat dan gulma ini biasanya munculpada akhir masa budidaya. Kompetisi yang terjadi dengan munculnya gulma berdaun lebar ini adalah kompetisi dalam memperebutkan unsur hara dan air. Akan tetapi, kemunculan gulma ini tidak memperngaruhi dari perkembangan tanaman karena telah melalui periode kritis. Ciri-ciri gulma berdaun lebar di antaranya adalah daun muncul pada meristem apikal, terdapat stomata pada daun terutama pada permukaan bawah, terdapat tunas-tunas pada nodusa, serta terdapat titik tumbuh pada cabang. Contoh gulma ini antara lain ceplukan (Physalis angulata L.), wedusan (Ageratum conyzoides L.), sembung rambut (Mikania michranta), namun gulma berdaun lebar yang dijumpai di lahan adalah krokot (Portulaca oleracea) yang termasuk masuk kedalam genus dari suku portulacaceae.
Berdasarkan hasil pengamatan populasi gulma yang tumbuh pada sampel, presentase tertingi terdapat pada minggu ke lima. Hal ini karena sudah tidak dilakukan pengendalian gulma. Pengendalian gulma lebih difokuskan pada umur 2 MST. Secara keseluruhan pengendalian gulma dilakukan dengan cara mekanis yaitu dengan cara dicangkul dan dicabut disekeliling tanaman pada lubang mulsa.
Lokasi penanaman untuk pembudidayakan tomat berada diantara pertanaman kacang panjang dan cabai serta padi. Dari hasil wawancara dengan petani pemilik lahan, awalnya di tanam padi selama dua musim tanam. Untuk selanjutnya tanaman dirotasi dengan menanam tomat. Setelah tanaman tomat dipanen kemudian akan digunakan untuk tanaman padi.
2. Persiapan Lahan
Dalam budidaya tomat lahan harus diolah terlebih dahulu. Pengolahan lahan diperlukan karena tanah yang telah digunakan untuk bercocok tanam, kandungan unsur haranya telah berkurang diserap oleh tanaman sebelumnya sehingga perlu pengolahan tanah dengan cara membaliknya. Kandungan unsur hara yang tersedia dalam tanah dapat tercampur dengan baik dan kemudian penyiapan benih atau pembibitan akan segera dilakukan. Sebaiknya pembibitan dilakukan setelah pengolahan lahan agar penyiapan lahan tidak terburu-buru sehingga pengolahannya dapat dilakukan secara optimal dan bibit tidak terlalu tua.
Lahan tanam yang akan digunakan sebagai tempat budidaya sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu. Gulma yang terdapat di lahan tempat budidaya dicabut sampai bersih agar tidak mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Hal ini karena gulma yang terdapat di lahan dapat merugikan tanaman yang dibudidayakan. Unsur hara yang seharusnya dapat diserap oleh tanaman secara maksimal jadi tidak dapat diserap seluruhnya karena sebagian diserap oleh gulma. Dengan adanya hal ini maka terjadi kompetisi antara tanaman dengan gulam untuk memperebutkan unsur hara. Selain itu, gulma dan akar dari tanaman yang lama dapat menjadi sumber hama dan penyakit. tentunya ini dapat merugikan bagi budidaya tanaman.
Luas lahan yang digunakan dalam budidaya tomat berukuran 2.200m2. Lahan pada awal pengolahan dilakukan pemupukan berupa pupuk kandang dengan dosis 10 ton/ha. Hal ini dimaksudkan guna meningkatkan hara serta memperbaiki struktur tanahnya, sehingga tanah tersebut menjadi gembur, remah, serta mempunyai drainase dan airase yang baik. Dengan ini pertumbuhan tanaman yang akan ditanam dapat tumbuh secara optimal.
Sebelum memindahkan bibit tomat ke lahan, membuat bedengan dengan ukuran lebar ± 110 cm dengan ketinggian bedengan menyesuaikan dan jarak antar bedengan 75-80 cm. Panjang bedengan disesuaikan dengan kondisi lahan. Jarak tanam yang digunakan pada budidaya tomat adalah 25 x 70 cm.
3. Pemasangan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP)
Bedengan yang sudah selesai dibuat, selanjutnya ditutup dengan MPHP sampai bedengan tersebut tertutup seluruhnya. Pemasangan MPHP ini dimaksudkan untuk membatasi pertumbuhan gulma yanag dapat tumbuh disekitar tanaman tomat, sehingga kompetisi dapat dikurangi. Selain itu untuk menjaga kelembaban tanah agar tidak cepat mengalami kekeringan.
Adapun keuntungan bercocok tanam menggunakan sistem MPHP, antara lain :
• Warna hitam dari mulsa menimbulkan kesan gelap sehingga dapat menekan rumput-rumput liar atau gulma.
• Warna perak dari mulsa dapat memantulkan sinar matahari ; sehingga dapat mengurangi hama aphis, trips dan tungau, serta secara tidak langsung menekan serangan penyakit virus.
• Menjaga tanah tetap gembur, suhu dan kelembaban tanah relatif tetap (stabil).
• Mencegah tercucinya pupuk oleh air hujan, dan penguapan unsur hara oleh sinar matahari.
• Buah tomat yang berada di atas permukaan tanah terhindar dari percikan air tanah sehingga dapat mengurangi resiko berjangkitnya penyakit busuk buah.
• Kesuburan tanah karena pemupukan dapat merata, sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman budidaya relatif seragam (homogen).
• Praktis untuk melakukan sterilisasi tanah dengan menggunakan gas fumigan seperti Basamid-G, karena fungsi MPHP mempercepat proses pembentukan gas zat fumigan tanpa harus membeli plastik khusus.
• Secara ekonomis penggunaan MPHP dapat mengurangi pekerjaan penyiangan dan penggemburan tanah, sehingga biaya pengadaan MPHP dapat dialokasikan dari biaya pemeliharaan tanaman tersebut.
• Pada musim kering (kemarau), MPHP dapat menekan penguapan air dari dalam tanah, sehingga tidak terlalu sering untuk melakukan penyiraman (pengairan).
MPHP yang sudah dipasang, kemudian dilakukan pelubangan MPHP dengan menggunakan kaleng yang dipanaskan. Jarak antar lubang disesuaikan dengan jarak tanam. Karena fungsi lubang tersebut untuk meletakkan bibit yang akan dipindahtanamkan. Pemakaian mulsa tersebut dapat dipakai untuk penanaman yang akan datang apabila mulsa masih bagus, biasanya dipakai dua kali pemakaian.
4. Penyiapan Benih dan Pembibitan
Pada penyiapan benih, tahap pertama yang dilakukan yaitu mengecambahkan terlabih dahulu benih yang akan digunakan. Setelah benih berkecambah, baru dilakukan penyemaian. Penyemaian dilakukan ketika benih sudah berkecambah pada umur sekitar 1 minggu setelah tebar. Benih yang disemai dipilih yang bagus dan seragam pertumbuhannya. Kemudian diletakkan pada polybag kecil ukuran 8 x 10 cm. Penyemaian dilakukan di halaman rumah, hal ini dimaksudkan agar pertumbuhan bibit dapat lebih mudah dikontrol, baik itu terkait penyinaran, penyiraman, serta pemupukan.
Perawatan yang dilakukan selama penyemaian antara lain pencabutan gulma yang tumbuh di sekitar tanaman, karena pada masa ini merupakan periode kritis tanaman terhadap gulma. Selain pencabutan gulma, dibutuhkan pula penyiraman yang teratur. Penyiraman tanaman dilakukan sebanyak dua kali sehari.
5. Penanaman
Penanaman dilakukan ketika bibit tomat sudah berumur 17-23 hari atau berdaun 2-4 helai. Waktu penanaman yang paling baik adalah pagi atau sore hari dimana kelembaban lingkungan relatif tinggi, sehingga penguapan udaranya relatif rendah, sehingga tanaman yang baru pindah ke lahan tidak cepat layu. Selain itu tanaman yang baru dipindah ke lahan dapat beradaptasi.
Jarak tanam yang digunakan adalah 25 x 70 cm. Pembuatan lubang tanam menggunakan tugal yang terbuat dari kayu yang ujungnya runcing. Tanah yang terlihat dari lubang MPHP ditugal, kemudian bibit dimasukkan pada lubang yang ditugal tersebut. Setelah itu dilakukan penyiraman secukupnya sampai tanahnya cukup basah.
6. Pemeliharaan Tanaman
Kegiatan pokok pemeliharaan tanaman meliputi pemasangan ajir (turus), penyiraman (pengairan), pemupukan tambahan (susulan/lanjutan), pengendalian hama, penyakit, dan gulma.
Pemasangan ajir (turus)
Tomat umumnya berbuah lebat, sehingga untuk menopang pertumbuhan tanaman agar kuat dan kokoh perlu dipasang ajir (turus) yang terbuat dari bambu dengan panjang ± 125 cm, lebar ± 4 cm dan tebalnya ± 2 cm. Ajir ditancapkan di dalam lubang mulsa pada bedengan yang menjadi tempat tumbuh tanaman tomat. Pemasangan ajir ini dilakukan pada saat tanaman berumur 4 MST, karena pada umur ini tanaman tomat sudah memiliki tinggi yang memungkinkan terjadinya roboh tanaman, sehingga tanaman tersebut dapat ditopang oleh ajir.
Pengairan (Penyiraman)
Pengairan dilakukan sebatas kondisional, yaitu ketika kondisi tanahnya mulai kering, atau ketika daun tanaman tomat mulai terluhat layu, sehingga tanaman tomat dapat tetap bertahan. Pengairan dengan mengambil air dari sumur bor menggunakan diesel. Pengairan dilakukan sampai lahan yang digunakan tergenang air, sehingga kelembaban tanahnya dapat terjaga dalam waktu yang lebih lama dibandingkan hanya disemprotkan saja. Pengairan yang wajib dilakukan yaitu ketika pemupukan pupuk kimia (NPK), hal ini karena pupuk NPK bersifat panas, sehingga bila tidak diairi, maka tanaman akan terbakar, dan dapat mati.
Pemupukan Tambahan (susulan)
Pemupukan tambahan diberikan ketika tanaman berumur 13 HST, dengan menggunakan pupuk NPK. Dosis yang diberikan yaitu 10 kw/ha dengan cara menaburkan disekitar tanaman pada lubang MPHP. Pemupukan tambahan ini dimaksudkan untuk menambah hara yang berkurang akibat digunakan tanaman pada proses pertumbuhan dan perkembangan pada fase vegetatif. Sehingga hara yang diberikan dapat mendukung tanaman dalam pertumbuhan dan perkembangan generatifnya.
D. Gulma Tanaman Tomat
Gulma adalah tumbuhan tingkat tinggi yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman yang dibudidayakan.
Gulma mengakibatkan kerugian-kerugian pada tanaman utama, antara lain:
1) Kompetisi antara tanaman utama sehingga mengurangi kemampuan berproduksi.
2) Allelopathy yaitu pengeluaran senyawa kimiawi oleh gulma yang beracun bagi tanaman yang lainnya, sehingga merusak pertumbuhannya.
3) Sebagai vektor hama dan penyakit tanaman.
4) Memperbesar biaya usaha pertanian, seperti biaya tambahan untuk pengendaliannya.
Gulma dan pertanaman mengadakan persaingan memperebutkan hara, air dan cahaya. Besar kecilnya persaingan gulma terhadap tanaman pokok akan berpengaruh terhadap baik buruknya pertumbuhan tanaman pokok dan pada gilirannya akan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya hasil tanaman pokok. Tinggi rendahnya hasil tanaman pokok, jika dilihat dari segi gulmanya sangat ditentukan oleh kerapatan gulma, macam gulma, saat kemunculan gulma, kecepatan tumbuh gulma, lama keberadaan gulma, habitus gulma, dan ada tidaknya allelopati.
Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan beberapa cara. Secara preventif, misalnya dengan pembersihan bibit-bibit pertanaman dari kontaminasi biji-biji gulma, pencegahan pengangkutan jarak jauh jerami dan rumput-rumputan makanan ternak, pemberantasan gulma di sisi-sisi sungai dan saluran-saluran pengairan, pencegahan pengangkutan tanaman berikut tanahnya dan sebagainya.
Secara fisik, misal dengan pengolahan tanah, pembabatan, penggenangan, pembakaran dan pemakaian mulsa. Dengan sistem budidaya, misal dengan pergiliran tanaman, budidaya pertanaman dan penaungan dengan tumbuhan penutup (cover crops). Pengendalian secara biologis, yaitu dengan menggunakan organisme lain yang bersifat antagonis. Secara kimiawi, yaitu dengan menggunakan herbisida atau senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan gulma baik secara selektif maupun non selektif, kontak atau sistemik, digunakan saat pratanam, pratumbuh atau pasca tumbuh. Secara terpadu, yaitu dengan menggunakan beberapa cara secara bersamaan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya.
Gulma diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok yaitu teki-tekian, rumput-rumputan, dan gulma daun lebar. Ketiga kelompok gulma memiliki karakteristik tersendiri yang memerlukan strategi khusus untuk mengendalikannya.
a. Gulma teki-tekian
Kelompok teki-tekian dalam pengendaliannya sulit dilakukan baik secara mekanik ataupun dengan kimia karena memiliki umbi batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan-bulan, sehingga jenis pestisida yang baik untuk gulma ini adalah sistemik. Jenis pestisida sistemik ini dapat meresap sampai ke umbinya. Selain itu, gulma ini menjalankan jalur fotosintesis C4 yang menjadikannya sangat efisien dalam 'menguasai' areal pertanian secara cepat. Contoh: teki ladang (Cyperus rotundus), dan udelan (Cyperus kyllinga). Ciri dari gulma teki adalah batang berbentuk segi tiga, bulat, dan tidak berongga, memiliki daun yang berurutan sepanjang batang dalam tiga baris, tidak memiliki lidah daun dan titik tumbuh tersembunyi.
Pada lahan pertanaman tomat ditemukan gulma teki-tekian yaitu teki ladang (Cyperus rotundus). Dengan populasi yang belum mengahambat pertumbuhan dan perkembangan tomat sehingga pengendalian gulma pada lahan tersebut hanya dikendalikan dengan cara mekanik yaitu dengan mencabut gulma tanpa memberikan perlakuan herbisida.
Klasifikasi Rumput Teki (Cyperus rotundus)
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub-kelas : Commelinidae
Ordo : Cyperales
Familia : Cyperaceae
Genus : Cyperus
Spesies : Cyperus rotundus L.
Akar teki atau Rumput palsu (batang segitiga) hidup sepanjang tahun dengan ketinggian mencapai 10 sampai 75 cm. Biasanya tanaman liar ini tumbuh di kebun, di ladang dan di tempat lain sampai pada ketinggian 1000m dari permukaan laut. Tanaman ini mudah dikenali karena bunga-bunganya berwarna hijau kecoklatan, terletak di ujung tangkai dengan tiga tunas helm benang sari berwarna kuning jernih, membentuk bunga-bunga berbulir, mengelompok menjadi satu berupa payung. Ciri khasnya terletak pada buah-buahnya yang berbentuk kerucut besar pada pangkalnya, kadang-kadang melekuk berwarna coklat, dengan panjang 1,5 - 4,5 cm dengan diameter 5 - 10 mm.
Daunnya berbentuk pita, berwarna mengkilat dan terdiri dari 4-10 helai, terdapat pada pangkal batang membentuk rozel akar, dengan pelepah daun tertutup tanah. Pada rimpangnya yang sudah tua terdapat banyak tunas yang menjadi umbi berwarna coklat atau hitam. Rasanya sepat kepahit-pahitan dan baunya wangi. Umbi-umbi ini biasanya mengumpul berupa rumpun.
b. Gulma rumput-rumputan
Gulma dalam kelompok ini berdaun sempit seperti teki-tekian tetapi menghasilkan stolon, alih-alih umbi. Stolon ini di dalam tanah membentuk jaringan rumit yang sulit diatasi secara mekanik.
Gulma rumput-rumputan ini dikendalikan dengan cara mekanik yaitu dengan mencabut. Pada lahan pengamatan pengendalian dilakukan pada dua minggu pertama ketika tanaman tomat masih kecil dimana tanaman masih kalah dalam persainagan perebutan hara, air dan cahaya. setelah tanaman tomat tumbuh besar pengendalian gulma sudah tidak dilakukan karena tanaman tomat sudah mampu berkompetisi dengan gulma yang ada.
Rumput
Rumput (bahasa Inggris: grass) adalah tumbuhan pendek yang sering ada di halaman, pinggir jalan atau lapangan. Rumput dianggap sebagai gulma pengganggu tanaman bila berada di sekitar tanaman yang sengaja ditanam, tapi merupakan aset utama lapangan sepak bola.
Klasifikasi rumput-rumputan
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub-kelas : Commelinidae
Ordo : Poales
Familia : Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus : Eleusine
Spesies : Eleusine indica (L.) Gaertn
(Anonim, 2009e).
c. Gulma daun lebar
Gulma berdaun lebar ini merupakan gulma yang berasal dari ordo Dicotyledoneae. Gulma ini berada pada lubang mulsa yang menjadi tempat tumbuh tanaman tomat dan gulma ini biasanya munculpada akhir masa budidaya. Kompetisi yang terjadi dengan munculnya gulma berdaun lebar ini adalah kompetisi dalam memperebutkan unsur hara dan air. Akan tetapi, kemunculan gulma ini tidak memperngaruhi dari perkembangan tanaman karena telah melalui periode kritis. Ciri-ciri gulma berdaun lebar di antaranya adalah daun muncul pada meristem apikal, terdapat stomata pada daun terutama pada permukaan bawah, terdapat tunas-tunas pada nodusa, serta terdapat titik tumbuh pada cabang. Contoh gulma ini antara lain ceplukan (Physalis angulata L.), wedusan (Ageratum conyzoides L.), sembung rambut (Mikania michranta), namun gulma berdaun lebar yang dijumpai di lahan adalah krokot (Portulaca oleracea) yang termasuk masuk kedalam genus dari suku portulacaceae.
Berdasarkan hasil pengamatan populasi gulma yang tumbuh pada sampel, presentase tertingi terdapat pada minggu ke lima. Hal ini karena sudah tidak dilakukan pengendalian gulma. Pengendalian gulma lebih difokuskan pada umur 2 MST. Secara keseluruhan pengendalian gulma dilakukan dengan cara mekanis yaitu dengan cara dicangkul dan dicabut disekeliling tanaman pada lubang mulsa.
Penyakit Tanaman Tomat
Tumbuhan dikatakan sehat atau normal, apabila tumbuhan tersebut dapat melaksanakan fungsi-fungsi fisiologisnya sesuai dengan potensi genetic terbaik yang dimilikinya. Fungsi-fungsi tersebut mencakup pembelahan, diferensiasi dan perkembangan sel yang normal, penyerapan air dan mineral dari tanah dan mentranslokasikannya ke seluruh bagian tumbuhan; fotosintesis dan translokasi hasil-hasil fotosintesis ke tempat-tempat penggunaan dan penyimpanannya, metabolisme senyawa-senyawa yang disintesis; reproduksi dan penyimpanan persediaan makanan untuk reproduksi.
Pertumbuhan dan hasil tumbuhan bergantung pada ketersediaan hara dan air di dalam tanah tempat tumbuhan tersebut tumbuh, dan pada pemeliharaan dalam kisaran faktor-faktor lingkungan tertentu, seperti suhu, kelembaban dan cahaya. Sesuatu yang mempengaruhi kesehatan tumbuhan berkemungkinan besar juga akan mempengaruhi pertumbuhan dan produksinya, dan akan dapat menurunkan kegunaannya bagi manusia. Patogen tumbuhan, cuaca yang tidak menguntungkan, gulma dan serangga hama adalah penyebab yang sangat umum dalam menurunkan pertumbuhan dan produksi tumbuhan.
Apabila tumbuhan diganggu oleh patogen atau oleh keadaan lingkungan tertentu dan salah satu atau lebih dari fungsi tersebut terganggu sehingga terjadi penyimpangan dari keadaan normal, maka tumbuhan menjadi sakit. Penyebab utama penyakit baik berupa organisme hidup patogenik (parasit) maupun faktor lingkungan fisik (fisiopath). Adapun mekanisme penyakit tersebut dihasilkan akan sangat bervariasi yang tergantung pada agensia penyebabnya dan kadang-kadang juga bervariasi dengan jenis tumbuhannya. Pada mulanya tumbuhan bereaksi terhadap agensia penyebab penyakit pada bagian terserang. Reaksi tersebut dapat berupa reaksi biokimia alami, yang tidak dapat dilihat. Akan tetapi reaksinya dengan cepat menyebar dan terjadinya perubahan-perubahan pada jaringan yang dengan sendirinya menjelma menjadi makroskopik dan membentuk gejala penyakit.
Berbagai macam penyakit yang dapat menular, yaitu bakteri, jamur, virus, mikoplasma, dan tanaman tingkat tinggi. Kekhasan penyakit yang menular adalah terjadinya interaksi yang terus-menerus oleh faktor-faktor biotik (hidup) atau oleh faktor-faktor abiotik (fisik atau kimia).
Pada tanaman tomat terdapat berbagai macam penyakit yang biasa menjangkit. Penyakit yang umumnya menjangkit tomat antara lain :
√ Busuk Daun
Busuk daun disebabkan Phytophtora infestans, menyebabkan daun dan buah menjadi bernoda-noda hitam seperti cacar dan akhirnya menjadi kering atau busuk. Pengendaliannya dengan pemilihan waktu tanam yang tepat dan pemakaian fungisida dengan bahan aktif Mankozeb 0,25 0,3% dan Kaptafol
√ Penyakit Layu
Disebabkan oleh Fusarium oxyporium, menyerang tanaman dengan gejala tulang daun menjadi pucat, tangkai daun merunduk, layu dan tumbuh merana kemudian mati. Cara pengendaliannya dengan sterilisasi tanah persemaian dan menanam varietas yang resisten.
√ Penyakit Layu Bakteri
Disebabkan bakteri Pseudomonas solanacearum. Gejalanya daun muda menjadi layu atau daun tua menjadi kuning. Gejala lebih lanjut apabila batang dipotong akan keluar cairan berwarna putih susu seperti lendir dari berkas pembuluh, sehingga penyakit ini juga disebut penyakit lendir. Pengendaliannya dengan cara pergiliran tanaman yang bukan tanaman inang bakteri dan menanam varietas yang resisten.
√ Penyakit Rebah Batang
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Phytium yang menyerang batang muda. Gejala yang nampak mulai dari daerah perakaran dan berwarna coklat gelap dan terus menyerang batang muda sehingga tanaman rebah dan akhirnya mati. Penyakit ini sering menyerang persemaian sampai awal pindah tanam. Adapun pencegahannya adalah dengan menggunakan benih unggul berkualitas dan menggunakan bahan kimia yang tepat misalnya Saromyl 35SD yang diaplikasikan dengan cara perlakuan benih atau disemprotkan saat tanaman masih berada di persemaian. Drainase yang benar serta hindari dari penggenangan pada tanaman muda merupakan pencegahan yang baik.
√ Penyakit Blight atau Bercak Daun.
Penyakit ini disebabkan oleh serangan jamur Altenaria solani. Gejalanya kelihatan pada daun, batang dan buah tomat nampak bercak kekuning-kuningan dan akhirnya menjadi gelap dan hitam. Bercak berbentuk membulat dan terdapat lingkaran konsentris. Tanaman yang terserang akan terhambat pertumbuhannya dan pada serangan lebat, tanaman akan mati. Anjuran agar memilih varietas yang toleran/tahan dan sanitasi lingkungan tanaman yang baik.Selain itu, untuk mengendalikan terjadinya penyakit tersebut dapat menggunakan fungisida protektan maupun sistematis untuk melindungi tanaman misalnya Kocide 54WDG dan Starmyl 25WP.
√ Penyakit Busuk Batang Didymella sp.
Penyakit ini disebabkan jamur Didymella lycopersici umumnya menyerang tomat dan tanaman sefamili seperti cabai, terong dan kentang. Serangannya bisa menyeluruh pada bagian tanaman baik daun maupun batang. Batang yang terserang akan ditumbuhi jamur yang berwarna hitam. Daun di bawah batang yang terserang berwarna kuning dan tanaman nampak layu dan akhirnya mati. Pencegahan dengan menggunakan benih yang bebas patogen dan kebersihan lahan dari bekas tanaman yang terserang. Rotasi tanaman dapat juga memperkecil serangan penyakit. penggunaan fungisida yang efektif sangat dianjurkan misalnya Kocide 54WDG
Dalam praktikum yang telah dilakukan, pada tanaman tomat sampel yang diamati ditemukan 2 macam penyakit yang menjangkit. Penyakit tersebut yaitu :
1. Penyakit Blight atau Bercak Daun.
Penyakit ini disebabkan oleh serangan jamur Altenaria solani. Gejalanya kelihatan pada daun, batang dan buah tomat nampak bercak kekuning-kuningan dan akhirnya menjadi gelap dan hitam. Bercak berbentuk membulat dan terdapat lingkaran konsentris. Tanaman yang terserang akan terhambat pertumbuhannya dan pada serangan lebat, tanaman akan mati.
Penyakit Blight atau Bercak Daun merupakan penyakit yang menginfeksi daun. Karenanya, penyakit ini dapat mengganggu kelancaran proses fotosintesis pada tanaman yang dijangkit. Penyakit Blight atau Bercak Daun memiliki gejala nekrosis, yaitu organ daun, cabang, ranting dan bunga menjadi coklat dengan sangat cepat dan menyeluruh yang dapat menyebabkan kematian.
Pada grafik intensitas penyakit pada tanaman tomat dapat diketahui bahwa penyakit Blight / bercak daun pada sampel tanaman tomat yang diamati memiliki intensitas yang konstan sejak awal munculnya penyakit. Pada tanaman tomat sampel penyakit Blight hanya menjangkit satu sampel. Laju infeksi penyakit Blight / bercak daun pada tanaman tomat sampel sebesar 1,419.10-3 pada interval minggu ke empat hingga minggu ke lima. Minggu selanjutnya hingga minggu ke tujuh laju infeksi pada tanaman tomat sampel sebesar 0, hal ini diakibatkan intensitas penyakit yang menyerang konstan. Pada minggu terakhir pengamatan laju infeksi penyakit Blight pada tanaman tomat sebesar 1,406.10-3. Insiden penyakit Blight / bercak daun pada tanaman tomat juga konstan sejak awal terjangkit yaitu pada minggu ke lima. Hanya terdapat satu tanaman sampel yang terjangkit penyakit Blight / bercak daun.
Anjuran agar memilih varietas yang toleran/tahan dan sanitasi lingkungan tanaman yang baik. Selain itu, untuk mengendalikan terjadinya penyakit tersebut dapat menggunakan fungisida protektan maupun sistematis untuk melindungi tanaman misalnya Kocide 54WDG dan Starmyl 25WP.
2. Tomato Yellow Leaf Curl Virus (TYLCV)
Tomato Yellow Leaf Curl Virus (TYLCV) atau virus kuning-keriting pada daun tanaman tomat merupakan salah satu anggota dari Virus yang tergolong dalam Suku Geminiviridae, Marga Begomovirus. Serangan TYLCV pada tanaman tomat dapat menyebabkan daun tanaman menggulung, mengeras, bertekstur kasar dan lebih tebal dibanding tanaman normal. Daun tanaman yang terserang juga akan mengalami klorosis (yellowing) dan mengkerut/keriting (curly).
Gangguan tersebut hanya dapat terjadi pada daun baru yang terbentuk setelah tanaman terinfeksi, sedangkan daun tua tetap dan tidak mengalami penyusutan. Hal ini yang menyebabkan tanaman tampak ganjil karena daun pada bagian bawah tanaman tampak lebih lebat jika dibandingkan daun yang berada pada bagian atas. Tanaman rentan yang terserang pada fase perkembangan generatif dapat menyebabkan tanaman kerdil (stunting), jika serangan berlangsung hingga fase generatif maka buah yang dihasilkan akan berukuran kecil.
Pada pengamatan yang dilakukan diperoleh data bahwa intensitas penyakit pada tanaman tomat yang terjangkit penyakit TYLCV sebesar 3% pada minggu ke lima. Intensitas penyakit TYLCV meningkat pada minggu selanjutnya menjadi 4 %, pada minggu ke-7 mengalami peningkatan kembali hingga menjadi 8%. Pada minggu terakhir pengamatan intensitas penyakit TYLCV pada tomat konstan di 8%. Laju infeksi penyakit TYLCV pada interfal minggu ke empat dan lima sebesar 4,337.10-3, pada interfal minggu ke lima dan enam sebesar 1,511.10-3, pada interfal minggu ke enam dan tujuh sebesar 1,511.10-3 dan pada minggu terakhir pengamatan sebesar 0 karena tidak mengalami peningkatan intensitas penyakit. Insiden penyakit TYLCV pada tanaman tomat sampel mengalami peningkatan tiap minggunya. Pada minggu ke-5 insiden penyakit sebesar 20%, meningkat hingga 30% pada minggu ke-6 dan 40% pada minggu ke-7 dan 8.
TYLCV tidak menular melalui tanah, terbawa benih dan tidak ditularkan secara mekanik. Virus ini dapat menular dari tanaman satu ke tanaman yang lain karena keberadaan serangga vektor kutu kebul (Bemisi tabaci). Selain berperan sebagai serangga vektor, kutu kebul juga berperan sebagai hama. Serangga vektor kutu kebul (whiteflies) mendapatkan virus pada saat serangga tersebut makan dengan cara menusuk sel tanaman dan menghisap sap dari tanaman sakit menggunakan alat mulut yang berupa stilet. Virus yang telah terbawa oleh serangga akan bertahan di dalam tubuh serangga selama hidupnya namun tidak diturunkan pada generasi berikutnya. Serangga yang telah membawa virus (virulivirus) akan menyebarkan virus yang dibawanya pada saat proses makan pada tanaman lain. Jika kejadian ini berlangsung dalam waktu yang lama maka di dalam kurun waktu itu pula tanaman banyak yang terinfeksi oleh virus. Namun demikian, hanya serangga dewasa saja yang bisa menularkan virus, Walaupun pada saat nimfa serangga juga sudah mengandung virus.
Kutu kebul dapat mengandung virus dengan makan pada tanaman yang terinfeksi dalam jangka waktu 15 menit dan dapat menularkannya pada tanaman sehat dalam waktu 15 hingga 30 menit dengan cara yang sama. Penularan dan penampakan gejala dipengaruhi oleh waktu dan jumlah serangga pada tanaman. Gejala akan lebih cepat nampak dan berat jika kutu kebul pada tanaman semakin lama makan dan semakin banyak jumlahnya. Walaupun efisiensi penularan virus oleh masing-masing serangga kecil, namun kelimpahan populasi dan pergerakan serangga di dalam dan di antara tanaman akan dapat menyebarkan virus sehingga tanaman dapat terserang berat.
Pertumbuhan dan hasil tumbuhan bergantung pada ketersediaan hara dan air di dalam tanah tempat tumbuhan tersebut tumbuh, dan pada pemeliharaan dalam kisaran faktor-faktor lingkungan tertentu, seperti suhu, kelembaban dan cahaya. Sesuatu yang mempengaruhi kesehatan tumbuhan berkemungkinan besar juga akan mempengaruhi pertumbuhan dan produksinya, dan akan dapat menurunkan kegunaannya bagi manusia. Patogen tumbuhan, cuaca yang tidak menguntungkan, gulma dan serangga hama adalah penyebab yang sangat umum dalam menurunkan pertumbuhan dan produksi tumbuhan.
Apabila tumbuhan diganggu oleh patogen atau oleh keadaan lingkungan tertentu dan salah satu atau lebih dari fungsi tersebut terganggu sehingga terjadi penyimpangan dari keadaan normal, maka tumbuhan menjadi sakit. Penyebab utama penyakit baik berupa organisme hidup patogenik (parasit) maupun faktor lingkungan fisik (fisiopath). Adapun mekanisme penyakit tersebut dihasilkan akan sangat bervariasi yang tergantung pada agensia penyebabnya dan kadang-kadang juga bervariasi dengan jenis tumbuhannya. Pada mulanya tumbuhan bereaksi terhadap agensia penyebab penyakit pada bagian terserang. Reaksi tersebut dapat berupa reaksi biokimia alami, yang tidak dapat dilihat. Akan tetapi reaksinya dengan cepat menyebar dan terjadinya perubahan-perubahan pada jaringan yang dengan sendirinya menjelma menjadi makroskopik dan membentuk gejala penyakit.
Berbagai macam penyakit yang dapat menular, yaitu bakteri, jamur, virus, mikoplasma, dan tanaman tingkat tinggi. Kekhasan penyakit yang menular adalah terjadinya interaksi yang terus-menerus oleh faktor-faktor biotik (hidup) atau oleh faktor-faktor abiotik (fisik atau kimia).
Pada tanaman tomat terdapat berbagai macam penyakit yang biasa menjangkit. Penyakit yang umumnya menjangkit tomat antara lain :
√ Busuk Daun
Busuk daun disebabkan Phytophtora infestans, menyebabkan daun dan buah menjadi bernoda-noda hitam seperti cacar dan akhirnya menjadi kering atau busuk. Pengendaliannya dengan pemilihan waktu tanam yang tepat dan pemakaian fungisida dengan bahan aktif Mankozeb 0,25 0,3% dan Kaptafol
√ Penyakit Layu
Disebabkan oleh Fusarium oxyporium, menyerang tanaman dengan gejala tulang daun menjadi pucat, tangkai daun merunduk, layu dan tumbuh merana kemudian mati. Cara pengendaliannya dengan sterilisasi tanah persemaian dan menanam varietas yang resisten.
√ Penyakit Layu Bakteri
Disebabkan bakteri Pseudomonas solanacearum. Gejalanya daun muda menjadi layu atau daun tua menjadi kuning. Gejala lebih lanjut apabila batang dipotong akan keluar cairan berwarna putih susu seperti lendir dari berkas pembuluh, sehingga penyakit ini juga disebut penyakit lendir. Pengendaliannya dengan cara pergiliran tanaman yang bukan tanaman inang bakteri dan menanam varietas yang resisten.
√ Penyakit Rebah Batang
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Phytium yang menyerang batang muda. Gejala yang nampak mulai dari daerah perakaran dan berwarna coklat gelap dan terus menyerang batang muda sehingga tanaman rebah dan akhirnya mati. Penyakit ini sering menyerang persemaian sampai awal pindah tanam. Adapun pencegahannya adalah dengan menggunakan benih unggul berkualitas dan menggunakan bahan kimia yang tepat misalnya Saromyl 35SD yang diaplikasikan dengan cara perlakuan benih atau disemprotkan saat tanaman masih berada di persemaian. Drainase yang benar serta hindari dari penggenangan pada tanaman muda merupakan pencegahan yang baik.
√ Penyakit Blight atau Bercak Daun.
Penyakit ini disebabkan oleh serangan jamur Altenaria solani. Gejalanya kelihatan pada daun, batang dan buah tomat nampak bercak kekuning-kuningan dan akhirnya menjadi gelap dan hitam. Bercak berbentuk membulat dan terdapat lingkaran konsentris. Tanaman yang terserang akan terhambat pertumbuhannya dan pada serangan lebat, tanaman akan mati. Anjuran agar memilih varietas yang toleran/tahan dan sanitasi lingkungan tanaman yang baik.Selain itu, untuk mengendalikan terjadinya penyakit tersebut dapat menggunakan fungisida protektan maupun sistematis untuk melindungi tanaman misalnya Kocide 54WDG dan Starmyl 25WP.
√ Penyakit Busuk Batang Didymella sp.
Penyakit ini disebabkan jamur Didymella lycopersici umumnya menyerang tomat dan tanaman sefamili seperti cabai, terong dan kentang. Serangannya bisa menyeluruh pada bagian tanaman baik daun maupun batang. Batang yang terserang akan ditumbuhi jamur yang berwarna hitam. Daun di bawah batang yang terserang berwarna kuning dan tanaman nampak layu dan akhirnya mati. Pencegahan dengan menggunakan benih yang bebas patogen dan kebersihan lahan dari bekas tanaman yang terserang. Rotasi tanaman dapat juga memperkecil serangan penyakit. penggunaan fungisida yang efektif sangat dianjurkan misalnya Kocide 54WDG
Dalam praktikum yang telah dilakukan, pada tanaman tomat sampel yang diamati ditemukan 2 macam penyakit yang menjangkit. Penyakit tersebut yaitu :
1. Penyakit Blight atau Bercak Daun.
Penyakit ini disebabkan oleh serangan jamur Altenaria solani. Gejalanya kelihatan pada daun, batang dan buah tomat nampak bercak kekuning-kuningan dan akhirnya menjadi gelap dan hitam. Bercak berbentuk membulat dan terdapat lingkaran konsentris. Tanaman yang terserang akan terhambat pertumbuhannya dan pada serangan lebat, tanaman akan mati.
Penyakit Blight atau Bercak Daun merupakan penyakit yang menginfeksi daun. Karenanya, penyakit ini dapat mengganggu kelancaran proses fotosintesis pada tanaman yang dijangkit. Penyakit Blight atau Bercak Daun memiliki gejala nekrosis, yaitu organ daun, cabang, ranting dan bunga menjadi coklat dengan sangat cepat dan menyeluruh yang dapat menyebabkan kematian.
Pada grafik intensitas penyakit pada tanaman tomat dapat diketahui bahwa penyakit Blight / bercak daun pada sampel tanaman tomat yang diamati memiliki intensitas yang konstan sejak awal munculnya penyakit. Pada tanaman tomat sampel penyakit Blight hanya menjangkit satu sampel. Laju infeksi penyakit Blight / bercak daun pada tanaman tomat sampel sebesar 1,419.10-3 pada interval minggu ke empat hingga minggu ke lima. Minggu selanjutnya hingga minggu ke tujuh laju infeksi pada tanaman tomat sampel sebesar 0, hal ini diakibatkan intensitas penyakit yang menyerang konstan. Pada minggu terakhir pengamatan laju infeksi penyakit Blight pada tanaman tomat sebesar 1,406.10-3. Insiden penyakit Blight / bercak daun pada tanaman tomat juga konstan sejak awal terjangkit yaitu pada minggu ke lima. Hanya terdapat satu tanaman sampel yang terjangkit penyakit Blight / bercak daun.
Anjuran agar memilih varietas yang toleran/tahan dan sanitasi lingkungan tanaman yang baik. Selain itu, untuk mengendalikan terjadinya penyakit tersebut dapat menggunakan fungisida protektan maupun sistematis untuk melindungi tanaman misalnya Kocide 54WDG dan Starmyl 25WP.
2. Tomato Yellow Leaf Curl Virus (TYLCV)
Tomato Yellow Leaf Curl Virus (TYLCV) atau virus kuning-keriting pada daun tanaman tomat merupakan salah satu anggota dari Virus yang tergolong dalam Suku Geminiviridae, Marga Begomovirus. Serangan TYLCV pada tanaman tomat dapat menyebabkan daun tanaman menggulung, mengeras, bertekstur kasar dan lebih tebal dibanding tanaman normal. Daun tanaman yang terserang juga akan mengalami klorosis (yellowing) dan mengkerut/keriting (curly).
Gangguan tersebut hanya dapat terjadi pada daun baru yang terbentuk setelah tanaman terinfeksi, sedangkan daun tua tetap dan tidak mengalami penyusutan. Hal ini yang menyebabkan tanaman tampak ganjil karena daun pada bagian bawah tanaman tampak lebih lebat jika dibandingkan daun yang berada pada bagian atas. Tanaman rentan yang terserang pada fase perkembangan generatif dapat menyebabkan tanaman kerdil (stunting), jika serangan berlangsung hingga fase generatif maka buah yang dihasilkan akan berukuran kecil.
Pada pengamatan yang dilakukan diperoleh data bahwa intensitas penyakit pada tanaman tomat yang terjangkit penyakit TYLCV sebesar 3% pada minggu ke lima. Intensitas penyakit TYLCV meningkat pada minggu selanjutnya menjadi 4 %, pada minggu ke-7 mengalami peningkatan kembali hingga menjadi 8%. Pada minggu terakhir pengamatan intensitas penyakit TYLCV pada tomat konstan di 8%. Laju infeksi penyakit TYLCV pada interfal minggu ke empat dan lima sebesar 4,337.10-3, pada interfal minggu ke lima dan enam sebesar 1,511.10-3, pada interfal minggu ke enam dan tujuh sebesar 1,511.10-3 dan pada minggu terakhir pengamatan sebesar 0 karena tidak mengalami peningkatan intensitas penyakit. Insiden penyakit TYLCV pada tanaman tomat sampel mengalami peningkatan tiap minggunya. Pada minggu ke-5 insiden penyakit sebesar 20%, meningkat hingga 30% pada minggu ke-6 dan 40% pada minggu ke-7 dan 8.
TYLCV tidak menular melalui tanah, terbawa benih dan tidak ditularkan secara mekanik. Virus ini dapat menular dari tanaman satu ke tanaman yang lain karena keberadaan serangga vektor kutu kebul (Bemisi tabaci). Selain berperan sebagai serangga vektor, kutu kebul juga berperan sebagai hama. Serangga vektor kutu kebul (whiteflies) mendapatkan virus pada saat serangga tersebut makan dengan cara menusuk sel tanaman dan menghisap sap dari tanaman sakit menggunakan alat mulut yang berupa stilet. Virus yang telah terbawa oleh serangga akan bertahan di dalam tubuh serangga selama hidupnya namun tidak diturunkan pada generasi berikutnya. Serangga yang telah membawa virus (virulivirus) akan menyebarkan virus yang dibawanya pada saat proses makan pada tanaman lain. Jika kejadian ini berlangsung dalam waktu yang lama maka di dalam kurun waktu itu pula tanaman banyak yang terinfeksi oleh virus. Namun demikian, hanya serangga dewasa saja yang bisa menularkan virus, Walaupun pada saat nimfa serangga juga sudah mengandung virus.
Kutu kebul dapat mengandung virus dengan makan pada tanaman yang terinfeksi dalam jangka waktu 15 menit dan dapat menularkannya pada tanaman sehat dalam waktu 15 hingga 30 menit dengan cara yang sama. Penularan dan penampakan gejala dipengaruhi oleh waktu dan jumlah serangga pada tanaman. Gejala akan lebih cepat nampak dan berat jika kutu kebul pada tanaman semakin lama makan dan semakin banyak jumlahnya. Walaupun efisiensi penularan virus oleh masing-masing serangga kecil, namun kelimpahan populasi dan pergerakan serangga di dalam dan di antara tanaman akan dapat menyebarkan virus sehingga tanaman dapat terserang berat.
Hama Tanaman Tomat
Kerusakan yang terjadi di lahan tomat sebagian besar diakibatkan oleh faktor lingkungan, hal ini dikarenakan pada saat penanaman dilakukan pada awal musim hujan dan berangin sehingga banyak tanaman yang roboh karena masih masih kecil dalam masa transplanting. Kerusakan yang disebabkan oleh hama sangat kecil sehingga tidak menurunkan produktifitas tomat yang dibudidayakan. Semua kerusakan yang disebabkan hama tidak merusak tanaman sampel sehingga dalam penghitungan intensitas kerusakan sangat susah ditentukan.
Pengendalian hama dilakukan dengan cara mekanik yaitu dengan mengambil hama-hama yang ada kemudian mematikannya sehingga hama dapat dikendalikan populasinya. Pengendalian secara kimia menggunakan pestisida tetapi hanya dilakukan ketika intensitas kerusakan sudah meluas. Namun selama pengamatan pengendalian dengan cara kimia belum dilakukan karena serangan masih rendah. Rendahnya intensitas kerusakan juga dipengaruhi karena lokasi budidaya bersebelahan dengan lahan persawahan sehingga hama-hama banyak yang menyerang tanaman padi, misalnya hama keong yang suka makan tanaman padi daripada tanaman tomat.
Waktu tanam yang tepat merupakan salah satu strategi dalam pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Hama biasanya menyukai kondisi hangat untuk berkembang biak namun karena pada saat penanaman dilakukan pada awal musim hujan maka hama yang berkembang hanya sedikit, hanya hama0hama tertentu saja yang berkembang tetapi bukan hama utama tanaman tomat. Musuh alami yang juga merupakan predator hama yang ditemukan di lahan tomat adalah jenis belalang sembah yang merupakan predator bagi jenis-jenis ulat daun. Namun karena kurangnya pengetahuan petani maka pemanfaatan musuh alami untuk mengendalikan hama belum maksimal.
Jika dilihat dari gejala yang timbul, hama yang paling banyak ditemui adalah ulat daun. Ulat ini berwarna hijau dan memakan daun-daun tanaman tomat. Daun yang diserang akan menunjukkan kerusakan berupa bekas-bekas gigitan pada tepi daun. Populasi musuh alami berupa belalang sembah juga sangat banyak sehingga keseimbangan ekologi tetap terjaga karena populasi hama dan predator seimbang.
Identifikasi Hama dan Musuh Alami
a. Keong Mas (Pomacea canaliculata Lamarck)
Hama keong mas umumnya terdapat pada lahan yang basah, keong mas menyerang tanaman pada waktu awal tanam atau pada waktu tanaman masih muda. Keong mas memakan batang dan daun tanaman tomat sehingga hanya tinggal batang bawah saja yang membuat tanaman akan mati. Serangan hama keong mas terjadi pada malam hari yang biasanya apabila matahari sudah terbenam atau waktu petang hari keong mas akan keluar dan memakan tanaman tomat. Tanda yang ditinggalkan keong pada daun tomat adalah adanya bekas lendir kering yang menempel pada daun.
Pengendalian hama keong mas dilakukan dengan cara mekanik atau manual dengan mengambil hama keong mas dan mengumpulkannya kemudia di hancurkan, pengendalian dengan kimia tidak dilakukan hal ini di karenakan tidak efektif dan dirasa hanya melakukan pemborosan saja. Populasi hama keong mas cepat mengalami peningkatan karena telur keong mas berjumlah banyak.
b. Ulat Buah (Helicoverpa armigera Hubn.)
Ulat buah mempunyai Ordo Lepidoptera dan termasuk Famili Noctuidae. Ulat ini menyerang tomat yang masih muda, sehingga kalau buah tua tampak berlubang-lubang dan biasanya menjadi busuk karena infeksi. Kondisi tanaman yang mempunyai tajuk yang rapat membuat perkembangan ulat dapat meningkat. Serangan ulat buah tidak terlihat begitu saja sebelum terdapat lubang pada buah tomat. Metamorfosis ulat buah yaitu:
Larva ketika baru menetas dari telur berwarna kuning muda dengan tubuh berbentuk silinder. Larva muda kemudian berubah warna dan terdapat variasi warna dan pola corak antara sesama larva. Larva H. armigera terdiri dari lima instar, lama stadium larva berkisar antara 12 – 25 hari.
Pupa dibentuk di dalam tanah. Pupa yang baru terbentuk berwarna kuning, kemudian berubah kehijauan dan akhirnya berwarna kuning kecoklatan. Lama stadium pupa adalah 15 – 21 hari.
Pengendalian hama lalat buah dilakukan dengan insektisida. Insektisida yang biasa digunakan adalah Laret dan Metindo.
c. Kepik (Palomena prasina)
Hemiptera adalah ordo dari serangga yang juga dikenal sebagai kepik. Hemiptera terdiri dari 80.000 spesies serangga seperti tonggeret, kutu daun, anggang-anggang, walang sangit, dan lain-lain. Mereka semua memiliki ciri-ciri khusus seperti mulut berbentuk jarum dan tidak mengalami metamorfosis sempurna. Serangga kecil yang dikenal sebagai kepik (ladybug) tidak termasuk dalamHemiptera, melainkan termasuk dalam ordo Coleoptera (kumbang) karena memiliki perbedaan dalam hal anatomi dan siklus hidupnya.
Nama "Hemiptera" berasal dari bahasa Yunani hemi (setengah) dan pteron (sayap) sehingga jika diartikan secara keseluruhan, Hemiptera berarti "yang bersayap setengah". Nama itu diberikan karena serangga dari ordo ini memiliki sayap depan yang bagian pangkalnya keras seperti kulit, namun bagian belakangnya tipis seperti membran. Sayap depan ini pada sebagian anggota Hemiptera bisa dilipat di atas tubuhnya dan menutupi sayap belakangnya yang seluruhnya tipis dan transparan, sementara pada anggota Hemiptera lain sayapnya tidak dilipat sekalipun sedang tidak terbang.
Hemiptera terdiri dari 4 subordo berbeda: Auchenorrhyncha, Coleorrhyncha, Heteroptera, dan Sternorrhyncha. Subordo penyusun Hemiptera sendiri pada awalnya dipisahkan ke dalam 2 ordo berbeda, ordo Homoptera dan ordo Heteroptera/Hemiptera dengan melihat perbedaan pada kedua sayap seranggaanggota penyusun kedua ordo tersebut. Kedua ordo tersebut akhirnya dikombinasikan menjadi satu ordo, yaitu ordo Hemiptera yang terdiri dari 4 subordo seperti yang dikenal sekarang dengan subordo Heteroptera memiliki anggota penyusun terbanyak (mencapai 25.000 spesies) di mana anggotanya umumnya adalah kepik-kepik sejati besar seperti walang sangit dan kepik pembunuh.
d. Belalang
Dalam populasi belalang yang rendah dan tidak bersifat darurat, pengendalian dapat dilaksanakan dengan agen pengendali hayati aman terhadap lingkungan. Di antara agen pengendali hayati yang sangat berpotensi untuk pengendalian hama ini adalah sejenis cendawan yang bersifat patogen pada hewan serangga, yaitu cendawan Metarhizium anisoplae spp dan Beauveria bassiana. Dengan cara penyebaran pada tempat-tempat bertelur belalang atau dengan penyemprotan dengan terlebih dahulu membuat suspensi (larutan cendawan). Cendawan patogenik secara alami diketahui dapat menginfeksi berbagai jenis serangga. Semua teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Pelaksanaan pengendalian
e. Tikus (Rattus argentiventer (Rob. & Kloss)
Tikus (Rattus argentiventer (Rob. & Kloss)) merusak tanaman padi pada semua tingkat pertumbuhan, dari semai hingga panen, bahkan di gudang penyimpanan. Kerusakan parah terjadi jika tikus menyerang padi pada fase generatif, karena tanaman sudah tidak mampu membentuk anakan baru (Anonim, 2008). Namun pada saat praktikum tikus juga menyerang tanaman tomat pada saat tanaman berbuah. Hal ini dikarenakan lahan bersebelahan dengan persawahan. Tanaman padi yang merupakan makanan pokok tikus sudah ipanen sehingga tikus menyerang tanaman lain yang berada di sekitar persawahan.
Cara pengendalian:
Pengendalian tikus dilakukan secara terpadu yang didasarkan pada pemahaman biologi dan ekologi tikus, dilakukan secara dini (dimulai sebelum tanam), intensif, dan terus-menerus dengan memanfaatkan dilakukan oleh petani secara bersama (berkelompok) dan terkoordinasi dengan cakupan wilayah sasaran pengendalian dalam skala luas (hamparan).
f. Laba-laba (Araneus diadematus)
Laba-laba, atau disebut juga labah-labah, adalah sejenis hewan berbuku-buku (arthropoda) dengan dua segmen tubuh, empat pasang kaki, tak bersayap dan tak memiliki mulut pengunyah. Semua jenis laba-laba digolongkan ke dalam ordo Araneae; dan bersama dengankalajengking, ketonggeng, tungau —semuanya berkaki delapan dimasukkan ke dalam kelas Arachnida. Bidang studi mengenai laba-laba disebut arachnologi.
Laba-laba merupakan hewan pemangsa (karnivora), bahkan kadang-kadang kanibal. Mangsa utamanya adalah serangga. Hampir semua jenis laba-laba, dengan perkecualian sekitar 150 spesies dari suku Uloboridae dan Holarchaeidae, dan subordo Mesothelae, mampu menginjeksikan bisa melalui sepasang taringnya kepada musuh atau mangsanya. Meski demikian, dari puluhan ribu spesies yang ada, hanya sekitar 200 spesies yang gigitannya dapat membahayakan manusia.
Tidak semua laba-laba membuat jaring untuk menangkap mangsa, akan tetapi semuanya mampu menghasilkan benang sutera --yakni helaian serat protein yang tipis namun kuat--dari kelenjar (disebut spinneret) yang terletak di bagian belakang tubuhnya. Serat sutera ini amat berguna untuk membantu pergerakan laba-laba, berayun dari satu tempat ke tempat lain, menjerat mangsa, membuat kantung telur, melindungi lubang sarang, dan lain-lain. Tak seperti serangga yang memiliki tiga bagian tubuh, laba-laba hanya memiliki dua. Segmen bagian depan disebut cephalothorax atauprosoma, yang sebetulnya merupakan gabungan dari kepala dan dada (thorax), sedangkan segmen bagian belakang disebut abdomen (perut) atau opisthosoma. Antara cephalothorax dan abdomen terdapat penghubung tipis yang dinamai pedicle atau pedicellus.
Pada cephalothorax melekat empat pasang kaki, dan satu sampai empat pasang mata. Selain sepasang rahang bertaring besar (disebutchelicera), terdapat pula sepasang atau beberapa alat bantu mulut serupa tangan yang disebut pedipalpus. Pada beberapa jenis laba-laba, pedipalpus pada hewan jantan dewasa membesar dan berubah fungsi sebagai alat bantu dalam perkawinan.
Laba-laba tidak memiliki mulut atau gigi untuk mengunyah. Sebagai gantinya, mulut laba-laba berupa alat pengisap untuk menyedot cairan tubuh mangsanya. Mata pada laba-laba umumnya merupakan mata tunggal (mata berlensa tunggal), dan bukan mata majemuk seperti pada serangga. Kebanyakan laba-laba memiliki penglihatan yang tidak begitu baik, tidak dapat membedakan warna, atau hanya sensitif pada gelap dan terang. Laba-laba penghuni gua bahkan ada yang buta. Perkecualiannya terdapat pada beberapa jenis laba-laba pemburu yang mempunyai penglihatan tajam dan bagus, termasuk dalam mengenali warna.
Untuk menandai kehadiran mangsanya pada umumnya laba-laba mengandalkan getaran, baik pada jaring-jaring suteranya maupun pada tanah, air, atau tempat yang dihinggapinya. Ada pula laba-laba yang mampu merasai perbedaan tekanan udara. Indera peraba laba-laba terletak pada rambut-rambut di kakinya.
Kebanyakan laba-laba memang merupakan predator (pemangsa) penyergap, yang menunggu mangsa lewat di dekatnya sambil bersembunyi di balik daun, lapisan daun bunga, celah bebatuan, atau lubang di tanah yang ditutupi kamuflase. Beberapa jenis memiliki pola warna yang menyamarkan tubuhnya di atas tanah, batu atau pepagan pohon, sehingga tak perlu bersembunyi.
Laba-laba penenun (misalnya anggota suku Araneidae) membuat jaring-jaring sutera berbentuk kurang lebih bulat di udara, di antara dedaunan dan ranting-ranting, di muka rekahan batu, di sudut-sudut bangunan, di antara kawat telepon, dan lain-lain. Jaring ini bersifat lekat, untuk menangkap serangga terbang yang menjadi mangsanya. Begitu serangga terperangkap jaring, laba-laba segera mendekat dan menusukkan taringnya kepada mangsa untuk melumpuhkan dan sekaligus mengirimkan enzim pencerna ke dalam tubuh mangsanya.
Sedikit berbeda, laba-laba pemburu (seperti anggota suku Lycosidae) biasanya lebih aktif. Laba-laba jenis ini biasa menjelajahi pepohonan, sela-sela rumput, atau permukaan dinding berbatu untuk mencari mangsanya. Laba-laba ini dapat mengejar dan melompat untuk menerkam mangsanya.
Bisa yang disuntikkan laba-laba melalui taringnya biasanya sekaligus mencerna dan menghancurkan bagian dalam tubuh mangsa. Kemudian perlahan-lahan cairan tubuh beserta hancuran organ dalam itu dihisap oleh si pemangsa. Berjam-jam laba-laba menyedot cairan itu hingga bangkai mangsanya mengering. Laba-laba yang memiliki rahang (chelicera) kuat, bisa lebih cepat menghabiskan makanannya dengan cara merusak dan meremuk tubuh mangsa dengan rahang dan taringnya itu. Tinggal sisanya berupa bola-bola kecil yang merupakan remukan tubuh mangsa yang telah mengisut.
Beberapa laba-laba penenun memiliki kemampuan membungkus tubuh mangsanya dengan lilitan benang-benang sutera. Kemampuan ini sangat berguna terutama jika si mangsa memiliki alat pembela diri yang berbahaya, seperti lebah yang mempunyai sengat; atau jika laba-laba ingin menyimpan mangsanya beberapa waktu sambil menanti saat yang lebih disukai untuk menikmatinya belakangan.
g. Semut
Semut adalah serangga eusosial yang berasal dari keluarga Formisidae, dan semut termasuk dalam ordo Himenoptera bersama dengan lebah dan tawon. Semut terbagi atas lebih dari 12.000 kelompok, dengan perbandingan jumlah yang besar di kawasan tropis. Semut dikenal dengan koloni dan sarang-sarangnya yang teratur, yang terkadang terdiri dari ribuan semut per koloni. Jenis semut dibagi menjadi semut pekerja, semut pejantan, dan ratu semut. Satu koloni dapat menguasai dan memakai sebuah daerah luas untuk mendukung kegiatan mereka. Koloni semut kadangkala disebut superorganisme dikarenakan koloni-koloni mereka yang membentuk sebuah kesatuan.
Tubuh semut terdiri atas tiga bagian, yaitu kepala, mesosoma (dada), dan metasoma (perut). Morfologi semut cukup jelas dibandingkan dengan serangga lain yang juga memiliki antena, kelenjar metapleural, dan bagian perut kedua yang berhubungan ke tangkai semut membentuk pinggang sempit (pedunkel) di antara mesosoma (bagian rongga dada dan daerah perut) dan metasoma (perut yang kurang abdominal segmen dalam petiole). Petiole yang dapat dibentuk oleh satu atau dua node (hanya yang kedua, atau yang kedua dan ketiga abdominal segmen ini bisa terwujud).
Tubuh semut, seperti serangga lainnya, memiliki eksoskeleton atau kerangka luar yang memberikan perlindungan dan juga sebagai tempat menempelnya otot, berbeda dengan kerangka manusia dan hewanbertulang belakang. Serangga tidak memiliki paru-paru, tetapi mereka memiliki lubang-lubang pernapasan di bagian dada bernama spirakel untuk sirkulasi udara dalam sistem respirasi mereka. Serangga juga tidak memiliki sistem peredaran darah tertutup. Sebagai gantinya, mereka memiliki saluran berbentuk panjang dan tipis di sepanjang bagian atas tubuhnya yang disebut "aorta punggung" yang fungsinya mirip dengan jantung. sistem saraf semut terdiri dari sebuah semacam otot saraf ventral yang berada di sepanjang tubuhnya, dengan beberapa buah ganglion dan cabang yang berhubungan dengan setiap bagian dalam tubuhnya.
Pada kepala semut terdapat banyak organ sensor. Semut, layaknya serangga lainnya, memiliki mata majemuk yang terdiri dari kumpulan lensa mata yang lebih kecil dan tergabung untuk mendeteksi gerakan dengan sangat baik. Mereka juga punya tiga oselus di bagian puncak kepalanya untuk mendeteksi perubahan cahaya dan polarisasi. Kebanyakan semut umumnya memiliki penglihatan yang buruk, bahkan beberapa jenis dari mereka buta. Namun, beberapa spesies semut, semisal semut bulldog Australia, memiliki penglihatan yang baik. Pada kepalanya juga terdapat sepasang antena yang membantu semut mendeteksi rangsangan kimiawi. Antena semut juga digunakan untuk berkomunikasi satu sama lain dan mendeteksi feromon yang dikeluarkan oleh semut lain. Selain itu, antena semut juga berguna sebagai alat peraba untuk mendeteksi segala sesuatu yang berada di depannya. Pada bagian depan kepala semut juga terdapat sepasang rahang atau mandibula yang digunakan untuk membawa makanan, memanipulasi objek, membangun sarang, dan untuk pertahanan. Pada beberapa spesies, di bagian dalam mulutnya terdapat semacam kantung kecil untuk menyimpan makanan untuk sementara waktu sebelum dipindahkan ke semut lain atau larvanya.
Di bagian dada semut terdapat tiga pasang kaki dan di ujung setiap kakinya terdapat semacam cakar kecil yang membantunya memanjat dan berpijak pada permukaan. Sebagian besar semut jantan dan betina calon ratu memiliki sayap. Namun, setelah kawin betina akan menanggalkan sayapnya dan menjadi ratu semut yang tidak bersayap. Semut pekerja dan prajurit tidak memiliki sayap.
Di bagian metasoma (perut) semut terdapat banyak organ dalam yang penting, termasuk organ reproduksi. Beberapa spesies semut juga memiliki sengat yang terhubung dengan semacam kelenjar beracun untuk melumpuhkan mangsa dan melindungi sarangnya. Spesies semut seperti Formica yessensis memiliki kelenjar penghasil asam semut yang bisa disemprotkan ke arah musuh untuk pertahanan.
Semut sebagai pesaing hama kutu dalam hal ruang. Ketika hama kutu menyerang tanaman semangka, banyak populasi semut berada disekitar kutu tersebut, maka keberadaan semut akan sangat mengganggu kutu, sehingga kutu tidak dapat merusak tanaman.
Pengendalian hama dilakukan dengan cara mekanik yaitu dengan mengambil hama-hama yang ada kemudian mematikannya sehingga hama dapat dikendalikan populasinya. Pengendalian secara kimia menggunakan pestisida tetapi hanya dilakukan ketika intensitas kerusakan sudah meluas. Namun selama pengamatan pengendalian dengan cara kimia belum dilakukan karena serangan masih rendah. Rendahnya intensitas kerusakan juga dipengaruhi karena lokasi budidaya bersebelahan dengan lahan persawahan sehingga hama-hama banyak yang menyerang tanaman padi, misalnya hama keong yang suka makan tanaman padi daripada tanaman tomat.
Waktu tanam yang tepat merupakan salah satu strategi dalam pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Hama biasanya menyukai kondisi hangat untuk berkembang biak namun karena pada saat penanaman dilakukan pada awal musim hujan maka hama yang berkembang hanya sedikit, hanya hama0hama tertentu saja yang berkembang tetapi bukan hama utama tanaman tomat. Musuh alami yang juga merupakan predator hama yang ditemukan di lahan tomat adalah jenis belalang sembah yang merupakan predator bagi jenis-jenis ulat daun. Namun karena kurangnya pengetahuan petani maka pemanfaatan musuh alami untuk mengendalikan hama belum maksimal.
Jika dilihat dari gejala yang timbul, hama yang paling banyak ditemui adalah ulat daun. Ulat ini berwarna hijau dan memakan daun-daun tanaman tomat. Daun yang diserang akan menunjukkan kerusakan berupa bekas-bekas gigitan pada tepi daun. Populasi musuh alami berupa belalang sembah juga sangat banyak sehingga keseimbangan ekologi tetap terjaga karena populasi hama dan predator seimbang.
Identifikasi Hama dan Musuh Alami
a. Keong Mas (Pomacea canaliculata Lamarck)
Hama keong mas umumnya terdapat pada lahan yang basah, keong mas menyerang tanaman pada waktu awal tanam atau pada waktu tanaman masih muda. Keong mas memakan batang dan daun tanaman tomat sehingga hanya tinggal batang bawah saja yang membuat tanaman akan mati. Serangan hama keong mas terjadi pada malam hari yang biasanya apabila matahari sudah terbenam atau waktu petang hari keong mas akan keluar dan memakan tanaman tomat. Tanda yang ditinggalkan keong pada daun tomat adalah adanya bekas lendir kering yang menempel pada daun.
Pengendalian hama keong mas dilakukan dengan cara mekanik atau manual dengan mengambil hama keong mas dan mengumpulkannya kemudia di hancurkan, pengendalian dengan kimia tidak dilakukan hal ini di karenakan tidak efektif dan dirasa hanya melakukan pemborosan saja. Populasi hama keong mas cepat mengalami peningkatan karena telur keong mas berjumlah banyak.
b. Ulat Buah (Helicoverpa armigera Hubn.)
Ulat buah mempunyai Ordo Lepidoptera dan termasuk Famili Noctuidae. Ulat ini menyerang tomat yang masih muda, sehingga kalau buah tua tampak berlubang-lubang dan biasanya menjadi busuk karena infeksi. Kondisi tanaman yang mempunyai tajuk yang rapat membuat perkembangan ulat dapat meningkat. Serangan ulat buah tidak terlihat begitu saja sebelum terdapat lubang pada buah tomat. Metamorfosis ulat buah yaitu:
Larva ketika baru menetas dari telur berwarna kuning muda dengan tubuh berbentuk silinder. Larva muda kemudian berubah warna dan terdapat variasi warna dan pola corak antara sesama larva. Larva H. armigera terdiri dari lima instar, lama stadium larva berkisar antara 12 – 25 hari.
Pupa dibentuk di dalam tanah. Pupa yang baru terbentuk berwarna kuning, kemudian berubah kehijauan dan akhirnya berwarna kuning kecoklatan. Lama stadium pupa adalah 15 – 21 hari.
Pengendalian hama lalat buah dilakukan dengan insektisida. Insektisida yang biasa digunakan adalah Laret dan Metindo.
c. Kepik (Palomena prasina)
Hemiptera adalah ordo dari serangga yang juga dikenal sebagai kepik. Hemiptera terdiri dari 80.000 spesies serangga seperti tonggeret, kutu daun, anggang-anggang, walang sangit, dan lain-lain. Mereka semua memiliki ciri-ciri khusus seperti mulut berbentuk jarum dan tidak mengalami metamorfosis sempurna. Serangga kecil yang dikenal sebagai kepik (ladybug) tidak termasuk dalamHemiptera, melainkan termasuk dalam ordo Coleoptera (kumbang) karena memiliki perbedaan dalam hal anatomi dan siklus hidupnya.
Nama "Hemiptera" berasal dari bahasa Yunani hemi (setengah) dan pteron (sayap) sehingga jika diartikan secara keseluruhan, Hemiptera berarti "yang bersayap setengah". Nama itu diberikan karena serangga dari ordo ini memiliki sayap depan yang bagian pangkalnya keras seperti kulit, namun bagian belakangnya tipis seperti membran. Sayap depan ini pada sebagian anggota Hemiptera bisa dilipat di atas tubuhnya dan menutupi sayap belakangnya yang seluruhnya tipis dan transparan, sementara pada anggota Hemiptera lain sayapnya tidak dilipat sekalipun sedang tidak terbang.
Hemiptera terdiri dari 4 subordo berbeda: Auchenorrhyncha, Coleorrhyncha, Heteroptera, dan Sternorrhyncha. Subordo penyusun Hemiptera sendiri pada awalnya dipisahkan ke dalam 2 ordo berbeda, ordo Homoptera dan ordo Heteroptera/Hemiptera dengan melihat perbedaan pada kedua sayap seranggaanggota penyusun kedua ordo tersebut. Kedua ordo tersebut akhirnya dikombinasikan menjadi satu ordo, yaitu ordo Hemiptera yang terdiri dari 4 subordo seperti yang dikenal sekarang dengan subordo Heteroptera memiliki anggota penyusun terbanyak (mencapai 25.000 spesies) di mana anggotanya umumnya adalah kepik-kepik sejati besar seperti walang sangit dan kepik pembunuh.
d. Belalang
Dalam populasi belalang yang rendah dan tidak bersifat darurat, pengendalian dapat dilaksanakan dengan agen pengendali hayati aman terhadap lingkungan. Di antara agen pengendali hayati yang sangat berpotensi untuk pengendalian hama ini adalah sejenis cendawan yang bersifat patogen pada hewan serangga, yaitu cendawan Metarhizium anisoplae spp dan Beauveria bassiana. Dengan cara penyebaran pada tempat-tempat bertelur belalang atau dengan penyemprotan dengan terlebih dahulu membuat suspensi (larutan cendawan). Cendawan patogenik secara alami diketahui dapat menginfeksi berbagai jenis serangga. Semua teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Pelaksanaan pengendalian
e. Tikus (Rattus argentiventer (Rob. & Kloss)
Tikus (Rattus argentiventer (Rob. & Kloss)) merusak tanaman padi pada semua tingkat pertumbuhan, dari semai hingga panen, bahkan di gudang penyimpanan. Kerusakan parah terjadi jika tikus menyerang padi pada fase generatif, karena tanaman sudah tidak mampu membentuk anakan baru (Anonim, 2008). Namun pada saat praktikum tikus juga menyerang tanaman tomat pada saat tanaman berbuah. Hal ini dikarenakan lahan bersebelahan dengan persawahan. Tanaman padi yang merupakan makanan pokok tikus sudah ipanen sehingga tikus menyerang tanaman lain yang berada di sekitar persawahan.
Cara pengendalian:
Pengendalian tikus dilakukan secara terpadu yang didasarkan pada pemahaman biologi dan ekologi tikus, dilakukan secara dini (dimulai sebelum tanam), intensif, dan terus-menerus dengan memanfaatkan dilakukan oleh petani secara bersama (berkelompok) dan terkoordinasi dengan cakupan wilayah sasaran pengendalian dalam skala luas (hamparan).
f. Laba-laba (Araneus diadematus)
Laba-laba, atau disebut juga labah-labah, adalah sejenis hewan berbuku-buku (arthropoda) dengan dua segmen tubuh, empat pasang kaki, tak bersayap dan tak memiliki mulut pengunyah. Semua jenis laba-laba digolongkan ke dalam ordo Araneae; dan bersama dengankalajengking, ketonggeng, tungau —semuanya berkaki delapan dimasukkan ke dalam kelas Arachnida. Bidang studi mengenai laba-laba disebut arachnologi.
Laba-laba merupakan hewan pemangsa (karnivora), bahkan kadang-kadang kanibal. Mangsa utamanya adalah serangga. Hampir semua jenis laba-laba, dengan perkecualian sekitar 150 spesies dari suku Uloboridae dan Holarchaeidae, dan subordo Mesothelae, mampu menginjeksikan bisa melalui sepasang taringnya kepada musuh atau mangsanya. Meski demikian, dari puluhan ribu spesies yang ada, hanya sekitar 200 spesies yang gigitannya dapat membahayakan manusia.
Tidak semua laba-laba membuat jaring untuk menangkap mangsa, akan tetapi semuanya mampu menghasilkan benang sutera --yakni helaian serat protein yang tipis namun kuat--dari kelenjar (disebut spinneret) yang terletak di bagian belakang tubuhnya. Serat sutera ini amat berguna untuk membantu pergerakan laba-laba, berayun dari satu tempat ke tempat lain, menjerat mangsa, membuat kantung telur, melindungi lubang sarang, dan lain-lain. Tak seperti serangga yang memiliki tiga bagian tubuh, laba-laba hanya memiliki dua. Segmen bagian depan disebut cephalothorax atauprosoma, yang sebetulnya merupakan gabungan dari kepala dan dada (thorax), sedangkan segmen bagian belakang disebut abdomen (perut) atau opisthosoma. Antara cephalothorax dan abdomen terdapat penghubung tipis yang dinamai pedicle atau pedicellus.
Pada cephalothorax melekat empat pasang kaki, dan satu sampai empat pasang mata. Selain sepasang rahang bertaring besar (disebutchelicera), terdapat pula sepasang atau beberapa alat bantu mulut serupa tangan yang disebut pedipalpus. Pada beberapa jenis laba-laba, pedipalpus pada hewan jantan dewasa membesar dan berubah fungsi sebagai alat bantu dalam perkawinan.
Laba-laba tidak memiliki mulut atau gigi untuk mengunyah. Sebagai gantinya, mulut laba-laba berupa alat pengisap untuk menyedot cairan tubuh mangsanya. Mata pada laba-laba umumnya merupakan mata tunggal (mata berlensa tunggal), dan bukan mata majemuk seperti pada serangga. Kebanyakan laba-laba memiliki penglihatan yang tidak begitu baik, tidak dapat membedakan warna, atau hanya sensitif pada gelap dan terang. Laba-laba penghuni gua bahkan ada yang buta. Perkecualiannya terdapat pada beberapa jenis laba-laba pemburu yang mempunyai penglihatan tajam dan bagus, termasuk dalam mengenali warna.
Untuk menandai kehadiran mangsanya pada umumnya laba-laba mengandalkan getaran, baik pada jaring-jaring suteranya maupun pada tanah, air, atau tempat yang dihinggapinya. Ada pula laba-laba yang mampu merasai perbedaan tekanan udara. Indera peraba laba-laba terletak pada rambut-rambut di kakinya.
Kebanyakan laba-laba memang merupakan predator (pemangsa) penyergap, yang menunggu mangsa lewat di dekatnya sambil bersembunyi di balik daun, lapisan daun bunga, celah bebatuan, atau lubang di tanah yang ditutupi kamuflase. Beberapa jenis memiliki pola warna yang menyamarkan tubuhnya di atas tanah, batu atau pepagan pohon, sehingga tak perlu bersembunyi.
Laba-laba penenun (misalnya anggota suku Araneidae) membuat jaring-jaring sutera berbentuk kurang lebih bulat di udara, di antara dedaunan dan ranting-ranting, di muka rekahan batu, di sudut-sudut bangunan, di antara kawat telepon, dan lain-lain. Jaring ini bersifat lekat, untuk menangkap serangga terbang yang menjadi mangsanya. Begitu serangga terperangkap jaring, laba-laba segera mendekat dan menusukkan taringnya kepada mangsa untuk melumpuhkan dan sekaligus mengirimkan enzim pencerna ke dalam tubuh mangsanya.
Sedikit berbeda, laba-laba pemburu (seperti anggota suku Lycosidae) biasanya lebih aktif. Laba-laba jenis ini biasa menjelajahi pepohonan, sela-sela rumput, atau permukaan dinding berbatu untuk mencari mangsanya. Laba-laba ini dapat mengejar dan melompat untuk menerkam mangsanya.
Bisa yang disuntikkan laba-laba melalui taringnya biasanya sekaligus mencerna dan menghancurkan bagian dalam tubuh mangsa. Kemudian perlahan-lahan cairan tubuh beserta hancuran organ dalam itu dihisap oleh si pemangsa. Berjam-jam laba-laba menyedot cairan itu hingga bangkai mangsanya mengering. Laba-laba yang memiliki rahang (chelicera) kuat, bisa lebih cepat menghabiskan makanannya dengan cara merusak dan meremuk tubuh mangsa dengan rahang dan taringnya itu. Tinggal sisanya berupa bola-bola kecil yang merupakan remukan tubuh mangsa yang telah mengisut.
Beberapa laba-laba penenun memiliki kemampuan membungkus tubuh mangsanya dengan lilitan benang-benang sutera. Kemampuan ini sangat berguna terutama jika si mangsa memiliki alat pembela diri yang berbahaya, seperti lebah yang mempunyai sengat; atau jika laba-laba ingin menyimpan mangsanya beberapa waktu sambil menanti saat yang lebih disukai untuk menikmatinya belakangan.
g. Semut
Semut adalah serangga eusosial yang berasal dari keluarga Formisidae, dan semut termasuk dalam ordo Himenoptera bersama dengan lebah dan tawon. Semut terbagi atas lebih dari 12.000 kelompok, dengan perbandingan jumlah yang besar di kawasan tropis. Semut dikenal dengan koloni dan sarang-sarangnya yang teratur, yang terkadang terdiri dari ribuan semut per koloni. Jenis semut dibagi menjadi semut pekerja, semut pejantan, dan ratu semut. Satu koloni dapat menguasai dan memakai sebuah daerah luas untuk mendukung kegiatan mereka. Koloni semut kadangkala disebut superorganisme dikarenakan koloni-koloni mereka yang membentuk sebuah kesatuan.
Tubuh semut terdiri atas tiga bagian, yaitu kepala, mesosoma (dada), dan metasoma (perut). Morfologi semut cukup jelas dibandingkan dengan serangga lain yang juga memiliki antena, kelenjar metapleural, dan bagian perut kedua yang berhubungan ke tangkai semut membentuk pinggang sempit (pedunkel) di antara mesosoma (bagian rongga dada dan daerah perut) dan metasoma (perut yang kurang abdominal segmen dalam petiole). Petiole yang dapat dibentuk oleh satu atau dua node (hanya yang kedua, atau yang kedua dan ketiga abdominal segmen ini bisa terwujud).
Tubuh semut, seperti serangga lainnya, memiliki eksoskeleton atau kerangka luar yang memberikan perlindungan dan juga sebagai tempat menempelnya otot, berbeda dengan kerangka manusia dan hewanbertulang belakang. Serangga tidak memiliki paru-paru, tetapi mereka memiliki lubang-lubang pernapasan di bagian dada bernama spirakel untuk sirkulasi udara dalam sistem respirasi mereka. Serangga juga tidak memiliki sistem peredaran darah tertutup. Sebagai gantinya, mereka memiliki saluran berbentuk panjang dan tipis di sepanjang bagian atas tubuhnya yang disebut "aorta punggung" yang fungsinya mirip dengan jantung. sistem saraf semut terdiri dari sebuah semacam otot saraf ventral yang berada di sepanjang tubuhnya, dengan beberapa buah ganglion dan cabang yang berhubungan dengan setiap bagian dalam tubuhnya.
Pada kepala semut terdapat banyak organ sensor. Semut, layaknya serangga lainnya, memiliki mata majemuk yang terdiri dari kumpulan lensa mata yang lebih kecil dan tergabung untuk mendeteksi gerakan dengan sangat baik. Mereka juga punya tiga oselus di bagian puncak kepalanya untuk mendeteksi perubahan cahaya dan polarisasi. Kebanyakan semut umumnya memiliki penglihatan yang buruk, bahkan beberapa jenis dari mereka buta. Namun, beberapa spesies semut, semisal semut bulldog Australia, memiliki penglihatan yang baik. Pada kepalanya juga terdapat sepasang antena yang membantu semut mendeteksi rangsangan kimiawi. Antena semut juga digunakan untuk berkomunikasi satu sama lain dan mendeteksi feromon yang dikeluarkan oleh semut lain. Selain itu, antena semut juga berguna sebagai alat peraba untuk mendeteksi segala sesuatu yang berada di depannya. Pada bagian depan kepala semut juga terdapat sepasang rahang atau mandibula yang digunakan untuk membawa makanan, memanipulasi objek, membangun sarang, dan untuk pertahanan. Pada beberapa spesies, di bagian dalam mulutnya terdapat semacam kantung kecil untuk menyimpan makanan untuk sementara waktu sebelum dipindahkan ke semut lain atau larvanya.
Di bagian dada semut terdapat tiga pasang kaki dan di ujung setiap kakinya terdapat semacam cakar kecil yang membantunya memanjat dan berpijak pada permukaan. Sebagian besar semut jantan dan betina calon ratu memiliki sayap. Namun, setelah kawin betina akan menanggalkan sayapnya dan menjadi ratu semut yang tidak bersayap. Semut pekerja dan prajurit tidak memiliki sayap.
Di bagian metasoma (perut) semut terdapat banyak organ dalam yang penting, termasuk organ reproduksi. Beberapa spesies semut juga memiliki sengat yang terhubung dengan semacam kelenjar beracun untuk melumpuhkan mangsa dan melindungi sarangnya. Spesies semut seperti Formica yessensis memiliki kelenjar penghasil asam semut yang bisa disemprotkan ke arah musuh untuk pertahanan.
Semut sebagai pesaing hama kutu dalam hal ruang. Ketika hama kutu menyerang tanaman semangka, banyak populasi semut berada disekitar kutu tersebut, maka keberadaan semut akan sangat mengganggu kutu, sehingga kutu tidak dapat merusak tanaman.
Senin, 15 November 2010
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI BENIH
A. PENDAHULUAN
Penanganan benih perlu dilakukan secara khusus dan serius. Kelalaian atau keterlambatan dalam penanganan benih akan menyebabkan daya kecambah menurun atau bahkan benih mati. Penanganan benih mencakup kegiatan pemanenan, pengeringan, pemilahan, pelakuan benih, pengemasan, penyimpanan, dan pengujian. Penanganan benih perlu memperhatikan kelompok benih seperti benih ortodoks atau rekalsitran (benih yang tidak tahan desikasi) atau intermediate (semi-rekalsitran). Melalui cara panen dan penanganan benih yang optimal, mutu fisiologis benih dapat dipertahankan lebih lama (Sukarman dan Maharani Hasanah, 2003). Produksi benih sendiri bisa dengan cara persilangan pada tanaman tersebut. Sama dg produksi biji, tetapi harus memenuhi persyaratan yang ditentukan BPSB yang telah memberi persyaratan untuk kelas benih tertentu.Hal ini sesuai dengan tujuan dari produksi benih adalah :
1. Menyebarkan varietas unggul baru hasil pemuliaan untuk produksi secara komersial
2. Mempertahankan identitas genetik (mengenai kebenaran, kemurnian, dan kemantapan) varietas unggul tersebut
3. Menjaga dan memelihara produktivitas varietas unggul
Produksi benih merupakan salah satu cara untuk mempertahankan atau mewariskan kekuatan (viabilitas, vigor suatu benih) yang dimiliki tetua kepada anaknya. atau menciptakan suatu kekuatan baru yang lebih baik dari yang sudah ada baik dari segi kualitas maupun harga. Benih suatu tanaman atau varietas tanaman tersebut. Sehingga setiap benih harus memiliki kualitas yang baik.
Untuk mendapatkan hasil yang baik dalam produksi benih, kita perlu memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi benih tersebut. Karena selain nutrisi dan budidaya tanaman yang tepat pada suatu tanaman, faktor-faktor ini pun perlu diketahui. Dengan mengetahui faktor-faktor ini maka kita dapat mengetahui pula proses fisiologi suatu tanaman.
B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI BENIH
Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi benih terdiri dari eksternal dan internal. Pertumbuhan tanaman dapat dipengaruhi dalam berbagai cara oleh lingkungan. Kondisi lingkungan yang sesuai selama pertumbuhan akan merangsang tanaman untuk berbunga dan menghasilkan benih. Perubahan tanaman dari fase vegetative (terutama ketika tanaman menghasilkan daun-daun) menjadi fase reproduktif (ketika tanaman menghasilkan kuncup bunga, bunga dan benih) tergantung pada rangsangan eksternal. Kebanyakan spesies tidak akan memasuki fase reproduktif jika pertumbuhan vegetatifnya belum selesai dan belum mencapai tahapan yang matang untuk berbunga. Oleh karena itu terdapat beberapa rangsangan eksternal untuk menyebabkan perubahan itu terjadi. Berikut adalah unsur-unsur eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman:
1. Iklim
a. Cahaya
Cahaya mempunyai pengaruh penting terhadap tanaman yaitu proses fotosintesis dan pembungan. Cahaya merupakan salah satu kunci penentu dalam proses metabolisme dan fotosintesis tanaman. Cahaya dibutuhkan oleh tanaman mulai dari proses perkecambahan biji sampai tanaman dewasa. Respon tanaman terhadap cahaya berbeda-beda antara jenis satu dengan jenis lainnya. Ada tanaman yang tahan (mampu tumbuh) dalam kondisi cahaya yang terbatas atau sering disebut tanaman toleran dan ada tanaman yang tidak mampu tumbuh dalam kondisi cahaya terbatas atau tanaman intoleran.
Kekurangan cahaya pada tumbuhan berakibat pada terganggunya proses metabolisme yang berimplikasi pada tereduksinya laju fotosintesis dan turunnya sintesis karbohidrat. Faktor ini secara langsung mempengaruhi tingkat produktivitas tumbuhan dan ekosistem. Adaptasi terhadap naungan dapat melalui 2 cara: (a) meningkatkan luas daun sebagai upaya mengurangi penggunaan metabolit; contohnya perluasan daun ini menggunakan metabolit yang dialokasikan untuk pertumbuhan akar, (b) mengurangi jumlah cahaya yang ditransmisikan dan direfleksikan. Pada tanaman jagung respon ketika intensitas cahaya berlebihan berupa penggulungan helaian daun untuk memperkecil aktivitas transpirasi. Proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman yang terletak di atas permukaan tanah melewati stomata, lubang kutikula, dan lentisel secara fisiologis mulia berkurang (Heru, 2009).
Cahaya sebagai sumber energi dan terutama untuk vegetasi mempunyai tiga faktor penting, yaitu :
1. Intensitasnya
Intensitas cahaya matahari suatu tempat tergantung dari ketinggian temapt tersebut, semakin tinggi suatu tempat maka semakin rendah suhu tempat tersebut. Demikian juga intensitas matahari semakin berkurang. Suhu dan penyinaran inilah yang nantinya kan digunakan untuk menggolongkan tanaman apa yang sesuai untuk dataran tinggi atau dataran rendah.
Tanaman berbuahan yang ditanam di dataran rendah berbunga lebih awal dibandingkan dengan yang ditanam pada dataran tinggi. Sedangkan dalam perkeambahan cahaya berperan sebagai faktor pengontrol perkecambahan. Secara alami suatu biji yang sudah masak makan terlepas dari pohonya dan jatuh ke tanah dan berkecambah dalam kondisi yang berbeda-beda. Kebanyakan biji-biji atau benih akan berkecambah dengan cahaya maupun tanpa cahaya. Pemberian cahaya pada benih dengan cahaya merah akan merubah Fm dalam biji menjadi Fim dan benih akan berkecambah dengan cepat. Berbeda dengan pengaruh intensitas radiasi yang terkait fotosintesis yaitu ketika klofofil memegang peranan penting karena di dalam kualitas radiasi matahari fitokrom merupakan senyawa yang menentukan sifat morfogenetik tanaman. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui alasan mengapa biji gulma tidak dapat berkecambah jika kanopi tanaman menutupi sempurna.
2. Kualitasnya
Cahaya matahari yang sampai pada tajuk atau kanopi tanaman tidak semuanya dapat dimanfaatkan, sebagian dari cahaya tersebut diserap, sebagian ditransmisikan, atau bahkan dipantulkan kembali. Kualitas cahaya matahari ditentukan oleh proporsi relatif panjang gelombangnya, selain itu kualitas cahaya tidak selalu konstan namun bervariasi dari musim ke musim, lokasi geografis serta perubahan komposisi udara di atmosfer.
Pengertian cahaya berkaitan dengan radiasi yang terlihat (visible) oleh mata, dan hanya sebagian kecil saja yang diterima dari radiasi total matahari. Radiasi matahari terbagi dua, yaitu yang bergelombang panjang (long wave radiation) dan yang bergelombang pendek (short wave radiation). Batas terakhir dari radiasi gelombang pendek adalah radiasi ultraviolet, sedangkan batas akhir radiasi gelombang panjang adalah sinar inframerah. Radiasi dengan panjang gelombang antara 400 hingga 700 um adalah yang digunakan untuk proses fotosintesis.
Cahaya matahari yang sampai ke bumi hanya sebagian saja, selebihnya cahaya tersebut tersaring oleh beberapa komponen atmosfer atau dipantulkan kembali ke angkasa luar. Cahaya matahari gelombang pendek tersaring dan diserap oleh lapisan ozon (O3) di atmosfer, sedangkan cahaya gelombang panjang tersaring oleh uap air di udara, cahaya gelombang panjang lainnya dipecahkan/dipencarkan dan dipantulkan oleh awan dan lapisan debu di atas permukaan bumi.
Pengaruh kualitas cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman telah banyak diselidiki, dimana diketahui bahwa spektrum yang nampak (visible) diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Apabila tanaman ditumbuhkan pada cahaya biru saja daunnya akan berkembang secara normal, namun batangnya akan menunjukkan tanda-tanda terhambat pertumbuhannya. Apabila tanaman ditumbuhkan pada cahaya kuning saja, cabang-cabangnya akan berkembang tinggi dan kurus dengan buku (internode) yang panjang dan daunnya kecil-kecil. Dari penelitian tersebut telah membuktikan bahwa cahaya biru dan merah memegang peranan penting untuk berlangsungnya proses fotosintesis.
3. Fotoperiodesitasnya
Seperti halnya faktor temperatur, cahaya bervariasi dalam intensitas dan lama waktu ber-cahaya. Di daerah tropis dengan intensitas yang tinggi fotooksidasi lebih kecil dibandingkan di daerah sedang karena itu foto respirasinya cepat. Hal ini mengakibatkan sintesis protein berkurang (Campbell, NA. 2002).
Kita ketahui bahwa panjang gelombang distribusinya dari pagi-sore berbeda. Pada pagi hari kebanyakan panjang gelombang pendek dan semakin sore panjang gelombang pendek berkurang dan panjang gelombang panjang bertambah. Oleh karena itu fotosintesis paling efektif sesudah siang hari (Anonimb, 2010).
Fotoperiodisitas yaitu panjangnya penyinaran matahari pada siang hari. Biasanya dari daerah tropik semakin ke kutub panjang penyinaran matahari semakin panjang. Dalam hal ini kita mengenal tanaman hari panjang, dan tanaman hari pendek.
a. Tanaman hari panjang : Tanaman yang baik hidupnya pada suatu daerah maupun untuk ke fase generatif memerlukan panjang hari penyinaran kurang dari 12 jam.
b. Tanaman hari pendek : Tanaman yang baik hidupnya pada suatu daerah maupun untuk ke fase generatif memerlukan panjang hari penyinaran kurang dari 12 jam.
Kini terdapat penggolongan tambahan sebanyak empat jebi, yaitu tanaman yang berhari panjang-pendek (long short-day, yang memerlukan hari panjang sebelum hari pendek), tanaman berhari pendek-panjang (short long day, yang memerlukan hari pendek sebelum hai panjang), stenofotoperiodik (yang memerlukan panjang hari medium) dan amfifotoperiodik (yang memerlukan hari panjang atau hari pendek tetapi bukan hari medium) (Mugnisjah, 2004).
Kelompok Tnm hari pendek Tnm hari panjang Tnm hari netral
Sayuran kentang, ketela rambat kacang-kacangan bayam, lobak, selada tomat, lombok, okra
Buah strawberry - strawberry
Bunga chrysanthemum, Cosmos bouvardia, Stevia poinsetia China aster, gardenia, delphinium Carnation, dianthus, Violet cyclamon
Sumber:http://justminehortikulture.blogspot.com
Meskipun sejumlah spesies terbukti tidak peka terhadap faktor panjang penyinaran tetapi hal ini menentukan apakah tanaman-tanaman tersebut hanya dapat membentuk bagian-bagian vegetatif saja. Di dalam tanaman hari pendek panjnagnya penyinaran merupakan faktor pembatas yang berakibat membentuk bagian-bagian vegetatif yang bersifat gigas (besar) sedang pembungaannya dikekang. Tanaman hari panjang jika tanaman pada daerah yang panjang penyinarannya lebih pendek akan menunjukkan pertumbuhan internodia yang lebih pendek dan cenderung membentuk roset dan pembungaan tanaman hari panjang ini akan dikekang (Anonimb, 2010).
Cahaya dalam hubungannya dengan proses pertumbuhan tanaman dapat mempunyai beberapa macam kegunaan antara lain :
a. Fotosintesis
b. Cahaya dalam hubungannya dengan klasifikasi tanaman
c. Sejumlah peristiwa yang terjadi dalam tubuh tanaman. Misalnya, sintesis khlorofil, kelakuan stomata dan sebagainya
d. Transpirasi
Tanaman-tanaman dapat dibagi sesuai dengan kebutuhan cahaya di dalam proses hidupnya menjadi :
a. Heliophytes
Tanaman yang termasuk Heliophytes adalah tanaman-tanaman yang dapat hidup baik pada keadaan yang penuh dengan sinar matahari.
b. Sciophytes
Adalah tanaman-tanaman yang dapat hidup baik pada intensitas cahaya yang lebih rendah.
1) Fakultatif Sciophytes
Adalah tanaman yang dapat hidup baik, baik pada keadaan penuh sinar matahari maupun pada keadaan teduh.
2) Obligativ sciophytes
Adalah tanaman-tanaman yang dapat hidup baik tanpa sinar matahari yang intensif.
Kebanyakan tanaman yang termasuk tanaman air, Ipomea repens, terate dan sebagainya, faktor cahaya tidak merupakan faktor yang membatasi dalam proses hidupnya. Tetapi pada tanaman-tanaman darat adanya faktor-faktor lain selain cahaya, misalnya temperatur dan lembab relatif dapat mengadakan suatu pengaruh bersamaan terhadap proses hidupnya. Dengan demikian pengaruh tunggal cahaya tak dapat diketahui dengan pasti. Dengan penyelidikan didapat kenyataan bahwa kerusakan seedlings biasanya disebabkan karena faktor keteduhan dan lebih sedikit disebabkan oleh faktor cahaya. Pada tanaman aciophytes membutuhkan cahaya yang lebih rendah daripada heliophytes. Sebagai perbandingan adalah jika pada situasi yang sama heliophytes tahan pada intensitas 4.200 lux dan pada sciophytes pada 27 lux (Anonimb, 2010).
Panjang hari dilaporkan berkorelasi positif dengan nisbah bunga jantan/betina dalam tanaman berhari pendek Heteropogon contortus. Hal ini sehubungan dengan sistem pemuliaan tanaman yang bersangkutan menurut pergeseran latitude dari tempat menumbuhkannya. Lamanya fotoperiode kritikal dapat berubah oleh kondisi suhu. Dalam tanaman berhari pendek, suhu rendah dapat memperpanjang fotoperiode kritikal sehingga membatasi pembungaan(Mugnisjah, 2004).
b. Suhu
Suhu berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif, induksi bunga, pertumbuhan dan differensiasi perbungaan (inflorescence), mekar bunga, munculnya serbuk sari, pembentukan benih dan pemasakan benih. Tanaman tropis tidak memerlukan keperluan vernalisasi sebelum rangsangan fotoperiode terhadap pembungaan menjadi efektif. Tetapi, pengaruh suhu terhadap induksi bunga cukup kompleks dan bervariasi tergantung pada tanggap tanaman terhadap fotoperiode yang berbeda. Suhu malam yang tinggi mencegah atau memperlambat pembungaan dalam beberapa tanaman (Anonimb, 2010).
Cekaman suhu terhadap makhluk hidup bersifat spesifik. Tidak ada batas suhu terendah bagi kelangsungan hidup spora, biji dan bahkan lumut kerak dan lumut daun tertentu pada kondisi kering. Batas suhu terendah untuk bertahan hidup pada keadaan yang lebih normal sangat tergantung pada spesies dan sejauh mana jaringan telah diadaptasikan terhadap embun es. Tumbuhan yang sedang tumbuh aktif sering dapat bertahan hidup hanya pada beberapa derajat di bawah 0°C, sedangkan banyak yang dapat bertahan pada sekitar – 40°C. Beberapa tumbuhan tinggi dapat tumbuh dan berbunga di bawah salju.
Suhu rendah merupakan faktor pembatas terpenting bagi persebaran tumbuhan. Tumbuhan mengalami penciutan pada saat pembekuan karena kristal es memasuki ruang udara di luar sel dan di dalam sel hidup dapat terjadi pembekuan es secara alami. Selain itu, aktivitas enzim pada suhu rendah terganggu sehingga terjadi ketidakseimbangan metabolisme dalam sel.
Pada kondisi suhu tinggi yang ekstrem, enzim dapat mengalami denaturasi dan pemutusan asam nukleat pada sebagian besar organisme. Sifat merusak pada tumbuhan terutama pada fungsi fotosintesis yang tidak terjadi karena fotosistem yang peka terhadap panas. Dengan demikian, faktor suhu sangat menentukan penyebaran tumbuhan dalam biosfer (Anonimb, 2010).
Sebagai contoh, padi hirida memerlukan suhu harian 20-30oC untuk proses produksinya. Tomat tumbuh baik pada temperatur 20-27°C, pembentukan buah terhambat pada temperatur >30°C atau <10°C (Anonima, 2010).
c. Curah Hujan
Curah hujan secara langsung atau tidak langsung penting untuk pengaturan waktu dan ruang dalam pembentukan bunga dan buah pada tumbuhan tropis. Kepentingan tanaman terhadap besarnya curah hujan sudah dirasakan sejak panen. Adapun titik yang kritis adalah saat pembungaan. Apabila saat pembungaan banyak hujan turun, maka proses pembungaan akan terganggu. Tepung sari menjadi busuk dan tidak mempunyai viabilitas lagi. Kepala putik dapat busuk karena kelembaban yang tinggi (Sanusi, 2009).
Tipe Iklim
(jumlah bulan basah) Jumlah bulan kering Jenis bebuahan yang sesuai
9,10-12,11, 11-12,12 0 Gandaria,kapulasan,kemang,kesemek
9
8
7
6 3
0-3
0-4
4-5 Duku,durian,mundu,papaya,pisang
Rambutan
Lebih dari 4 bulan Jambu biji,jambu monyet,nangka pepaya.
Sumber: Ashari,S.1998
Selain itu,aktivitas serangga penyerbuk juga berkurang saat kelembaban tinggi.apabila terjadi kerusakan pada tepung sari dan kepala puti berarti penyerbukan telah gagal. Hal ini juga berarti bahwa pembuahan dan selanjutnya,panen, telah gagal dan harus menunggu tahun berikutnya. Pada tanaman padi tidak memerlukan hujan selama masa berbunga. Sehingga terjadi produksi benih pada tanaman padi.
d. Kelembaban Nisbi
Kelembaban udara menggambarkan kandungan uap air di udara yang dapat dinyatakan sebagai kelembaban mutlak, kelembaban nisbi (relatif) maupun defisit tekanan uap air. Kelembaban nisbi membandingkan antara kandungan/tekanan uap air aktual dengan keadaan jenuhnya atau apda kapasitas udara untuk menampung uap air
Kelembaban nisbi (relative humidity), yaitu perbandingan antara jumlah uap air yang sebenarnya terhadap jumlah uap air yang maksimal dapat dikandung pada suhu dan tekanan itu. Perbandingan dinyatakan dalam persen (%) (Anonimc, 2010). RH mempengaruhi kadar air benih, dan kadar air benih mempengaruhi mempengaruhi respirasi benih
RH lingkungan dipengaruhi oleh suhu (T) lingkungan
RH dan T saling berkaitan dan mempengaruhi kemunduran benih:
a. Setiap penurunan kadar air 1% menggandakan masa hidup dua kali, dan
b. Setiap penurunan suhu ruang simpan 5oC akan menggandakan masa hidup benih dua kali.
Pengaruh kelembaban nisbi ternyata berinteraksi dengan pengaruh suhu terhadap perkecambahan serbuk sari. Kelembaban nisbi atmosfer juga berpengaruh juga terhadap populasi serangga dan pathogen. Disamping itu, rontok benih berkorelasi negative dengan kelembaban nisbi, karenanya, kelembaban nisbi yang rendah dapat menyebabkan kehilangan benih sebelum panen (Mugnisjah, 2004). Sebagai contoh, padi hirida memerlukan kelembaban relatif 80% untuk proses produksinya. Interaksi antara bahan penghambat pertumbuhan, kelemababan nisbi dan periode simpan berpengaruh pada tumbuh serempak benih tersebut.
e. Angin
Angin sebenarnya dapat bersifat menguntungkan serta merugikan dalam usaha produksi benih yang dihasilkan, hal ini tergantung pada kencang tidaknya angin. Angin yang terlalu kencang dalam peredarannya akan mengakibatkan beberapa masalah seperti akan banyaknya air yang hilang baik pada tanaman maupun permukaan tanah. Sedangkan angin yang terlalu kencang akan bermanfaat dalam penyebaran serbuk sari sehingga akan terjadi penyerbukan yang dibantu oleh angin. Namun dalam proses menjelang pemanenan benih, benih yang telah terbentuk akibat penyerbukan angin perlu dilakukan pengeringan terlebih dahulu, agar air yang terbawa oleh angin tidak mengurangi kualitas benih yang dihasilkan.
Pada saat penyebaran serbuk sari dengan adanya bantuan angin sangat diharapkan akan menghasilkan produksi benih yang lebih bervariasai sehingga akan mendapatkan varietas tanaman yang lebih beraneka ragam. Agar dalam penyebaranya pun tidak akan merugikan sehingga menghasilkan benih yang kurang baik maka dalam menghasilkan benih yang bermutu ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu memperhatikan cuaca yang terjadi, suhu udara karena jika suhu udara lembab dengan angin yang ada maka akan mengakibatkan angin membawa kandungan air di dalamnya. Sehingga jika terdapat kandungan air dalam angin akan mengakibatkan benih yang dihasilkan juga terdapat kandungan airnya dan itu akan mengakibatkan kualitas benih menurun karena benih tidak murni.
2. Biologis
Untuk biologis disini, kita artikan adalah serangga baik yang merugikan maupun yang menguntungkan. Aktivitas ini diharapkan berlangsung di lahan produksi benih yang tergantung pada serangga untuk penyerbukannya. Sebagai contoh, produksi benih Desmodium uncinatum sangat tergantung pada aktivitas lebah. Lebah yang lebih banyak harus didatangkan ke dalam pertanaman yang memerlukan untuk penyerbukan, jika kerapatan lebah menjelang tengah hari pada hari yang sangat cerah adalah rendah. Perhatian harus diberikan untuk mengurangi kompetisi pasokan makanan, misalnya dengan memindahkan atau menghilangkan bunga dari pohon, perdu atau tanaman lainnya yang berbunga puncak pada waktu yang sama dengan pertanaman untuk menghasilkan benih. Sebaliknya, untuk mempertahankan populasi lebah yang tinggi, pasokan makanan alternative juga perlu ditingkatkan jika pertanaman untuk menghasilkan benih tidak berbunga lebat (Mugnisjah, 2004).
Serangga terutama lebah, tidak akan bekerja dengan baik dalam kondisi cuaca yang sangat basah (Sanusi, 2009). Tempat untuk pertanaman benih karenanya harus dipilih yang dapat menjamin penyerbukan berlangsung dengan optimum. angin yang terlalu cepat tidak disenangi lebah penyerbuk sehingga dapat berakibat pada rendahnya hasil pula.
Resistensi terhadap hama merupakan faktor umum untuk dapat menghasilkan produksi yang maksimum. Jika tanaman memiliki kemampuan berproduksi tinggi, namun tidak disertai dengan mekanisme resistensi terhadap hama, maka jika terjadi serangan hama, tanaman tersebut tidak mampu berproduksi secara maksimum. Kualitas produksi juga yang diserang juga dapat diserang oleh bermacam-macam hama.
3. Tanah
Tanah yang dapat meningkatkan produksi benih adalah tanah yang subur. Tanah yang subur disini diartikan sebagai tanah yang memiliki sifat fisika, kimia maupun biologi yang mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman sehingga menghasilkan benih yang bermutu dan optimum. Sehingga tanah tersebut bukanlah tanah yang asam maupun basa, memiliki drainase baik agar terhindar dari rendaman air tetapi cukup menyimpan air agar tidak kekeringan. Tanah yang demikian banyak berasal dari tanah alluvial. Pokok-pokok dari faktor tanah meliputi : 1) Sejumlah air yang tersedia didalam tanah, 2) Jarak yang ditempuh pergerakan air yang tersedia, 3) Kecepatan pergerakan air yang tersedia 4) Oksigen yang tersedia didalam tanah.
Dalam iklim yang dingin, tanah yang berat lambat menghangat pada awal musim, dan hal ini dapat menangguhkan pertumbuhan awal dan pemasakannya berikutnya. Sebagai contoh, tomat baik ditanam pada tanah yang berdrainase baik, dengan pH optimum 6.0 -7.0 pada kondisi pengapuran. Persiapan tanah dan pemupukan hampir sama dengan untuk produksi buah, atau lebih tinggi terutama kandungan phosfor. Pemberian N biasanya setengah dari pemberian kalium untuk memelihara keseimbangan antara pembungaan dan pertumbuhan vegetative (Anonima, 2010).
Faktor internal meliputi:
1. Genetik
Faktor genetik yaitu varietas-varietas yang mempunyai genotipe baik seperti produksi tinggi, tahan terhadap hama penyakit, responsive terhadap kondisi pertumbuhan yang lebih baik. Genetik pada kali ini yang akan dibahas adalah tentang kualitas genetik itu sendiri. Hal ini disebabkan, dengan mengetahui kualitas genetik maka dapat menghasilkan genetik varietas yang diinginkan. Kualitas genetik adalah suatu tingkatan di mana suatu lot benih mewakili keragaman genetik dari sumber benih yang dipilih. Keragaman genetik mungkin lebar ataupun sempit tergantung pada tujuan penanaman.
Pada biji, biasanya embrio terbentuk setelah proses pembuahan sel telur oleh sel jantan. Sel jantan dan sel betina masing-masing memberikan satu set kromosom atau inti DNA. Betina dan jantan masing-masing memberikan sitoplasma yang mengandung organel yang memiliki sistim genetiknya sendiri khususnya mitokondria dan plastida. Kloroplast (Chloroplast) DNA pada tanaman angiosperma biasanya diturunkan melalui sel induknya, sementara dalam jenis tanaman daun jarum (coniferous) khususnya diturunkan oleh sel jantan.
Pada beberapa biji tanaman daun jarum (conifrous) dimana pembuahan tidak terjadi sampai benih tumbuh mencapai ukuran penuh, sifat benih yang paling penting berkembang sesuai dengan tanaman induk dan keadaan lingkungan. Pada kebanyakan biji angiosperma dimana embrio berkembang bersamaan dengan struktur lainnya sel jantan asing pasti akan berpengaruh. Sebagai contoh pada tanaman jati (Tectona grandis) pembuahan sendiri menghasilkan buah yang lebih kecil daripada pembuahan silang (crossing). Pada angiosperm kemungkinan keadaannya lebih rumit dari pada conifers.
Adanya perbedaan masa hidup benih yang diturunkan pada turunannya tidak terbatas hanya pada tingkat spesies saja, namun juga dijumpai pada tingkat kultivar. Pada penelitian yang membandingkan masa hidup beberapa kultivar dari spesies yang sama menunjukkan adanya perbedaan masa hidup yang nyata. Pada penelitian terhadap delapan kultivar kedelai, Burgess (1938) menemukan adanya perbedaan pada daya kecambah setelah empat tahun disimpan, yakni dari 21 hingga 99 %, padahal sewaktu disimpan lima bulan daya kecambahnya berkisar antara 95 sampai 99 %.
2. Vigor dan Viabilitas
Vigor benih sewaktu disimpan merupakan faktor penting yang mempengaruhi umur simpannya.Vigor dan viabilitas benih tidak selalu dapat dibedakan terutama pada lot-lot yang mengalami kemunduran cepat. Terlepas dari masalah tersebut,beberapa peneliti menunjukkan bahwa lot-lot benih yang mengalami kemunduran cepat mengandung benih yang bervigor rendah dan benih yang masih bervigor. Proses kemunduran benih berlangsung terus dengan semakin lamanya benih disimpan sampai akhirnya semua benih mati. Lot benih yang baru dan vigor mempunyai daya simpan lebih lama dibanding dengan lot benih yang lebih tua yang mungkin sedang mengalami proses kemunduran secara cepat. Semakin lama benih di simpan, maka benih mengalami penurunan viabilitas dan vigornya.
Laju kemunduran vigor dan viabilitas benih tergantung pada beberapa faktor,diantaranya faktor genetik dari spesises atau kultivarnya, kondisi benih, kondisi penyimpanan, keseragaman lot benih serta cendawan gudang, biar kondisi penyimpanannya memungkinkan pertunbuhannya. Penurunan vigor dan viabilitas kadang digambarkan dengan suatu kurva kelansungan hidup sigmoid. Kurva kelansungan hidup benih kering yang disimpan pada kondisi yang menguntungkan dapat dipenggal menjadi 3 bagian yang berbeda. Bagian pertama mewakili benih pada waktu masih vigor dan kemunduran fungsi kehidupannya berlangsung lambat. Bagian ini berakhir pada tingkat daya kecambah 90-75%. Bagian kedua yang kemundurannya berlangsung dengan cepat,bagian kedua ini berlangsung hingga ketingkat 25 hingga 10%. Akhirnya bagian ketiga yang proses kemundurannya menjadi lambat kembali dan berlangsung terus sampai semua benihnya mati.Kurva vigor sangat mirip dengan kurva viabilitas hanya saja kehilangan vigor mendahului kehilangan viabilitas.
Benih mencapai kematangan fisiologis sewaktu terikat dengan tanaman induknya. Pada saat kematangan fisiologis itu benih memiliki viabilitas dan vigor benih yang maksimal, demikian pula dengan berat keringnya. Pertumbuhan tanaman induk yang baik merupakan syarat yang mantap sewaktu kematangan benihnya. Hal inilah yang menjamin tingginya viabilitas dan vigor benih tersebut. Selanjutnya penyakit dan hama, kekurangan air serta kekurangan makanan, baik pada tanaman induk sewaktu pertumbuhan dan perkembangannya atau pada waktu pematangan fisik benih tersebut, faktor yang demikian berpengaruh terhadap tingginya viabilitas dan vigor benih (Kartasapoetra, 2003).
Viabilitas
Daya kecambah (viabilitas) kian meningkat dengan bertambah tuanya biji dan mencapai maximum germination jauh sebelum masak fisiologis atau berat maksimum tercapai. Sampai masak fisiologis tercapai 100% ini konstan. Sesudah itu akan menurun dengan kecepatan yang sesuai dengan keadaan jelek dilapangan (Jurnalis Kamil, 1979).
Vigor dihubungkan dengan bobot benih . Dalam hal ini dihubungkan dengan kekuatan kecambah, kemampuan benih menghasilkan perakaran dan pucuk yang kuat pada kondisi yang tidak menguntungkan serta bebas dari serangan mikroorganisme. Sewaktu benih di tanam bila benih menurun maka kecepatan berkecambah menjadi lemah dan berat kering atau bobot benih saat dikecambahkan menjadi rendah yang nantinya akan menghasilkan panen yang rendah (Oren L.Justice dan Louis N.Bass).
Uji kedalaman tanam tergolong uji kekuatan benih dengan lingkungan sub optimal. Hasil pengujian mempunyai keterkaitan dengan pertumbuhan benih dilapangan yang mengalami pemadatan tanah akibat hujan atau traktor. Berdasarkan pada kondisi lingkungan pengujian viabilitas benih dapat dikelompokkan ke dalam viabilitas benih dalam kondisi lingkungan sesuai (favourable) dan viabilitas benih dalam kondisi lingkungan tidak sesuai (unfavourable). Pengujian viabilitas benih dalam kondisi lingkungan tidak sesuai termasuk kedalam pengujian vigor benih.
Faktor-faktor yang berperan sebagai penyebab tingginya laju penurunan viabilitas benih kedelai selama penyimpanan adalah benih kedelai yang disimpan memiliki vigor awal yang rendah, benih disimpan atau dikemas pada kadar air yang tinggi, kondisi penyimpanan yang lembab dan panas, dan kerusakan beniholeh hama, penyakit terbawa benih dan kerusakan benih secara mekanis (Purwantoro, 2009).
C. PENUTUP
Berdasarkan materi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi produksi benih adalah
1. Faktor Eksternal terdiri dari:
a. Iklim, meliputi
1) Cahaya
2) Suhu
3) Curah Hujan
4) Kelembaban Nisbi
5) Angin
b. Biologis
c. Tanah
2. Faktor Internal terdiri dari
a. Genetika
b. Vigor dan Viabilitas Benih
DAFTAR PUSTAKA
Anonima. 2010. Budidaya dan Produksi Benih Tomat (Lycopersicum esculentum L.). http://sultra.litbang.deptan.go.id (Diakses tanggal 2 September 2010 pukul 06.00 WIB).
Anonimb, 2010. Pengaruh kerapatan terhadap pertumbuhan. Http://Pengaruh kerapatan terhadap pertumbuhan.
Anonimc. 2010. Kelembaban Nisbi yang Mempengaruhi Produksi Benih. http://teknologibenih.blogspot.com.
Anonimd. 2010. Faktor Lingkungan Tanaman. http://justminehortikulture.blogspot.com.
Anonime. 2010. Pengaruh Viabilitas dan vogor benih terhadap produksi benih. www.iptek.tekben.com. Diakses tanggal 2 September 2010.
Ashari,S. 1998. Pengantar Biologi Reproduksi Tanaman. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
Campbell, NA. 2002. Biologi jilid II. Jakata : Erlangga.
Heru, 2009. Hubungan suhu bagi pertumbuhan tanaman. http://hubungan-suhu-bagi-pertumbuhan-tanaman.html. Diakses Tanggal 2 September 2010 pukul 08.50 WIB.
Kamil, J.1982. Teknologi Benih 1. Penerbit Angkasa. Bandung.
Mugnisjah, W. Q., Asep Setiawan. 2004. Produksi Benih. PT Bumi Aksara. Jakarta.
Sanusi, A. 2009. Hubungan Faktor Iklim dengan Pertumbuhan dan Produksi Tanaman. http://sanoesi.wordpress.com (Diakses tanggal 2 September 2010 pukul 06.10 WIB)
Wiraadmaja. 2009. Faktor-faktor mempengaruhi produksi benih padi. www.ilmupertanian.com. Diakses tanggal 2 September 2010
Wurttemberg, HB. 1994. Biology I. Berlin : Cornelson Dpuc
Penanganan benih perlu dilakukan secara khusus dan serius. Kelalaian atau keterlambatan dalam penanganan benih akan menyebabkan daya kecambah menurun atau bahkan benih mati. Penanganan benih mencakup kegiatan pemanenan, pengeringan, pemilahan, pelakuan benih, pengemasan, penyimpanan, dan pengujian. Penanganan benih perlu memperhatikan kelompok benih seperti benih ortodoks atau rekalsitran (benih yang tidak tahan desikasi) atau intermediate (semi-rekalsitran). Melalui cara panen dan penanganan benih yang optimal, mutu fisiologis benih dapat dipertahankan lebih lama (Sukarman dan Maharani Hasanah, 2003). Produksi benih sendiri bisa dengan cara persilangan pada tanaman tersebut. Sama dg produksi biji, tetapi harus memenuhi persyaratan yang ditentukan BPSB yang telah memberi persyaratan untuk kelas benih tertentu.Hal ini sesuai dengan tujuan dari produksi benih adalah :
1. Menyebarkan varietas unggul baru hasil pemuliaan untuk produksi secara komersial
2. Mempertahankan identitas genetik (mengenai kebenaran, kemurnian, dan kemantapan) varietas unggul tersebut
3. Menjaga dan memelihara produktivitas varietas unggul
Produksi benih merupakan salah satu cara untuk mempertahankan atau mewariskan kekuatan (viabilitas, vigor suatu benih) yang dimiliki tetua kepada anaknya. atau menciptakan suatu kekuatan baru yang lebih baik dari yang sudah ada baik dari segi kualitas maupun harga. Benih suatu tanaman atau varietas tanaman tersebut. Sehingga setiap benih harus memiliki kualitas yang baik.
Untuk mendapatkan hasil yang baik dalam produksi benih, kita perlu memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi benih tersebut. Karena selain nutrisi dan budidaya tanaman yang tepat pada suatu tanaman, faktor-faktor ini pun perlu diketahui. Dengan mengetahui faktor-faktor ini maka kita dapat mengetahui pula proses fisiologi suatu tanaman.
B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI BENIH
Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi benih terdiri dari eksternal dan internal. Pertumbuhan tanaman dapat dipengaruhi dalam berbagai cara oleh lingkungan. Kondisi lingkungan yang sesuai selama pertumbuhan akan merangsang tanaman untuk berbunga dan menghasilkan benih. Perubahan tanaman dari fase vegetative (terutama ketika tanaman menghasilkan daun-daun) menjadi fase reproduktif (ketika tanaman menghasilkan kuncup bunga, bunga dan benih) tergantung pada rangsangan eksternal. Kebanyakan spesies tidak akan memasuki fase reproduktif jika pertumbuhan vegetatifnya belum selesai dan belum mencapai tahapan yang matang untuk berbunga. Oleh karena itu terdapat beberapa rangsangan eksternal untuk menyebabkan perubahan itu terjadi. Berikut adalah unsur-unsur eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman:
1. Iklim
a. Cahaya
Cahaya mempunyai pengaruh penting terhadap tanaman yaitu proses fotosintesis dan pembungan. Cahaya merupakan salah satu kunci penentu dalam proses metabolisme dan fotosintesis tanaman. Cahaya dibutuhkan oleh tanaman mulai dari proses perkecambahan biji sampai tanaman dewasa. Respon tanaman terhadap cahaya berbeda-beda antara jenis satu dengan jenis lainnya. Ada tanaman yang tahan (mampu tumbuh) dalam kondisi cahaya yang terbatas atau sering disebut tanaman toleran dan ada tanaman yang tidak mampu tumbuh dalam kondisi cahaya terbatas atau tanaman intoleran.
Kekurangan cahaya pada tumbuhan berakibat pada terganggunya proses metabolisme yang berimplikasi pada tereduksinya laju fotosintesis dan turunnya sintesis karbohidrat. Faktor ini secara langsung mempengaruhi tingkat produktivitas tumbuhan dan ekosistem. Adaptasi terhadap naungan dapat melalui 2 cara: (a) meningkatkan luas daun sebagai upaya mengurangi penggunaan metabolit; contohnya perluasan daun ini menggunakan metabolit yang dialokasikan untuk pertumbuhan akar, (b) mengurangi jumlah cahaya yang ditransmisikan dan direfleksikan. Pada tanaman jagung respon ketika intensitas cahaya berlebihan berupa penggulungan helaian daun untuk memperkecil aktivitas transpirasi. Proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman yang terletak di atas permukaan tanah melewati stomata, lubang kutikula, dan lentisel secara fisiologis mulia berkurang (Heru, 2009).
Cahaya sebagai sumber energi dan terutama untuk vegetasi mempunyai tiga faktor penting, yaitu :
1. Intensitasnya
Intensitas cahaya matahari suatu tempat tergantung dari ketinggian temapt tersebut, semakin tinggi suatu tempat maka semakin rendah suhu tempat tersebut. Demikian juga intensitas matahari semakin berkurang. Suhu dan penyinaran inilah yang nantinya kan digunakan untuk menggolongkan tanaman apa yang sesuai untuk dataran tinggi atau dataran rendah.
Tanaman berbuahan yang ditanam di dataran rendah berbunga lebih awal dibandingkan dengan yang ditanam pada dataran tinggi. Sedangkan dalam perkeambahan cahaya berperan sebagai faktor pengontrol perkecambahan. Secara alami suatu biji yang sudah masak makan terlepas dari pohonya dan jatuh ke tanah dan berkecambah dalam kondisi yang berbeda-beda. Kebanyakan biji-biji atau benih akan berkecambah dengan cahaya maupun tanpa cahaya. Pemberian cahaya pada benih dengan cahaya merah akan merubah Fm dalam biji menjadi Fim dan benih akan berkecambah dengan cepat. Berbeda dengan pengaruh intensitas radiasi yang terkait fotosintesis yaitu ketika klofofil memegang peranan penting karena di dalam kualitas radiasi matahari fitokrom merupakan senyawa yang menentukan sifat morfogenetik tanaman. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui alasan mengapa biji gulma tidak dapat berkecambah jika kanopi tanaman menutupi sempurna.
2. Kualitasnya
Cahaya matahari yang sampai pada tajuk atau kanopi tanaman tidak semuanya dapat dimanfaatkan, sebagian dari cahaya tersebut diserap, sebagian ditransmisikan, atau bahkan dipantulkan kembali. Kualitas cahaya matahari ditentukan oleh proporsi relatif panjang gelombangnya, selain itu kualitas cahaya tidak selalu konstan namun bervariasi dari musim ke musim, lokasi geografis serta perubahan komposisi udara di atmosfer.
Pengertian cahaya berkaitan dengan radiasi yang terlihat (visible) oleh mata, dan hanya sebagian kecil saja yang diterima dari radiasi total matahari. Radiasi matahari terbagi dua, yaitu yang bergelombang panjang (long wave radiation) dan yang bergelombang pendek (short wave radiation). Batas terakhir dari radiasi gelombang pendek adalah radiasi ultraviolet, sedangkan batas akhir radiasi gelombang panjang adalah sinar inframerah. Radiasi dengan panjang gelombang antara 400 hingga 700 um adalah yang digunakan untuk proses fotosintesis.
Cahaya matahari yang sampai ke bumi hanya sebagian saja, selebihnya cahaya tersebut tersaring oleh beberapa komponen atmosfer atau dipantulkan kembali ke angkasa luar. Cahaya matahari gelombang pendek tersaring dan diserap oleh lapisan ozon (O3) di atmosfer, sedangkan cahaya gelombang panjang tersaring oleh uap air di udara, cahaya gelombang panjang lainnya dipecahkan/dipencarkan dan dipantulkan oleh awan dan lapisan debu di atas permukaan bumi.
Pengaruh kualitas cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman telah banyak diselidiki, dimana diketahui bahwa spektrum yang nampak (visible) diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Apabila tanaman ditumbuhkan pada cahaya biru saja daunnya akan berkembang secara normal, namun batangnya akan menunjukkan tanda-tanda terhambat pertumbuhannya. Apabila tanaman ditumbuhkan pada cahaya kuning saja, cabang-cabangnya akan berkembang tinggi dan kurus dengan buku (internode) yang panjang dan daunnya kecil-kecil. Dari penelitian tersebut telah membuktikan bahwa cahaya biru dan merah memegang peranan penting untuk berlangsungnya proses fotosintesis.
3. Fotoperiodesitasnya
Seperti halnya faktor temperatur, cahaya bervariasi dalam intensitas dan lama waktu ber-cahaya. Di daerah tropis dengan intensitas yang tinggi fotooksidasi lebih kecil dibandingkan di daerah sedang karena itu foto respirasinya cepat. Hal ini mengakibatkan sintesis protein berkurang (Campbell, NA. 2002).
Kita ketahui bahwa panjang gelombang distribusinya dari pagi-sore berbeda. Pada pagi hari kebanyakan panjang gelombang pendek dan semakin sore panjang gelombang pendek berkurang dan panjang gelombang panjang bertambah. Oleh karena itu fotosintesis paling efektif sesudah siang hari (Anonimb, 2010).
Fotoperiodisitas yaitu panjangnya penyinaran matahari pada siang hari. Biasanya dari daerah tropik semakin ke kutub panjang penyinaran matahari semakin panjang. Dalam hal ini kita mengenal tanaman hari panjang, dan tanaman hari pendek.
a. Tanaman hari panjang : Tanaman yang baik hidupnya pada suatu daerah maupun untuk ke fase generatif memerlukan panjang hari penyinaran kurang dari 12 jam.
b. Tanaman hari pendek : Tanaman yang baik hidupnya pada suatu daerah maupun untuk ke fase generatif memerlukan panjang hari penyinaran kurang dari 12 jam.
Kini terdapat penggolongan tambahan sebanyak empat jebi, yaitu tanaman yang berhari panjang-pendek (long short-day, yang memerlukan hari panjang sebelum hari pendek), tanaman berhari pendek-panjang (short long day, yang memerlukan hari pendek sebelum hai panjang), stenofotoperiodik (yang memerlukan panjang hari medium) dan amfifotoperiodik (yang memerlukan hari panjang atau hari pendek tetapi bukan hari medium) (Mugnisjah, 2004).
Kelompok Tnm hari pendek Tnm hari panjang Tnm hari netral
Sayuran kentang, ketela rambat kacang-kacangan bayam, lobak, selada tomat, lombok, okra
Buah strawberry - strawberry
Bunga chrysanthemum, Cosmos bouvardia, Stevia poinsetia China aster, gardenia, delphinium Carnation, dianthus, Violet cyclamon
Sumber:http://justminehortikulture.blogspot.com
Meskipun sejumlah spesies terbukti tidak peka terhadap faktor panjang penyinaran tetapi hal ini menentukan apakah tanaman-tanaman tersebut hanya dapat membentuk bagian-bagian vegetatif saja. Di dalam tanaman hari pendek panjnagnya penyinaran merupakan faktor pembatas yang berakibat membentuk bagian-bagian vegetatif yang bersifat gigas (besar) sedang pembungaannya dikekang. Tanaman hari panjang jika tanaman pada daerah yang panjang penyinarannya lebih pendek akan menunjukkan pertumbuhan internodia yang lebih pendek dan cenderung membentuk roset dan pembungaan tanaman hari panjang ini akan dikekang (Anonimb, 2010).
Cahaya dalam hubungannya dengan proses pertumbuhan tanaman dapat mempunyai beberapa macam kegunaan antara lain :
a. Fotosintesis
b. Cahaya dalam hubungannya dengan klasifikasi tanaman
c. Sejumlah peristiwa yang terjadi dalam tubuh tanaman. Misalnya, sintesis khlorofil, kelakuan stomata dan sebagainya
d. Transpirasi
Tanaman-tanaman dapat dibagi sesuai dengan kebutuhan cahaya di dalam proses hidupnya menjadi :
a. Heliophytes
Tanaman yang termasuk Heliophytes adalah tanaman-tanaman yang dapat hidup baik pada keadaan yang penuh dengan sinar matahari.
b. Sciophytes
Adalah tanaman-tanaman yang dapat hidup baik pada intensitas cahaya yang lebih rendah.
1) Fakultatif Sciophytes
Adalah tanaman yang dapat hidup baik, baik pada keadaan penuh sinar matahari maupun pada keadaan teduh.
2) Obligativ sciophytes
Adalah tanaman-tanaman yang dapat hidup baik tanpa sinar matahari yang intensif.
Kebanyakan tanaman yang termasuk tanaman air, Ipomea repens, terate dan sebagainya, faktor cahaya tidak merupakan faktor yang membatasi dalam proses hidupnya. Tetapi pada tanaman-tanaman darat adanya faktor-faktor lain selain cahaya, misalnya temperatur dan lembab relatif dapat mengadakan suatu pengaruh bersamaan terhadap proses hidupnya. Dengan demikian pengaruh tunggal cahaya tak dapat diketahui dengan pasti. Dengan penyelidikan didapat kenyataan bahwa kerusakan seedlings biasanya disebabkan karena faktor keteduhan dan lebih sedikit disebabkan oleh faktor cahaya. Pada tanaman aciophytes membutuhkan cahaya yang lebih rendah daripada heliophytes. Sebagai perbandingan adalah jika pada situasi yang sama heliophytes tahan pada intensitas 4.200 lux dan pada sciophytes pada 27 lux (Anonimb, 2010).
Panjang hari dilaporkan berkorelasi positif dengan nisbah bunga jantan/betina dalam tanaman berhari pendek Heteropogon contortus. Hal ini sehubungan dengan sistem pemuliaan tanaman yang bersangkutan menurut pergeseran latitude dari tempat menumbuhkannya. Lamanya fotoperiode kritikal dapat berubah oleh kondisi suhu. Dalam tanaman berhari pendek, suhu rendah dapat memperpanjang fotoperiode kritikal sehingga membatasi pembungaan(Mugnisjah, 2004).
b. Suhu
Suhu berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif, induksi bunga, pertumbuhan dan differensiasi perbungaan (inflorescence), mekar bunga, munculnya serbuk sari, pembentukan benih dan pemasakan benih. Tanaman tropis tidak memerlukan keperluan vernalisasi sebelum rangsangan fotoperiode terhadap pembungaan menjadi efektif. Tetapi, pengaruh suhu terhadap induksi bunga cukup kompleks dan bervariasi tergantung pada tanggap tanaman terhadap fotoperiode yang berbeda. Suhu malam yang tinggi mencegah atau memperlambat pembungaan dalam beberapa tanaman (Anonimb, 2010).
Cekaman suhu terhadap makhluk hidup bersifat spesifik. Tidak ada batas suhu terendah bagi kelangsungan hidup spora, biji dan bahkan lumut kerak dan lumut daun tertentu pada kondisi kering. Batas suhu terendah untuk bertahan hidup pada keadaan yang lebih normal sangat tergantung pada spesies dan sejauh mana jaringan telah diadaptasikan terhadap embun es. Tumbuhan yang sedang tumbuh aktif sering dapat bertahan hidup hanya pada beberapa derajat di bawah 0°C, sedangkan banyak yang dapat bertahan pada sekitar – 40°C. Beberapa tumbuhan tinggi dapat tumbuh dan berbunga di bawah salju.
Suhu rendah merupakan faktor pembatas terpenting bagi persebaran tumbuhan. Tumbuhan mengalami penciutan pada saat pembekuan karena kristal es memasuki ruang udara di luar sel dan di dalam sel hidup dapat terjadi pembekuan es secara alami. Selain itu, aktivitas enzim pada suhu rendah terganggu sehingga terjadi ketidakseimbangan metabolisme dalam sel.
Pada kondisi suhu tinggi yang ekstrem, enzim dapat mengalami denaturasi dan pemutusan asam nukleat pada sebagian besar organisme. Sifat merusak pada tumbuhan terutama pada fungsi fotosintesis yang tidak terjadi karena fotosistem yang peka terhadap panas. Dengan demikian, faktor suhu sangat menentukan penyebaran tumbuhan dalam biosfer (Anonimb, 2010).
Sebagai contoh, padi hirida memerlukan suhu harian 20-30oC untuk proses produksinya. Tomat tumbuh baik pada temperatur 20-27°C, pembentukan buah terhambat pada temperatur >30°C atau <10°C (Anonima, 2010).
c. Curah Hujan
Curah hujan secara langsung atau tidak langsung penting untuk pengaturan waktu dan ruang dalam pembentukan bunga dan buah pada tumbuhan tropis. Kepentingan tanaman terhadap besarnya curah hujan sudah dirasakan sejak panen. Adapun titik yang kritis adalah saat pembungaan. Apabila saat pembungaan banyak hujan turun, maka proses pembungaan akan terganggu. Tepung sari menjadi busuk dan tidak mempunyai viabilitas lagi. Kepala putik dapat busuk karena kelembaban yang tinggi (Sanusi, 2009).
Tipe Iklim
(jumlah bulan basah) Jumlah bulan kering Jenis bebuahan yang sesuai
9,10-12,11, 11-12,12 0 Gandaria,kapulasan,kemang,kesemek
9
8
7
6 3
0-3
0-4
4-5 Duku,durian,mundu,papaya,pisang
Rambutan
Lebih dari 4 bulan Jambu biji,jambu monyet,nangka pepaya.
Sumber: Ashari,S.1998
Selain itu,aktivitas serangga penyerbuk juga berkurang saat kelembaban tinggi.apabila terjadi kerusakan pada tepung sari dan kepala puti berarti penyerbukan telah gagal. Hal ini juga berarti bahwa pembuahan dan selanjutnya,panen, telah gagal dan harus menunggu tahun berikutnya. Pada tanaman padi tidak memerlukan hujan selama masa berbunga. Sehingga terjadi produksi benih pada tanaman padi.
d. Kelembaban Nisbi
Kelembaban udara menggambarkan kandungan uap air di udara yang dapat dinyatakan sebagai kelembaban mutlak, kelembaban nisbi (relatif) maupun defisit tekanan uap air. Kelembaban nisbi membandingkan antara kandungan/tekanan uap air aktual dengan keadaan jenuhnya atau apda kapasitas udara untuk menampung uap air
Kelembaban nisbi (relative humidity), yaitu perbandingan antara jumlah uap air yang sebenarnya terhadap jumlah uap air yang maksimal dapat dikandung pada suhu dan tekanan itu. Perbandingan dinyatakan dalam persen (%) (Anonimc, 2010). RH mempengaruhi kadar air benih, dan kadar air benih mempengaruhi mempengaruhi respirasi benih
RH lingkungan dipengaruhi oleh suhu (T) lingkungan
RH dan T saling berkaitan dan mempengaruhi kemunduran benih:
a. Setiap penurunan kadar air 1% menggandakan masa hidup dua kali, dan
b. Setiap penurunan suhu ruang simpan 5oC akan menggandakan masa hidup benih dua kali.
Pengaruh kelembaban nisbi ternyata berinteraksi dengan pengaruh suhu terhadap perkecambahan serbuk sari. Kelembaban nisbi atmosfer juga berpengaruh juga terhadap populasi serangga dan pathogen. Disamping itu, rontok benih berkorelasi negative dengan kelembaban nisbi, karenanya, kelembaban nisbi yang rendah dapat menyebabkan kehilangan benih sebelum panen (Mugnisjah, 2004). Sebagai contoh, padi hirida memerlukan kelembaban relatif 80% untuk proses produksinya. Interaksi antara bahan penghambat pertumbuhan, kelemababan nisbi dan periode simpan berpengaruh pada tumbuh serempak benih tersebut.
e. Angin
Angin sebenarnya dapat bersifat menguntungkan serta merugikan dalam usaha produksi benih yang dihasilkan, hal ini tergantung pada kencang tidaknya angin. Angin yang terlalu kencang dalam peredarannya akan mengakibatkan beberapa masalah seperti akan banyaknya air yang hilang baik pada tanaman maupun permukaan tanah. Sedangkan angin yang terlalu kencang akan bermanfaat dalam penyebaran serbuk sari sehingga akan terjadi penyerbukan yang dibantu oleh angin. Namun dalam proses menjelang pemanenan benih, benih yang telah terbentuk akibat penyerbukan angin perlu dilakukan pengeringan terlebih dahulu, agar air yang terbawa oleh angin tidak mengurangi kualitas benih yang dihasilkan.
Pada saat penyebaran serbuk sari dengan adanya bantuan angin sangat diharapkan akan menghasilkan produksi benih yang lebih bervariasai sehingga akan mendapatkan varietas tanaman yang lebih beraneka ragam. Agar dalam penyebaranya pun tidak akan merugikan sehingga menghasilkan benih yang kurang baik maka dalam menghasilkan benih yang bermutu ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu memperhatikan cuaca yang terjadi, suhu udara karena jika suhu udara lembab dengan angin yang ada maka akan mengakibatkan angin membawa kandungan air di dalamnya. Sehingga jika terdapat kandungan air dalam angin akan mengakibatkan benih yang dihasilkan juga terdapat kandungan airnya dan itu akan mengakibatkan kualitas benih menurun karena benih tidak murni.
2. Biologis
Untuk biologis disini, kita artikan adalah serangga baik yang merugikan maupun yang menguntungkan. Aktivitas ini diharapkan berlangsung di lahan produksi benih yang tergantung pada serangga untuk penyerbukannya. Sebagai contoh, produksi benih Desmodium uncinatum sangat tergantung pada aktivitas lebah. Lebah yang lebih banyak harus didatangkan ke dalam pertanaman yang memerlukan untuk penyerbukan, jika kerapatan lebah menjelang tengah hari pada hari yang sangat cerah adalah rendah. Perhatian harus diberikan untuk mengurangi kompetisi pasokan makanan, misalnya dengan memindahkan atau menghilangkan bunga dari pohon, perdu atau tanaman lainnya yang berbunga puncak pada waktu yang sama dengan pertanaman untuk menghasilkan benih. Sebaliknya, untuk mempertahankan populasi lebah yang tinggi, pasokan makanan alternative juga perlu ditingkatkan jika pertanaman untuk menghasilkan benih tidak berbunga lebat (Mugnisjah, 2004).
Serangga terutama lebah, tidak akan bekerja dengan baik dalam kondisi cuaca yang sangat basah (Sanusi, 2009). Tempat untuk pertanaman benih karenanya harus dipilih yang dapat menjamin penyerbukan berlangsung dengan optimum. angin yang terlalu cepat tidak disenangi lebah penyerbuk sehingga dapat berakibat pada rendahnya hasil pula.
Resistensi terhadap hama merupakan faktor umum untuk dapat menghasilkan produksi yang maksimum. Jika tanaman memiliki kemampuan berproduksi tinggi, namun tidak disertai dengan mekanisme resistensi terhadap hama, maka jika terjadi serangan hama, tanaman tersebut tidak mampu berproduksi secara maksimum. Kualitas produksi juga yang diserang juga dapat diserang oleh bermacam-macam hama.
3. Tanah
Tanah yang dapat meningkatkan produksi benih adalah tanah yang subur. Tanah yang subur disini diartikan sebagai tanah yang memiliki sifat fisika, kimia maupun biologi yang mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman sehingga menghasilkan benih yang bermutu dan optimum. Sehingga tanah tersebut bukanlah tanah yang asam maupun basa, memiliki drainase baik agar terhindar dari rendaman air tetapi cukup menyimpan air agar tidak kekeringan. Tanah yang demikian banyak berasal dari tanah alluvial. Pokok-pokok dari faktor tanah meliputi : 1) Sejumlah air yang tersedia didalam tanah, 2) Jarak yang ditempuh pergerakan air yang tersedia, 3) Kecepatan pergerakan air yang tersedia 4) Oksigen yang tersedia didalam tanah.
Dalam iklim yang dingin, tanah yang berat lambat menghangat pada awal musim, dan hal ini dapat menangguhkan pertumbuhan awal dan pemasakannya berikutnya. Sebagai contoh, tomat baik ditanam pada tanah yang berdrainase baik, dengan pH optimum 6.0 -7.0 pada kondisi pengapuran. Persiapan tanah dan pemupukan hampir sama dengan untuk produksi buah, atau lebih tinggi terutama kandungan phosfor. Pemberian N biasanya setengah dari pemberian kalium untuk memelihara keseimbangan antara pembungaan dan pertumbuhan vegetative (Anonima, 2010).
Faktor internal meliputi:
1. Genetik
Faktor genetik yaitu varietas-varietas yang mempunyai genotipe baik seperti produksi tinggi, tahan terhadap hama penyakit, responsive terhadap kondisi pertumbuhan yang lebih baik. Genetik pada kali ini yang akan dibahas adalah tentang kualitas genetik itu sendiri. Hal ini disebabkan, dengan mengetahui kualitas genetik maka dapat menghasilkan genetik varietas yang diinginkan. Kualitas genetik adalah suatu tingkatan di mana suatu lot benih mewakili keragaman genetik dari sumber benih yang dipilih. Keragaman genetik mungkin lebar ataupun sempit tergantung pada tujuan penanaman.
Pada biji, biasanya embrio terbentuk setelah proses pembuahan sel telur oleh sel jantan. Sel jantan dan sel betina masing-masing memberikan satu set kromosom atau inti DNA. Betina dan jantan masing-masing memberikan sitoplasma yang mengandung organel yang memiliki sistim genetiknya sendiri khususnya mitokondria dan plastida. Kloroplast (Chloroplast) DNA pada tanaman angiosperma biasanya diturunkan melalui sel induknya, sementara dalam jenis tanaman daun jarum (coniferous) khususnya diturunkan oleh sel jantan.
Pada beberapa biji tanaman daun jarum (conifrous) dimana pembuahan tidak terjadi sampai benih tumbuh mencapai ukuran penuh, sifat benih yang paling penting berkembang sesuai dengan tanaman induk dan keadaan lingkungan. Pada kebanyakan biji angiosperma dimana embrio berkembang bersamaan dengan struktur lainnya sel jantan asing pasti akan berpengaruh. Sebagai contoh pada tanaman jati (Tectona grandis) pembuahan sendiri menghasilkan buah yang lebih kecil daripada pembuahan silang (crossing). Pada angiosperm kemungkinan keadaannya lebih rumit dari pada conifers.
Adanya perbedaan masa hidup benih yang diturunkan pada turunannya tidak terbatas hanya pada tingkat spesies saja, namun juga dijumpai pada tingkat kultivar. Pada penelitian yang membandingkan masa hidup beberapa kultivar dari spesies yang sama menunjukkan adanya perbedaan masa hidup yang nyata. Pada penelitian terhadap delapan kultivar kedelai, Burgess (1938) menemukan adanya perbedaan pada daya kecambah setelah empat tahun disimpan, yakni dari 21 hingga 99 %, padahal sewaktu disimpan lima bulan daya kecambahnya berkisar antara 95 sampai 99 %.
2. Vigor dan Viabilitas
Vigor benih sewaktu disimpan merupakan faktor penting yang mempengaruhi umur simpannya.Vigor dan viabilitas benih tidak selalu dapat dibedakan terutama pada lot-lot yang mengalami kemunduran cepat. Terlepas dari masalah tersebut,beberapa peneliti menunjukkan bahwa lot-lot benih yang mengalami kemunduran cepat mengandung benih yang bervigor rendah dan benih yang masih bervigor. Proses kemunduran benih berlangsung terus dengan semakin lamanya benih disimpan sampai akhirnya semua benih mati. Lot benih yang baru dan vigor mempunyai daya simpan lebih lama dibanding dengan lot benih yang lebih tua yang mungkin sedang mengalami proses kemunduran secara cepat. Semakin lama benih di simpan, maka benih mengalami penurunan viabilitas dan vigornya.
Laju kemunduran vigor dan viabilitas benih tergantung pada beberapa faktor,diantaranya faktor genetik dari spesises atau kultivarnya, kondisi benih, kondisi penyimpanan, keseragaman lot benih serta cendawan gudang, biar kondisi penyimpanannya memungkinkan pertunbuhannya. Penurunan vigor dan viabilitas kadang digambarkan dengan suatu kurva kelansungan hidup sigmoid. Kurva kelansungan hidup benih kering yang disimpan pada kondisi yang menguntungkan dapat dipenggal menjadi 3 bagian yang berbeda. Bagian pertama mewakili benih pada waktu masih vigor dan kemunduran fungsi kehidupannya berlangsung lambat. Bagian ini berakhir pada tingkat daya kecambah 90-75%. Bagian kedua yang kemundurannya berlangsung dengan cepat,bagian kedua ini berlangsung hingga ketingkat 25 hingga 10%. Akhirnya bagian ketiga yang proses kemundurannya menjadi lambat kembali dan berlangsung terus sampai semua benihnya mati.Kurva vigor sangat mirip dengan kurva viabilitas hanya saja kehilangan vigor mendahului kehilangan viabilitas.
Benih mencapai kematangan fisiologis sewaktu terikat dengan tanaman induknya. Pada saat kematangan fisiologis itu benih memiliki viabilitas dan vigor benih yang maksimal, demikian pula dengan berat keringnya. Pertumbuhan tanaman induk yang baik merupakan syarat yang mantap sewaktu kematangan benihnya. Hal inilah yang menjamin tingginya viabilitas dan vigor benih tersebut. Selanjutnya penyakit dan hama, kekurangan air serta kekurangan makanan, baik pada tanaman induk sewaktu pertumbuhan dan perkembangannya atau pada waktu pematangan fisik benih tersebut, faktor yang demikian berpengaruh terhadap tingginya viabilitas dan vigor benih (Kartasapoetra, 2003).
Viabilitas
Daya kecambah (viabilitas) kian meningkat dengan bertambah tuanya biji dan mencapai maximum germination jauh sebelum masak fisiologis atau berat maksimum tercapai. Sampai masak fisiologis tercapai 100% ini konstan. Sesudah itu akan menurun dengan kecepatan yang sesuai dengan keadaan jelek dilapangan (Jurnalis Kamil, 1979).
Vigor dihubungkan dengan bobot benih . Dalam hal ini dihubungkan dengan kekuatan kecambah, kemampuan benih menghasilkan perakaran dan pucuk yang kuat pada kondisi yang tidak menguntungkan serta bebas dari serangan mikroorganisme. Sewaktu benih di tanam bila benih menurun maka kecepatan berkecambah menjadi lemah dan berat kering atau bobot benih saat dikecambahkan menjadi rendah yang nantinya akan menghasilkan panen yang rendah (Oren L.Justice dan Louis N.Bass).
Uji kedalaman tanam tergolong uji kekuatan benih dengan lingkungan sub optimal. Hasil pengujian mempunyai keterkaitan dengan pertumbuhan benih dilapangan yang mengalami pemadatan tanah akibat hujan atau traktor. Berdasarkan pada kondisi lingkungan pengujian viabilitas benih dapat dikelompokkan ke dalam viabilitas benih dalam kondisi lingkungan sesuai (favourable) dan viabilitas benih dalam kondisi lingkungan tidak sesuai (unfavourable). Pengujian viabilitas benih dalam kondisi lingkungan tidak sesuai termasuk kedalam pengujian vigor benih.
Faktor-faktor yang berperan sebagai penyebab tingginya laju penurunan viabilitas benih kedelai selama penyimpanan adalah benih kedelai yang disimpan memiliki vigor awal yang rendah, benih disimpan atau dikemas pada kadar air yang tinggi, kondisi penyimpanan yang lembab dan panas, dan kerusakan beniholeh hama, penyakit terbawa benih dan kerusakan benih secara mekanis (Purwantoro, 2009).
C. PENUTUP
Berdasarkan materi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi produksi benih adalah
1. Faktor Eksternal terdiri dari:
a. Iklim, meliputi
1) Cahaya
2) Suhu
3) Curah Hujan
4) Kelembaban Nisbi
5) Angin
b. Biologis
c. Tanah
2. Faktor Internal terdiri dari
a. Genetika
b. Vigor dan Viabilitas Benih
DAFTAR PUSTAKA
Anonima. 2010. Budidaya dan Produksi Benih Tomat (Lycopersicum esculentum L.). http://sultra.litbang.deptan.go.id (Diakses tanggal 2 September 2010 pukul 06.00 WIB).
Anonimb, 2010. Pengaruh kerapatan terhadap pertumbuhan. Http://Pengaruh kerapatan terhadap pertumbuhan.
Anonimc. 2010. Kelembaban Nisbi yang Mempengaruhi Produksi Benih. http://teknologibenih.blogspot.com.
Anonimd. 2010. Faktor Lingkungan Tanaman. http://justminehortikulture.blogspot.com.
Anonime. 2010. Pengaruh Viabilitas dan vogor benih terhadap produksi benih. www.iptek.tekben.com. Diakses tanggal 2 September 2010.
Ashari,S. 1998. Pengantar Biologi Reproduksi Tanaman. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
Campbell, NA. 2002. Biologi jilid II. Jakata : Erlangga.
Heru, 2009. Hubungan suhu bagi pertumbuhan tanaman. http://hubungan-suhu-bagi-pertumbuhan-tanaman.html. Diakses Tanggal 2 September 2010 pukul 08.50 WIB.
Kamil, J.1982. Teknologi Benih 1. Penerbit Angkasa. Bandung.
Mugnisjah, W. Q., Asep Setiawan. 2004. Produksi Benih. PT Bumi Aksara. Jakarta.
Sanusi, A. 2009. Hubungan Faktor Iklim dengan Pertumbuhan dan Produksi Tanaman. http://sanoesi.wordpress.com (Diakses tanggal 2 September 2010 pukul 06.10 WIB)
Wiraadmaja. 2009. Faktor-faktor mempengaruhi produksi benih padi. www.ilmupertanian.com. Diakses tanggal 2 September 2010
Wurttemberg, HB. 1994. Biology I. Berlin : Cornelson Dpuc
Langganan:
Postingan (Atom)